Gunung Wilis Mulai Mencemaskan Warga

ilustrasi: b-mus.blogspot.com

Suara gemuruh dari perut bumi di bagian bawah Gunung Wilis, Desa Kare, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur, mulai meresahkan warga sekitar. Pasalnya, nyaris tidak ada rujukan data geologis yang menjelaskan tentang fenomena yang melanda gunung setinggi 2.552 meter dari permukaan laut tersebut.

Menurut keterangan yang dihimpun pada Selasa (22/2), gemuruh makin terdengar pada dini hari pukul 03.00. Warga merasakan getaran pada jendela rumahnya.

”Berlangsung hanya beberapa detik, tetapi terjadi cukup sering. Paling tidak, dua hari sekali,” ungkap Camat Kare, Sawung Rohtomo.

Ia bahkan mendapat laporan dari desa-desa terdekat dengan puncak Gunung Wilis di Desa Kandangan, bahwa gemuruh sudah terdengar sejak akhir Januari.

Menurut Sawung, warga tak mungkin mengelak dari kecemasan. Akan tetapi, belum ada tindakan yang dapat dilakukan kecuali dengan penelitian menyeluruh antarinstansi. ”Kami menerima berita dari Jakarta bahwa itu merupakan gerakan tanah sebagaimana disampaikan Direktorat Vulkanologi,” katanya.

Namun, apa yang harus dilakukan dan dianjurkan kepada warga, Sawung belum bisa memastikannya. Yang bisa dilakukan hanya meminta para kepala desa untuk segera melapor jika muncul keadaan lingkungan yang tidak lazim. Misalnya, keluarnya hewan dari hutan atau tanah longsor.

Kondisi di Desa Kare sejauh ini tenang-tenang saja. Saat dikunjungi Senin petang, Desa Kare yang merupakan pusat Kecamatan Kare, warga tampak menjalankan kehidupan sehari-hari dengan normal.

Aktivitas Normal

Desa Kare terletak sekitar 25 kilometer arah tenggara dari pusat Kota Madiun. Akan tetapi, terpisah oleh areal hutan Perhutani sepanjang 15 kilome- ter dari Kecamatan Dungus, ke arah tenggara kota. Rumah-rumah di Kare tampak berhubungan sebagai rumah pengelola hutan produksi cemara dan jati.

Kare meliputi perbatasan Madiun dengan Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Ponorogo. Keduanya berada di kaki Gunung Wilis, bagian dari wilayah kabupaten lain yang juga berada di kaki Wilis, yakni Kediri dan Trenggalek.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono di Bandung, Jawa Barat, Selasa, mengatakan bahwa pergerakan tanah di sekitar Gunung Wilis masih akan terjadi apabila curah hujan masih tinggi. Resapan air hujan akan membuat tanah semakin berat dan rentan menjadi longsor. (ody/che)

(Sumber: Kompas.com)

Komentar Pembaca

  1. seharusnya pemerintah indonesia ,mendeteksi semua gunung di seluruh indonesia setiap bulannya , jadi pemerintah bisa tahu bila terjadi suatu bencana sperti gunung meletus.
    dan pemerintah bisa lebih cepat menghimbau masyarakat indonesia

    ” ingatt demi nyawa masyarakat indonesia ‘

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim