Petani Tembakau Cerutu Kecewa Harga Merosot

ilustrasi: kompas.com

Petani tembakau untuk bahan cerutu jenis besuki naa oogst di Jember, Jawa Timur, merasa dipermainkan pedagang atau pembeli karena hasil produksinya kurang dihargai.

Dua pekan lalu, tembakau kualitas dekblaad (pembalut luar) dan omblaad (pembungkus dalam) masih dihargai Rp 6 juta-Rp 7 juta per kuintal. Namun, sekarang harganya merosot sampai pada tingkat paling rendah, yakni sekitar Rp 3,5 juta per kuintal.

Padahal, kualitas tembakau hasil panen belakangan ini lebih bagus dibandingkan dengan yang pertama. Dari sekitar 3.500 hektar luas area tanaman tembakau se-Jember, yang sudah dipanen paling hanya separuhnya.

Kalau sudah anjlok, harga tembakau sulit naik kembali. Ini yang dirasakan petani sejak bertahun-tahun, kata Abd Kadir, petani tembakau di Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, Jember. Akibatnya, separuh tembakau yang diproduksi tahun ini bakal dihargai sangat rendah.

Petani berharap harga bisa tetap bertahan seperti dua pekan lalu. Selama dua tahun, petani tembakau belum pernah menikmati untung, bahkan rugi sebagai akibat dari anomali iklim sehingga gagal tanam dan gagal panen.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Naa Oogst Abd Halim Hamam mendesak agar segera diadakan nota kesepahaman antara petani dan eksportir guna menetapkan kesepakatan harga sesuai dengan kualitas. Pertemuan kesepakatan harga ini biasanya difasilitasi oleh pemerintah daerah sebagai lembaga independen.

“Kami mendesak pemerintah untuk segera mengadakan (pertemuan) supaya petani terlindungi oleh ulah pedagang spekulan. Sebab, petani dengan pemilikan lahan sempit tidak punya akses berhubungan langsung dengan eksportir. Akibatnya, mereka menjual tembakaunya kepada pedagang perantara, spekulan, atau belandang,” kata Abd Halim.

Ketua Asosiasi Tembakau Indonesia Jember Kuntjoro mengatakan, kalau kualitas tembakau yang dihasilkan memenuhi standar, petani akan menikmati harga lebih baik. Saat ini, eksportir butuh banyak tembakau guna memenuhi permintaan pasar luar negeri.

Indonesia merupakan produsen tembakau cerutu terbesar, yaitu menguasai 34 pasar persen pasar dunia. Permintaan pasar ekspor tembakau besuki naa oogst tetap stabil dan cenderung meningkat setelah pasar baru di Asia dan domestik dibuka.

Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Jember Totok Hariyanto mengaku telah menjadwalkan pertemuan wakil petani dengan eksportir untuk menetapkan harga. Pertemuan akan dilaksanakan segera sesuai rencana, yaitu setelah Lebaran. kompas.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim