Kamis, 30 Maret 2017

Era MEA Idealnya SMA dan SMK 30:70

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sedang berlangsung. Sudah berlaku efektif. Banyak hal harus dilakukan. Banyak hal pula bisa dilakukan semua lapisan masyarakat. Termasuk di dalamnya adalah  mahasiswa.

Mahasiswa harus bisa ambil bagian di dalamnya. Mahasiswa sebagai agent of change harus berpikir lebih luas. Harus bisa ambil peran dalam era MEA yang harus kita pandang sebagai peluang positif ini.

Di era ini, mahasiswa harus meningkatkan kualitas. Kualitas yang saya maksud adalah  kualitas sumber daya manusia (SDM). SDM ini menentukan agar bisa bersaing dengan SDM negara lain yang ikut juga ambil bagian dalam MEA.

Sebab itu SDM Indonesia harus dibekali dengan ketrampilan. Era MEA merupakan era yang membutuhkan tenaga yang siap untuk bekerja.

Ada pemandangan umum bahwa lulusan peguruan tinggi berkontribusi terhadap tingkat pengangguran. Menurut data, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada tahun 2015 sebesar 4,47 persen dan pada Februari tahun 2016 turun menjadi 4,14 persen.

Salah satu penyebab lulusan perguruan tinggi berkontribusi terhadap pengangguran adalah, sebelumnya, tidak terdapat sekolah vokasional sehingga tidak ada bekal dalam dunia kerja.

Maka salah satu solusinya adalah dengan mendidik mereka menjadi wirausaha dan juga menyiapkan kualitas SDM sedini mungkin agar bisa bekerja di suatu perusahaan. Juga, harus ada sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi mencari cara untuk memberikan peluang mahasiswa dalam mengembangkan potensi diri dan kemampuan. Salah satunya adalah melalui program magang mahasiswa.

Fakta ini membuat pemerintah harus mengambil kebijakan dalam meningkatkan kemampuan dan keterampilan  SDM. Pemerintah Provinsi Jawa Tim fokus kepada pendidikan vokasional agar tercipta SDM yang siap kerja.

Di Jawa Timur terdapat 2.600 SMK, akan tetapi yang sudah terakreditasi hanya 1.100 SMK. Sebab itu, agar lembaga vokasional memiliki standarisasi, harus dilakukan pembenahan yakni  Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan merekonstruksi perbandingan antara SMA: SMK dari 30:70 menjadi 70:30.

Rekonstruksi itu tujuannya adalah menciptakan SDM yang memiliki ketrampilan khusus sehingga bisa langsung masuk dunia kerja. Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga menyiapkan SMK mini  untuk menciptakan SDM dengan keterampilan standart internasional dan mencetak  wirausaha.

Agar bisa diterima di dunia usaha, tenaga kerja asal Jawa Timur juga dibekali dengan sertifikasi berstandar internasional. Jawa Timur juga telah menjalin kerjasama dengan negara lain untuk memperoleh standarisasi internasional. Di antaranya  adalah; pengiriman SDM ke Jerman, ke Jepang dan telah dilakukan MOU dengan Australia Barat.

Pada 22 Maret 2016 lalu juga diadakan MOU antara Jawa Timur dengan Amerika Serikat tentang community college dimana diajarkan keterampilan berstandart internasional. Sampai saat ini sudah terdapat 47.463 tenaga terampil dari Jawa Timur yang telah tersertifikasi internasional ***

Sumber: Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo dalam Seminar BEM Seluruh Indonesia Wilayah Jawa Timur dengan tema Peran Mahasiswa dalam Mewujudkan  Program Ekonomi Jawa Timur di Era MEA di Universitas Hang Tuah Surabaya.

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2017. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim