Jatim Tambah Lahan Kakao Hingga 5.000 Hektare

Ilustrasi

Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam rentang dua tahun (2011-2012) akan menambah areal tanam komoditas kakao sebanyak 5.000 hektar guna menaikkan produksi komoditas ekspor itu dari 35.000 ton per tahun menjadi 40.000 ton pertahun.

Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Syamsul Arifin mengatakan pihaknya memang berkepentingan untuk mendorong pengembangan lahan bagi areal tanam kakao di Jatim.

“Langkah ini dilakukan mengingat kini posisi Indonesia telah menempati urutan kedua setelah Pantai Gading pada 2010. Padahal beberapa tahun sebelumnya masih diurutan ketiga dan keempat sesudah Ghana. Produksi Indonesia naik signifikan dari 650.000 ton pada 2009 menjadi 850.000 ton pada 2010,” kata Syamsul kepada wartawan.

Peluang pasar ekspor kakao, kata dia, masih relatif besar sehingga Jatim sebagai salah satu wilayah penghasil kakao nasional perlu meningkatkan areal lahan agar dapat memacu produksi.

“Dari total produksi kakao nasional 850.000 ton, Jatim menyumbang 35.000 ton atau sekitar 4%-nya. Dalam rentang dua tahun [2011-2012] telah terselesaikan proses pengembangan 5.000 hektare itu sehingga produksinya bisa naik jadi 40.000 ton,” tegasnya.

Syamsul menerangkan recana pengembangan lahan itu di fokuskan di wilayah selatan Jatim.

“Rencananya, pengembangan dilakukan di Kabupaten Pacitan, Kab. Trenggalek, Kab. Tulungagung, Kab. Blitar, Kab. Malang, Kab. Lumajang, dan Kab. Banyuwangi

Dia menerangkan upaya pengembangan kakao di psesisir selatan Jatim ini dilakukan guna meningkatkan hasil produki kakao Jatim yang sempat mengalami penurunan.
“Ingat, kebutuhan kakao dunia per tahun bisa mencapai 6,7 juta ton dan baru bisa terpenuhi 2,5 juta ton. Artinya, masih kurang 4 juta ton lebih untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat, sehingga ini tetap dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk bisa terus meningkatkan hasil produksi.”

Data yang dihimpun Bisnis, potensi kakao Indonesia, mayoritas banyak dihasilkan dari daerah Sulawesi, Sumatera dan Jawa.

Khusus di Jawa produksi tertinggi dari Jatim. Ini karena di Jateng gagal mengembangkan kakao, seperti di Gunung Kidul dan di Jabar tak mengembangkan kakao.

Tingkat produktivitas kakao di Jatim, satu hektar mencapai satu ton biji kakao. bisnis.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2020. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim