Gubernur Minta Penentuan Rendemen Gula Harus Fair

Gubernur Jatim Dr. H. Soekarwo saat berialog tentang gula dengan Wakil Menteri Pertanian RI, Dr. Bayu Krisnamurthi, MSi di Grahadi

Penentuan rendemen gula dilakukan secara fair antara masyarakat dengan pabrik gula dan harus melibatkan perguruan tinggi. Hal itu ditegaskan Dr. H. Soekarwo, Gubernur Jawa Timur saat memimpin rapat tentang gula bersama Wakil Menteri Pertanian, Dr. Bayu Krisnamurthi, dan stakeholder pergulaan Jawa Timur di Gedung Negara Grahadi, Selasa (12/7).

Hal lain yang disampaikan Pakde Karwo, sapaan akrab Soekarwo  adalah program revitalisasi pabrik gula, tidak dilikuidasinya pabrik gula yang ada, serta bila dilakukan pendirian pabrik gula baru, lokasinya harus di luar kawasan pabrik gula lama.

Pakde menambahkan, dirinya tak berkeberatan dengan adanya investasi yang masuk ke Jatim, asalkan bahan baku berasal dari Jatim, dan di produksi di Jatim juga. Sehingga nilai tambah dari adanya pembangunan pabrik gula di Jatim harus menguntungkan rakyat terutama petani tebu dan karyawan pabrik gula. “ Apabila terdapat pabrik yang tidak produktif, maka bisa digunakan untuk mengolah bahan yang secara ekonomis bagus seperti raw sugar atau bahan setengah jadi, yang bahan bakunya terdapat dari masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Dr. Bayu Krisnamurthi Ms menjelaskan produksi gula Nasional hanya bisa menghasilkan produksi gula sebesar 2,5 -  3 Juta ton. Kebutuhan konsumsi akan gula idealnya 5 – 5,5 juta ton.

Wamentan mengatakan industri makanan dan minuman saat ini berkembang sangat luar biasa. Untuk itu, pemerintah berkewajiban meningkatkan kebutuhan produksi. Caranya ada tiga, yakni meningkatkan produksi gula, memperbaiki pabrik gula, dan meningkatkan produktifitas tebu petani melalui program bongkar ratoon. Khusus Jatim, alokasi dana program bongkar ratoon sebesar Rp 55-60 Milliar.

Wamentan juga mengatakan pentingnya membuka lahan baru. Apalagi Jatim sangat potensial untuk mengembangkan areal tanam tebu seperti di kawasan Bojonegoro, Tuban, Lamongan dan Madura. Jawa Timur adalah salah satu andalan nasional untuk produksi gula. Lima puluh persen produksi gula nasional berasal dari Jatim. “Mendirikan pabrik di Jatim harus mempunyai rendemen diatas delapan apabila rendah atau dibawah delapan lebih baik tidak usah,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum APTRI PTPN XI Arum Sabil menjelaskan pihaknya bersama kalangan petani tebu Jatim tidak pernah menolak pendirian PG baru. “Pendirian PG baru sangat kita dukung, namun berdasarkan hasil investigasi ternyata ada temuan tidak bagus. Karena pendirian PG baru itu hanya kedok saja, karena ada dugaan besar akan digunakan mengolah gula mentah impor untuk memproduksi gula rafinasi. Jadi bukan untuk mengolah gula dari tebu petani,” tambahnya. (bhi)

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2020. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim