Banjir Rafinasi, Realisasi Impor Gula Minim

ilustrasi: gresnews.com

Derasnya rembesan gula rafinasi di pasaran serta masih mahalnya harga gula dunia dinilai sebagai faktor yang menyebabkan volume realisasi izin impor gula sebanyak 450.000 ton di tahun ini masih kecil.

PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI, misalnya, mengaku realisasi impor gula mereka masih sekitar 15.700 ton dari izin sebanyak 90.000 ton. Itupun dilaksanakan dengan memilih Medan sebagai pasar yang akan dipasok.

“Sudah clear 15.700 ton untuk Pelabuhan Medan dengan waktu kedatangan sebelum 15 April sesuai izin dari Dirjen Perdagangan Luar Negeri,” ungkap Sekretaris Perusahaan PTPN XI, Adig Suwandi, di Surabaya, Senin (28/3/2011).

Pemilihan Medan, menurut Adig karena pasar dan pembelinya sudah jelas. Sementara untuk pelabuhan lain masih harus dipikirkan lebih serius lagi. Selain harga global masih sangat mahal, pasar domestik juga jenuh karena kuatnya rembesan gula rafinasi.

“Indikasinya, gula rafinasi saat ini sudah sangat kuat merembes ke pasaran dan diperlakukan layaknya gula konsumsi. Dan jelas ketika kita akan memaksakan untuk melakukan impor, maka gula impor akan sulit terserap. Ditambah saat ini harga juga relatif masih sangat tinggi,” lanjutnya.

Pada akhir pekan kemarin, harga gula dunia di Bursa berjangka London masih dikisaran US$ 722,1 per ton FOB (harga di negara asal, belum termasuk biaya pengapalan dan premium) dan sampai di gudang pelabuhan diperkirakan harga mencapai sekitar US$ 820 per ton.

“Untuk itu, selaku Importir Terdaftar (IT), PTPN XI memang ekstra hati-hati jangan sampai rugi. Masalahnya harga dunia mahal, sedangkan harga gula lokal cenderung turun. Kalau kita tidak pikir panjang dan seenaknya lakukan impor, bisa-bisa tidak laku karena rafinasi membeludak,” tegas Adig.

Saat ini, kata Adig, PTPN XI juga sedang melakukan survei pasar untuk alokasi gula impor pasar Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Sebab, sesuai izin Kemendag, ketiga provinsi itu bukan sentra produsen gula. Sementara entry port harus menggunakan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

“Kami masih menunggu survei hingga pekan ini. Kalau pasar oke, kita akan langsung laksanakan tender impor dan langsung pengapalan. Saya kira tidak akan memakan waktu lama karena gula impor didatangkan dari Thailand,” terangnya.

Namun, jika waktu tidak memungkinkan karena sesuai dengan pernyataan Kemendag bahwa pemerintah tidak akan memperpanjang ijin, maka PTPN XI juga tidak akan memaksakan untuk melaksanakannya.

“Kalau tidak memungkinkan waktunya, ya tidak usah impor. Sebab Pemerintah juga sudah menyatakan akan tetap menyetop impor ter tanggal 15 April besok,” tegas Adig.

Sementara secara nasional, yang juga sudah melaksanakan impor adalah PT Perusahaan Perdagangan Indonesia 26.694 ton, Perum Bulog 2.886 ton dan PTPN X 19.950 ton dari ijin impor sebesar 450.000 ton. Dengan perincian PTPN IX 70.000 ton, PTPN X 90.000 ton, PTPN XI 90.000 ton, PT Rajawali Nusantara Indonesia 50.000 ton dan PT PPI sebesar 90.000 ton serta Perum Bulog 60.000 ton.

Terkait produksi gula dalam negeri di tahun ini diperkirakan Adig akan semakin bagus, produksinya naik dari tahun lalu. Hal ini dipicu oleh membaiknya iklim. Namun ia belum bisa memastikan berapa produksi gula PTPN XI di tahun ini, karena belum selesai taksasi, mungkin akhir Maret baru bisa memberikan kepastian.

“Tapi insya Allah lebih baik dari produksi tahun 2010 secara nasional sebesar 2,23 juta ton dan PTPN XI sebesar 319.000 ton karena iklim agak membantu,” pungkasnya. KBC

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2017. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim