Rawan Antraks, Banyak Sapi Jateng Masuk Ponorogo

Sapi-sapi dari Jawa tengah ternyata masih banyak terdapat di pasar hewan Kecamatan Jetis.

Banyaknya warga yang terkena antraks, yang diduga karena mengkonsumsi daging sapi berpenyakit antrak, Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo resmi menyatakan, menghentikan masuknya sapi-sapi dari Jawa Tengah ke Ponorogo.

Ini mengingat sapi-sapi yang banyak mengidap penyakit antrak terdapat di wilayah Jawa Tengah. Apalagi Ponorogo yang merupakan daerah perbatasan Jateng – Jatim, besar kemungkinan sapi-sapi dari Jateng yang dijual di Ponorogo tanpa melalui cek kesehatan sebelumnya.

Bahkan Senin (28/2)kemarin, tim Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur serta laboratorium kesehatan hewan Jatim bersama tim dari bidang peternakan setempat, atas perintah Gubernur Jatim melakukan sidak dan monitoring kesehatan sapi khususnya di wilayah perbatasan Jatim-Jateng.

“Pada dasarnya sidak dan monitoring dari Dinas Peternakan Provinsi itu untuk melihat kesiapan kami kewaspadaan dan monitoring kami dalam mengawasi arus lalu lintas perdagangan hewan khususnya sapi dari Jateng, khususnya dari Boyolali dan dari Jateng pada umumnya,” ungkap Drh. Andi Susetyo, Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo.

Lebih lanjut Andi mengatakan, surat edaran dari Gubernur, agar menyetop sapi-sapi dari Jateng khususnya dari Boyolali. Ini merupakan upaya pemerintah Provinsi untuk mengantisipasi agar Jatim terbebas dari penyakit antrak.

“Meskipun sampai saat ini di Jatim khususnya di Ponorogo belum ditemukan ada warga atau sapi yang mengidap antrak, namun untuk mewaspadai penyakit tersebut, petugas dari bidang peternakan dan instansi terkait melakukan pengawasan khususnya di daerah perbatasan,” imbuh Andi.

Perketatan arus lalu lintas perdagangan sapi dari Jateng ke Ponorogo, lanjut Andi, karena besar kemungkinan di daerah yang ditemukan wabah antrak harga jual sapi di daerah tersebut akan turun drastis. Karena peternak mengininkan untung yang lebih maka pedagang dari Ponorogo banyak yang berburu sapi dari Jateng.

Begitu pula sebaliknya, karena tidak mau mengalami kerugian, para peternak sapi dari Jateng lebih suka menjual hewan ternaknya di wilayah luar Jateng seperti Ponorogo.

Untuk itu Andi berharap kerjasama dan kewaspadaan dari pihak-pihak terkait, baik Dinas Pasar, pedagang maupun warga yang hendak mengkonsumsi daging sapi, untuk berhati-hati dalam memilih sapi maupun daging.

“Jadi waspadalah dalam memilih daging yang hendak di konsumsi. Pilih daging yang sehat dan warga yang mendapati sapinya sedang sakit sebaiknya tidak disembelih maupun dikonsumsi,” tegas Andi.

Sementara itu, di pasar hewan Jetis ternyata masih banyak ditemui pedagang-pedagang dari Jawa Tengah yang membawa hewan ternaknya dan dijual di pasar ini. Meski begitu, Susilo Kepala UPT Pasar Jetis mengaku belum melakukan pencegahan masuknya hewan-hewan dari Jateng ke Ponorogo.

“Sampai hari ini kami belum mendapat edaran dari Indakop terkait dengan permasalahan tersebut. Jadi sampai hari inipun masih banyak pedagang yang datang dari Jateng,” tuturnya, ditemui Senin (28/2) kemarin.

Tentu upaya Dinas Peternakan Provinsi Jatim dan Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo untuk mengantisipasi masuknya sapi-sapi dari Jateng tersebut menjadi sia-sia tanpa adanya kerja sama dari pihak terkait dalam hal ini Dinas Pasar setempat. (rib)

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2018. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim