Pemkab Nganjuk Minta Warga Waspadai Banjir Susulan

ilustrasi

Pemerintah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, meminta warga mewaspadai banjir susulan yang kemungkinan terjadi di Kecamatan Berbek.

“Hari ini cuaca agak mendung di sekitar lereng Gunung Wilis. Kami imbau, masyarakat mewaspadai banjir susulan yang bisa saja terjadi saat hujan turun,” kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Kabupaten Nganjuk Abdul Wahid di Nganjuk, Senin.

Banjir bandang melanda tiga kecamatan di Nganjuk, yaitu Kecamatan Berbek, Sukomoro, dan Pace. Terdapat tiga titik lokasi kerusakan akibat banjir tersebut di antaranya di Desa Cepoko yang masuk Kecamatan Berbek, Desa Sumengko yang masuk Kecamatan Sukomoro, serta di Dusun/Desa Gemenggeng, Kecamatan Pace.

Di Dusun Tahunan, Desa Cepoko, banjir melanda perumahan warga. Sekitar 20 rumah warga terendam air dengan ketinggian hampir 1 meter. Air datang dengan sangat cepat bercampur lumpur dan langsung menggenangi rumah warga.

Di daerah itu, terdapat lima rumah warga yang rusak, yaitu milik Slamet, Musiran, Mukarom, Bahrun, serta Ghozali. Tingkat kerusakan rumah warga beragam, mulai berat seperti rumah rumah milik Musiran karena rumahnya ambruk disampu banjir. Sementara, rumah lainnya roboh di beberapa bagian seperti hanya tembok, maupun dapur.

Sementara itu, di Desa Sumengko, Kecamatan Sukomoro, banjir menggenangi areal persawahan. Lebih dari 15 hektare lahan pertanian yang baru ditanami padi milik petani tergenang air. Diperkirakan, para petani akan mengalami gagal panen, karena umur padi masih baru satu pekan.

Di Dusun/Desa Gemenggeng, Kecamatan Pace, banjir juga menggenangi perumahan warga. Terdapat lebih dari 50 rumah warga yang terendam banjir yang tingginya sekitar 1 meter. Namun, saat ini banjir juga sudah mulai surut, dan hanya tinggal matai kaki orang dewasa. Banjir di daerah ini disebabkan karena tangkis yang jebol.

Abdul menyebut, pemerintah sudah berupaya menangani banjir yang melanda karena hujan turun sangat deras di lereng Gunung Wilis tersebut. Bupati Nganjuk, Taufikurrahman bahkan sudah melakukan peninjauan ke lokasi banjir, dan memberikan bantuan.

“Bupati datang langsung memberikan bantuan bahan pokok dan sejumlah uang untuk membantu mereka. Setidaknya, itu bisa meringankan beban warga, terutama yang rumahnya rusak,” katanya.

Ia menyebut, Bupati menyerahkan sebanyak 60 bungkus bahan pokok kepada warga korban banjir. Selain itu, Bupati juga menyerahkan uang dengan nilai Rp500 ribu kepada warga yang rumahnya rusak akibat terjangan banjir.

Untuk areal pertanian warga, Abdul mengaku sampai saat ini masih berupaya untuk melakukan perbaikan jalur sungai. Di daerah itu, terdapat saluran yang tertutup oleh sampah, hingga air tidak bisa lancar.

“Di sekitar areal persawahan ada sebuah jembatan, harusnya ada enam lubang yan berfungsi. Siang tadi, masih dua. Saat ini, kami upayakan semua lubang saluran air bisa berfungsi, jadi air bisa mengalir,” ucapnya.

Sedangkan, untuk tangkis di Dusun/Desa Gemenggeng, Kecamatan Pare, juga disebabkan karena tangkis tidak kuat menahan derasnya air. Tangkis itu jebol sepanjang 10 meter.

“Saat ini, kami berupaya menutup tangkis dengan bronjong yang kami isi dengan batu. Kami memang belum bisa membangun secara permanen, dan baru kami bangun darurat saja,” ucap Abdul.

Sementara itu, sejumla warga mengaku masih trauma pascabanjir yang datang hingga merusakkan rumah mereka. Salah satunya adalah Khoiriyah, istri dari Musiran.

“Saat itu kami sangat panik dan berteriak sambil menangis sejadi-jadinya melihat dapur dan rumah terendam air banjir,” katanya sambil mengenang peristiwa tersebut.

Ia juga mengaku kaget saat tidak melihat suaminya yang saat itu ada di dalam dapur. Namun, ia mengaku lega setelah melihat suaminya ternyata sudah menjauh dari dalam dapur.

Ia juga mengaku bingung. Banjir selain menghancurkan rumahnya, simpanan bahan pokok, termasuk beras yang jumlahnya 1 kuintal juga tidak dapat diselamatkan.

Slamet, korban banjir lainnya yang juga tetangga Musiran mengaku langsung mengevakuasi ternak sapinya. Sedikit saja terlambat, ia sudah kehilangan sapinya, karena kandang ternaknya tenyata runtuh.

“Alhamdulillah, anggota keluarga kami semuanya selamat tidak ada yang terluka akibat musibah banjir ini. Kejadian ini memang rutin, tapi tahun ini banjir cukup besar,” katanya menegaskan. antara

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim