Masuk ke Jatim, Kuasai Indonesia Timur

Ilustrasi

GAIRAH investasi di luar kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) terus meningkat. Salah satunya adalah di Jawa Timur. Perusahaan besar, baik lokal maupun asing, ramai-ramai masuk ke Jatim. Lewat Jatim, investor juga mengincar peluang emas di Indonesia Timur.

Pasar Jatim sendiri memang sangat jumbo dan potensial. Penduduk di provinsi ini mencapai 37,5 juta jiwa, nomor dua terbesar setelah Jawa Barat yang mempunyai penduduk sekitar 43 juta jiwa. Surabaya, ibukota Jatim, menjadi kota dengan penduduk terbesar kedua di Indonesia dengan jumlah penduduk 3,28 juta jiwa. Jumlah ini hanya kalah dari DKI Jakarta yang mempunyai penduduk 8,7 juta jiwa.

Tidak hanya itu, pertumbuhan ekonomi Jatim juga berhasil menyalip rerata pertumbuhan nasional dan pertumbuhan provinsi-provinsi utama lainnya.

“Para investor masuk ke Jatim itu tidak hanya ingin membangun pasar di provinsi ini, tapi juga sekaligus membidik pasar Indonesia Timur. Jatim itu gerbangnya Indonesia Timur, jadi tidak salah kalau investor masuk ke sini,” ujar Gubernur Jatim Soekarwo kepada kabarbisnis.com.

Badan Penanaman Modal (BPM) Jatim mencatat, investasi yang sudah terealisasi sepanjang triwulan pertama 2012 mencapai Rp25,7 triliun, naik 41,2% dibanding tahun lalu di periode yang sama sebesar Rp18,16 triliun.

Kepala BPM Jatim Warno Hari Sasono mengatakan, pada tahun ini realisasi investasi memang cukup bagus. Selain karena izin prinsip di tahun 2011 memang cukup besar, tingginya pertumbuhan ekonomi dan stabilnya iklim politik serta keamanan Jatim juga ikut berpartisipasi besar terhadap kinerja investasi.

“Memang izin prinsip ini menjadi acuan besarnya realisasi investasi di tahun berikutnya. Realisasi investasi akan sangat besar seiring dengan besarnya izin prinsip yang sudah masuk. Dan realisasi izin prinsip di tahun 2011 memang cukup besar. Untuk Penanaman Modal Asing saja mencapai Rp44,68 triliun, naik 142% dibanding 2010. Untuk itu kami berupaya menggenjot realisasi investasi di tahun ini dengan target sebesar Rp132,5 triliun, naik 20% dari tahun lalu,” ujar Warno Hari Sasono.

Dia menjelaskan, dari realisasi investasi sebesar Rp25,7 triliun tersebut, yang dari PMA mencapai Rp6,67 triliun, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp3,77 triliun, dan dari PMDN nonfasilitas sebesar Rp15,26 triliun.

Terkait jumlah perusahaan yang sudah merealisasikan investasi, untuk PMA mencapai 80 proyek dengan jumlah tenaga kerja yang mampu diserap sebesar 16.481 orang. Di antaranya adalah PT Cheil Jedang Indonesia. Perusahaan penyedap makanan dari Korea Selatan ini telah merealisasikan perluasan atau penambahan investasi perusahaannya yang berlokasi di Jombang sebesar US$109,8 juta. Bahkan hingga tahun 2015, mereka merencanakan akan melakukan penambahan investasi sebesar US$625 juta.

“Selain itu, ada PT Paiton Energi di Probolinggo sebesar US$140 juta, PT Sekawan Bakti Intiland dari negara Seychelles, PT Meiji Indonesia di Bangil sebesar US$50 juta, PT Coca-Cola di Pndaan sebesar US$21 juta dan masih banyak lagi,” ungkapnya.

Sementara investasi yang terealisasi dari PMDN sebanyak 46 proyek yang mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 9.582 orang. Di antaranya adalah PT BJTI Surabaya sebesar Rp348 miliar, PT Santos Premium Creemer Sidoarjo sebesar Rp219 miliar, PT Semen Gresik Tuban sebesar Rp542 miliar, PT Pakerin Rp181 miliar dan masih banyak lagi.

Adapun PMDN nonfasilitas mencapai 12.220 unit usaha, terbanyak bergerak di sektor perdagangan sebesar Rp6,15 triliun, jasa konstruksi sebesar Rp5,27 triliun, perindustrian sebesar Rp1,38 triliun, pergudangan sebesar Rp650 miliar, dan pertanian sebesar 130 miliar

Getol rayu investor

Tim Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim juga tak kalah gesit mencoba mendorong peningkatan investasi di Jatim. Melalui East Java-Japan Club (EJJC)-Kadin Jatim, misalnya, diadakan lobi secara langsung ke sejumlah perusahaan di Jepang agar mau berekspansi ke Jatim. EJCC adalah Perhimpunan Pengusaha Jepang di Jatim yang dikoordinasi dalam lingkup Kadin Jatim. EJCC beranggotakan 53 perusahaan Jepang yang berinvestasi di Jatim.

Koordinator Single Window Services EJCC, Nelson Sembiring, mengatakan, pihaknya berkunjung ke Jepang sejak 14 April sampai 22 April 2012. “Kami menindaklanjuti keinginan investor Jepang untuk berekspansi ke Jawa Timur, khususnya di bidang manufaktur. Sekarang tim Kadin Jatim melakukan lobi intensif di perusahaan-perusahaan Jepang,” ujar Nelson.

Ada kabar gembira dari lobi bisnis tersebut. Satu perusahaan Jepang, yaitu Daiwa Technical Press Co, hampir pasti akan berekspansi ke Jatim. Daiwa adalah produsen mesin pengolah limbah serta mesin untuk menunjang produktivitas nelayan serta petani. “Presiden Daiwa, Mr Fumitaka Hirayama, sudah menyiapkan dana untuk ekspansi ke Jatim. Dalam tahap awal minimal sekitar US$1 juta,” ujar Nelson. Nelson sendiri memang mempunyai jaringan kuat di Jepang karena bertahun-tahun menempuh studi di Negeri Matahari Terbit itu.

Proses lobi intensif juga dilakukan dengan Presiden Direktur perusahaan Nakano Tekko, Nakano Masaharu.

Nelson menambahkan, tim EJCC-Kadin Jatim juga bertemu dengan Konjen RI di Osaka untuk menyampaikan harapan agar Komite Ekonomi Konjen RI bisa lebih proaktif mempromosikan Jatim.

Tim EJCC-Kadin Jatim juga akan kembali ke Jatim dengan membawa dua kontainer mesin bubut dan pendukungnya untuk dipakai di Indonesia sebagai bagian dari transformasi teknologi. “Jadi akan ada alih teknologi dari perusahaan Jepang yang memang berbasis teknologi tinggi ke dunia usaha Jatim,” kata Nelson.

Nelson berharap dukungan pemerintah untuk memuluskan ekspansi sejumlah investor Jepang ke Jatim. “Investor Jepang ingin ada kemudahan dalam pengurusan perizinan, baik sebagai PMA murni maupun joint venture. Yang terpenting adalah transparansi. Mereka juga menekankan soal pentingnya perbaikan infrastruktur jalan serta pelabuhan dan jaminan pasokan energi, baik gas maupun listrik,” kata Nelson.

Saat ini perusahaan penanaman modal asing (PMA) asal Jepang sudah banyak tersebar di jatim. Mereka rata-rata terkonsentrasi di kawasan Ngoro Industrial Park (NIP) Mojokerto, Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER) dan Gresik. Perusahaan-perusahaan asal Jepang tersebut bergerak di berbagai industri seperti otomotif, besi baja, industri gelas, lampu, sertabeberapa industri lainnya. kabarbisnis.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim