Pemerintah Harus Intervensi Harga Susu

ilustrasi: MICOM

Ketua Dewan Persusuan Nasional Teguh Boediyana mengemukakan, pemerintah harus melakukan intervensi terhadap penentuan harga susu dari peternak yang dijual ke pabrik karena hingga saat ini peternak tak pernah mendapatkan perlindungan.

“Sampai sekarang peternak sapi perah yang berskala kecil tak pernah mendapatkan perlindungan apa-apa dari pemerintah, sehingga keberadaannya semakin lama semakin termarginalkan,” tegas Teguh disela-sela Rakornas Dekopin di Batu, Jawa Timur.

Menurut dia, peternak sapi perah skala kecil sudah terlalu lama termarginalisasi, bahkan sekarang pemerintah melepas peternak tersebut ke pasar bebas tanpa perlindungan apa-apa, termasuk harga jual ke pabrik.

Selama ini, lanjutnya, harga jual hasil produksi susu dari peternak kecil masih tergantung pada pembeli (pabrik) dan peternak tidak memiliki kekuatan apa-apa utnuk menaikkan harga. Dalam penentuan harga ini terjadi ketidakadilan.

Ia mengatakan, bagaimana peternak bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas produksinya, jika tidak ada modal besar akibat harga jual yang tidak seimbang dengan biaya produksi. Padahal, peternak di Tanah Air ini sebagian besar adalah peternak kecil (rumahan).

Oleh karena itu, tegasnya, tanpa adanya intervensi pemerintah melalui regulasi patokan harga, peternak sapi perah skala kecil akan semakin sulit, bahkan untuk meningkatkan kualitas dan kualitas produksinya juga semakin jauh dari harapan.

Akibatnya, katanya, kebutuhan susu dalam negeri tidak pernah bisa dipenuhi dari produksi lokal (dalam negeri). Produksi susu yang dihasilkan peternak hanya mampu memenuhi 25 persen kebutuhan dalam negeri, sehingga kekurangannya harus diimpor.

Sebagai langkah awal untuk mendesak melakukan intervensi harga susu tersebut, kata Teguh, pihaknya sudah mengirim surat ke Komisi IV DPR RI untuk melakukan rapat dengan pendapat (hearing) terkait masalah persusuan di Tanah Air.

Menyinggung kebutuhan susu segar dalam negeri, teguh mengatakan, pada tahun ini diperkirakan mengalami pertumbuhan (kenaikan) hingga 6,5% atau sekitar 3,5 juta-4 juta matrik ton, sementara pertumbuhan produksinya stagnan.

“Produksi ini bisa ditingkatkan jika konsentrat dan pakan ternaknya juga berkualitas. Tapi, bagaimana mau meningkatkan kualitas pakan, kalau harga jual susunya masih sangat murah dan seringkali tidak sebanding dengan
biaya produks,” tegasnya. Ant

2 Komentar Pembaca

  1. Selamat sore
    Saya Thomas, peternak sapi-perah Tamansari Licin, Banyuwangi
    01. Pemerintah perlu mengkaji secara cermat dan serius situasi lapangan sentra2 peternak sapi-perah, khususnya berkaitan dengan pakan dan perhitungan pemeliharaan sapi-pertah dibanding dengan harga penjualan susu per liternya dari Peternak…bisa berbuat apa peternak tersebut sekarang ini?!; setelah itu cepatlah membuat harga patokkan yg. adil.berlaku seluruh Indonesia! …dan dilaksanakan..!.Gunakan kekuasan untuk berpihak pada peternak yg. tertekan dengan membuat regulasi yg. tepat.
    02. Pemerintah via BUMN, saya sarankan membuat 3 macam Konsentrat nasional standard kebutuhan nutrisi sapi-perah laktasi; masa kering kandang; dan untuk Pedet dengan harga yg. terangkat oleh peternak yg. memberi peluang peternak mendapatkan keuntungan wajar guna bergairah beternak dan mengembangkan populasi sapi-perahnya.
    Demikian saran saya..Thomas.

  2. Selamat siang Admin
    Mohon kejelasan…Apa komentar yg. saya buat tidak dikelola pleh Admin…? Kan perlu respons untuk membangun dunia persusuan…termasuk pembuat artikel…agar ada diskusi yg. bermanfaat.
    Hormat saya…Thomas

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim