Jumat, 31 Maret 2017

MEA dan Ancaman Bagi Tenun Gedog Tradisional Tuban

Memproses kain dengan mesin tenun tradisional. foto:widi

Jauh sebelum bom Bali memutus mata rantai jaringan bisnis aneka craft dari banyak daerah, termasuk Jawa Timur, pasutri Eni Susanti dan Zaenal Abidin sudah memiliki pelanggan Tenun Gedog Tuban yang tak pernah putus.

Kini, pascateror mengerikan itu usai, produk tradisional ini akan berhadapan dengan “teror” dalam bentuk lain yaitu bernama pasar besar. Sebagian orang, atau para akademisi, menyebut pasar bebas itu dengan MEA. Nah, di era MEA bagaimana nasib Tenun Gedog Tradisional Tuban itu. Mampukah bertempur di MEA 2015 esok? Apakah pasutri tersebut tetap mampu menjaring  pelanggan yang juga tak pernah putus?

Di Jawa Timur tak banyak yang menekuni tradisi menenun. Sementara di Tuban, pasangan suami istri (pasutri) Eni Susanti dan Zaenal Abidin, malah satu-satunya yang berjibaku dengan tenun.

Eni dan Zaenal sedikitnya memiliki 60 set mesin tenun tradisonal. Selain yang tradisional dia juga memiliki beberapa set mesin tenun semiotomatis. Mesin-mesin itu digerakkan oleh dynamo-dinamo beraliran listrik. Mesin-mesin itu adalah lungsuran dari pabrik yang katanya dibeli dengan harga cukup murah.

Meski mesin-mesin semiotomatis itu sudah bekerja, sudah mampu menghasilkan produk yang bagus, toh selera pasar tetap berharap yang berbeda. Para pelanggan setia, para kolektor, tetap lebih mencari kain hasil tenunan dari mesin-mesin tradisional yang memang cenderung lebih tidak rapi ketimbang yang dihasilkan oleh mesin.

Eni Susanti juga menyebutkan, edisi pasar bebas (MEA) yang mungkin banyak ditakutkan orang itu, tak berlaku baginya. Bahasa kerennya tak berimbas. Sebab, dia dan suaminya konsisten dengan TGT yang punya massa tersendiri dipasaran. TGT adalah kepanjangan dari Tenun Gedog Tradisonal.

Hingga sejauh ini, pelanggan lama atau minimal yang sudah sering bekerja sama untuk penjualan hasil produk lebih mengenalnya dengan nama Zaenal Gedog Tuban. Produk tenun usahanya yang paling pupoler dipasaran adalah sarung tenun jenis goyor. Untuk kelas yang premium ada juga sarung tenun dari bahan sutra.

Sedangkan yang paling banyak diproduksi adalah taplak meja, syal, dan selendang. Taplak meja hampir keseluruhan produksi kesedot untuk market di Bali. Biasanya untuk keperluan upacara keagamaan dan adat bagi masyarakat Bali.

Sementara untuk syal dan selendang larinya juga ke Bali. Turis-turis yang berdatangan di Bali begitu menyukai hal-hal yang berbau tradisi dengan bahan yang cenderung natural dan alami.

Produk lain yang paling favorit dan banyak dicari dengan market yang menyebar adalah batik tulis dengan bahan tenun. Produk premiumnya adalah batik tulis dengan bahan tenun sutra.

Untuk jenis yang terakhir ini, produk batik tulis, harganya malahan tidak ada yang murah. Semuanya mahal. Utamanya jika mengunakan pewarna alami.

Mengapa harganya menjadi tinggi nan mahal? Selain bahan produksinya sudah mahal, prosesnya pun juga rumit. Harus dikerjakan SDM yang ahli pula. Membatik dengan bahan kain tenun tradisional memiliki kesulitan dua kali lipat dibanding dengan membatik di atas kain biasa.

Di ajang bergengsi seperti Ina Craft, adalah momen penting yang wajib dia ikuti. Momen seperti ini adalah ajang mengenalkan produk. “Jika momen-memen seperti Ina Craft tersebut sering digelar, kita yakin pasar bebas itu tak begitu serius mengancam craft buatan Indonesia,”cetusnya.

Di Ina Craft, kata Eni, batik tenun gedog Tuban selalu dinantikan para penggemar, koletor, juga para desainer. Ada aktivitas unik yang dilakukannya setiap momen Ina Craft itu tiba. Ia selalu diminta mengabari banyak kolega dan pelanggan. Bukan hanya yang di dalam negeri namun hingga mancanegara.

Kalau sudah dikabari, mereka pun berbondong datang untuk memilih produk atau koleksi yang baru. Datangnya malah berebut dulu-duluan. “Malahan ada yang memesan begini, ruang pamernya jangan dibuka duluan ya sebelum saya datang. Dan memang, biasanya, hari pertama dibuka, koleksi yang dibawa pameran langsung habis,” cerita Eni.

Sukses Tenun Gedog Zaenal meraih pasar di Bali sejak tahun 90-an, menurut Eni, awalnya juga coba-coba. Lantaran punya adik di Bali, maka ia dan suaminya titip di artshop-artshop yang banyak bertebaran di Bali. Konon, pasar untuk model bahan tenun masih terbuka lebar. Teman-teman Eni sering mengeluhkan kewalahan melayani order-order.

Eni Susanti, pemilik sekaligus perajin Tenun Gedog Tradisional Tuban. foto:widi

Coba-mencoba yang dilakukannya saat itu ternyata mujarab. Pasar yang diceritakan itu ternyata benar adanya. Maka sejak saat itu ia mulai rutin melakukan pengiriman ke Bali. Seiring dengan tingginya volume pemesanan maka pesanan-pesanan yang ada tersebut mulai diproduksi sendiri. Mesin-mesin tenun didatangkan, SDM-SDM mulai direkrut. Hingga kini sedikitnya 60 karyawan mengoperasikan beragam mesin tersebut. Mulai dari tenun hingga pintal benang dan membatik.

Setelah peristiwa bom Bali I dan II, pasar memang menyusut. Pelanggan-pelanggan dari Jepang putus kontak. Begitu juga dengan banyak turis dari negara lain. Seiring dengan itu karyawan yang semula di atas 100 orang juga menyusut.

“Kini tinggal 60an orang saja. Mereka yang prothol dari tempat kita sekarang ikut pabrik rokok yang mulai bermunculan di Tuban,” kata Eni yang membuka showroom di Jalan Raya Kerek Margorejo, Tuban, Jawa Timur.

Meski ditinggalkan banyak pelanggan turis, Eni yang hingga sekarang masih aktif mengajar di SMK Negeri 2 Tuban itu mengaku tidak khawatir. Pasalnya, pasar di Bali baginya tidak melulu hanya turis. Produk taplak tenun begitu melekat di masyarakat Bali dan sangat biasa digunakan untuk keperluan upacara keagamaan dan adat disana. (widi kamidi)

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2017. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim