’Jatim Kini Jadi Barometer Pertumbuhan Ekonomi Nasional’

ilustrasi

Gubernur Jawa Timur (Jatim) Soekarwo membantah kinerjanya dianggap memble alias tidak maksimal selama empat tahun memimpin Jatim. Dia mengklaim kalau Jatim sudah menjadi barometer pertumbuhan ekonomi nasional karena pertumbuhannya mencapai 7,2 persen.

“Bank dunia menyampaikan kalau pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur tertinggi, disparitas mengecil dan warga miskin makin kecil,” kata Gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo itu di Grahadi.

Dia mengatakan, infrastuktur di Jatim termasuk sarana jalan paling baik dibanding wilayah lainnya. Kondisi itu mengakibatkan disparitas wilayah di Jatim sudah semakin mengecil. “Pelayanan jalan kita itu number one di Jawa Timur, memang jelek tetapi dibanding lainnya paling bagus. Rangking insfrastuktur kita paling baik, sekarang ini yang menjadi pusat kota tidak hanya Gerbangkertasusila (Gersik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya dan Lamongan) saja tetapi sudah menyebar,” tegasnya.

Sekadar diketahui, dari 1.760,91 km total jalan milik Pemprov kondisinya baik. Sisanya, 1.037,75 km dalam kondisi sedang, 335,81 km rusak, dan 48,83 km rusak berat.

Dia mengatakan, tingginya angka pertumbuhan ekonomi itulah yang mendorong iklim investasi berjalan kondusif. Pasalnya, margin keuntungan yang diperkirakan diraih oleh investor pun cukup tinggi mencapai 20 persen. “Secara pertumbuhan ekonomi juga tinggi, jadi marginnya juga tinggi dis amping itu problem sosialnya lebih solutif,” tegasnya lagi.

Di samping itu, jumlah kelas menengah di Jatim mengalami kenaikan seiring dengan tingginya pertumbuhan ekonomi. ”Pada tahun 2011 kelas menengah kita naik menjadi 21 persen sehingga oleh bank dunia pertumbuhannya dikatakan inklusif,” terangnya.

Sementara, Kepala Bagian Media Pemprov Jatim, Anom Surahno mengatakan, angka penurunan kemiskinan di Jatim sudah cukup tinggi. Meski jumlah penduduk miskin di Jatim cukup tinggi, tetapi penurunan angka kemiskinan ketika pemerintahan Soekarwo cukup signifikan. “Penurunan angka kemiskinan di Jawa Timur tertinggi, kalau dilihat dari prosentasenya,” tegasnya.

Dia menjelaskan, pihaknya juga sudah berupaya meningkatkan kualitas guru dengan menyekolahkan sepuluh ribu orang guru Madrasah Diniyah –setingkat SD– sampai jenjang Srata Satu (S1). Tiap tahunnya, sebanyak 1.500 ustadz Madrasah Diniyah disekolahkan. Hingga saat ini sekitar 4.350 pengajar Madrasah Diniyah sudah lulus sarjana, sebanyak 4.670 lainnya belum lulus. surabaya poast online

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim