12 Ribu Perawat Masih Menganggur

ilustrasi: alam414m.blogspot.com

Kualitas lulusan perawat masih menjadi isu utama dalam hal keperawatan. Di Jawa Timur, dari jumlah sekolah keperawatan yang ada menghasilkan 200 lulusan per angkatan. Setiap tahunnya, 12 ribu perawat fresh graduate menganggur.

Jawa Timur memiliki 55 sekolah perawat program D3 dan 53 sekolah perawat program S1. Jumlah sekolah tersebut meluluskan 12 ribu perawat setiap tahunnya. Sayangnya, hampir semuanya tidak terserap. Ahmad Yusuf Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Timur mengatakan dari total lulusan itu, yang mendapatkan pekerjaan kurang dari 10 persen. Sedangkan yang terserap sebagai pegawai negeri sipil (PNS) tidak sampai 1 persen.

“Kalau dulu, sekolah perawat masih sedikit. Hanya ada 40 orang, per angkatan meluluskan 4 mahasiswa. Jumlah itu semuanya bisa terserap. Kalau sekarang, karena sekolah banyak, lulusannya bisa 12 ribu dan semua menganggur,” kata Ahmad ditemui suarasurabaya.net di sela-sela peringatan Hari Perawat Sedunia di RSU Haji Sukolilo Surabaya.

Sejak 2008, sekolah keperawatan mulai menjamur yang ternyata tidak diiringi dengan mutu outputnya. Sekolah keperawatan baik S1 maupun D3 hanya 5 yang berstatus negeri. Sisanya swasta. Menurut Ahmad, pendidikan keperawatan sekarang lebih banyak berorientasi bisnis. Mereka asal meluluskan tanpa mempertimbangkan kualitas lulusan.

Namun, diakui Ahmad, perawat kini terbantukan dengan adanya program Ponkesdes yang dicanangkan Gubernur Jawa Timur. Mulai 2010 hingga 2014 nanti, ditargetkan ada 5 ribu perawat yang terserap melalui program Ponkesdes. Ini pun masih selisih banyak jika dibandingkan dengan perawat yang menganggur.

Meski demikian, Ponkesdes juga masih meninggalkan masalah. Ini lantaran gaji yang diperoleh hanya Rp 500 ribu per bulan hasil sharing antara pemerintah provinsi dan pemerintah daerah. Belum lagi, pembayaran gaji yang seringkali menunggak dan potongan pajak 5 persen. Kesejahteraan perawat terutama untuk mereka yang bekerja di rumah sakit swasta juga masih memprihatinkan.

Isu pendidikan keperawatan dan kesejahteraan perawat menjadi isu utama dalam peringatan Hari Perawat Sedunia tahun ini. Peringatannya sendiri digelar di RSU Haji Sukolilo dengan mengambil tema Closing the Gap : From Evidence To Action To Achieve Quality of Nurse.

Misutarno SKep NS Ketua PPNI Surabaya mengatakan selain Hari Perawat Sedunia di Surabaya diperingati dengan jalan sehat yang diikuti oleh ratusan perawat. Ini juga menjadi apresiasi kepada perawat Surabaya dan Jawa Timur. suarasurabaya.net

18 Komentar Pembaca

  1. saya merasah lebih dari 12ribu orang perawat yang tidak punya pekerjaan. menurut saya, pengangguran terjadi bukan karena lembaga pendidikan perawat tidak berkualitas akan tetapi sempitnya lapangan kerja dan ketidak pedulian pemerintah terhadap lulusan keperawatan.

  2. kalau menurut saye pengangguran itu terjadi juga karna kualitas dalam mememberikan asuhan keperawatan yang tidak dibarengi denga skil yang baik.siapa yang mau menerima perawat yang memiliki skil yang tanggung?

    • ajib

  3. pengangguran terjadi karena mereka tidak tau pentingnya ilmu saat kuliah,,pas lulus mereka kelabakan krena punya gelar tapi ga punya ilmunya dan ujung2nya kalah saingan

  4. karena puskesmas dan RS pemerintah tidak menerima tenaga sukwan,padahal itu penting bagi perawat dpt mengasah ilmu dan menerapkannya,,bagi instansi dpt membantu dan mengurangi beban kerja,apakah benar sukwan dilarang?????

  5. Saya adl prwt yg dprbantukan di poskesdes,asal saya Kalsel Banjarmasin Kab. HSU Amuntai.Apakah ada prbedaan ya antara poskesdes dgn ponkesdes ?

  6. Saya adl prwt yg dprbantukan di poskesdes.Apakah ada prbedaan ya antara poskesdes dgn ponkesdes ?

  7. Selain dr pihak perawatnya sendiri yg kurang kompeten, Dikarnakan jg krn byk pihak instansi pemerintah yang nakal meminta dana kepada calon pegawai agar bisa mendapatkan pekerjaan, jika tidak sanggup ya pengangguran deh!!
    Mohon dibasmi mereka yang menyulitkan kami perawat yg ingin bekerja secara bersih.
    Trimakasih

  8. mohon maaf mungkin sedikit keluar dari topik.
    saya mau tanya, apakah ada saudara yang disini mengetahui jumlah perawat dan jumlah tempat tidur di RSUD. Dr. Soetomo.?
    terima kasih

  9. Mhn mf sblmnya.. Mnrt saya bkn mslh pekerjaan saja tetapi gaji seorang perawat pun tak sesuai dibandingkan waktu kulyah.. Mohon di siasati bagi pemerintah..pekerjaan mulia adalah seorang perawat .berilah gaji yg sesuai dgn kbtuhan pokok..trmakasih

  10. Saya seorang mahasiswi keperawatan S1 di kalimanta, banyak blok” yang saya baca tentang info perawat, dan yang dapat saya simpulkan bahwa, gajih seorang perawat di indonesia sangat tidak seimbang dgn biaya yg di keluarkan saat pendidikan, conoh’a biaya semester sebesar 5.5jt dan gajih yg di terima hanya sekitar 1jt perbulan. Itu sangat tidak seimbang apa lagi di tambah dengan beratnya pekerjaan dan tanggung jawab seorang perawat.

  11. kalau tenaga sukuwan atau honorer gajinya sedikit ato enggak digaji ya jangan masukan tenaga perawat non PNS,kasihan jerih payahnya tidak dihargai,itu semua tidak manusiawi,pemerintah bisanya cuma mau memanfaatkan,tidak mau memperhatikan.

  12. hapus saja keperawatan di indonesia,kalau negara kita tidak menghargai kita,

  13. sudah 5 thun ini gaji qta hanya 500ribu untuk yang diponkesdes..untuk thun depan saya berharap pemprov jatim beserta pemkab bisa memberikan gaji yang layak sesuai UMK.

  14. Memang menyedihkan jdi perawat..
    Krja cpe tpi di hargai dengan gji yang tak lyak..
    Gji perawat kdang jauh di bawah UMR.
    Knp hal ini bsa tjdi….
    Saran saya buat tman2 perawat jangan lah mau menerima pekerjaan dengan gaji yang tak layak.
    Mending kta cri pekerjaan lain yang gjinya jauh lbh baik

  15. Buat teman2 perawat..
    Jangan mau menerima pekerjaan dengan gaji yang tak layak agar profesi kita tdk di remehkan

  16. bukan hanya banyaknya lulusan yang di hasilkan oleh tiap-tiap lembaga pendidikan, namun juga mudahnya periizinan pendidikan kesehatan yang ada di indonesia yang merupakan terjadinya pengangguran.

  17. apalagi kalau kita liat dan renungi nasip adik2 kita yg berjuang sampai tingkat s1 kep saja karena keterbatasan biaya … apa kabar mereka yg gk bs melanjutkan ners..
    perawat nganggur 70% dr golongan s1.
    pemerintah dengan teganya tidak memikirkan lebih sungguhnya nasip s1 kep.
    apa hanya d3 saja yg lebih diunggulkan ???
    wahaiii pemerintah…. bukalah hati nurani kalian bukakan kelonggaran buat kami yg hanya s1 kep saja…
    lihatlah nasip kami biaya s1 kep yg cukup besar bagi kami tidak bs berbuat apa2 untuk membalas orang tua kami kini kami hanya diomongin tetangga kesana kmari karna kami tidak bekerja…

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim