Cerita Rakyat Banyuwangi Semakin Menghilang

ilustrasi: duniaira.blogspot.com

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, Hadiri, mengatakan saat ini berbagai cerita rakyat atau folklor lisan Banyuwangi, Jawa Timur, semakin menghilang. Menghilangnya cerita tersebut lantaran masyarakat cenderung mengadopsi budaya Barat dan meninggalkan akar budaya asli.

“Apalagi dunia semakin mengecil dengan kehadiran dunia maya,” kata Hadiri saat menjadi pembicara dalam seminar Seni Tradisi Lisan di Pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi.

Salah satu cerita yang hilang adalah legenda asal-usul Kota Banyuwangi. Legenda itu menceritakan kisah terbunuhnya Sritanjung di tangan Sidopekso, suaminya, karena dituduh berkhianat. Tubuh Sritanjung kemudian dibuang ke sungai. Namun dari dalam sungai kemudian muncul semerbak bau wangi (banyu wangi) yang menunjukkan bahwa Sritanjung tidak bersalah.

Hadiri mengutip tulisan seorang ahli foklor Amerika, Jan Harold Burnvand, bahwa foklor lisan dikelompokkan menjadi enam hal, yaitu bahasa rakyat, ungkapan tradisional, pertanyaan tradisional, puisi rakyat, cerita rakyat, dan nyanyian rakyat.

Menurut dia, berbagai tradisi lisan tersebut dulunya diwariskan secara turun-temurun secara lisan. Pewarisan yang sering dilakukan biasanya melalui dongeng yang diceritakan orang tua kepada anaknya menjelang tidur. “Namun, orang tua sekarang tidak punya waktu untuk mendongeng karena sibuk bekerja,” kata Hadiri.

Padahal sesederhana apa pun cerita lisan pasti mengandung falsafah atau pesan moral. Dengan demikian, kata dia, tradisi lisan punya andil dalam pembangunan karakter bangsa. Karena itu, Hadiri meminta Pemerintah Banyuwangi, budayawan, dan cendekiawan bersama-sama melakukan penyelamatan dengan mengenalkan tradisi lisan kepada generasi muda.

Kepala Bidang Adat dan Tradisi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Aekanu Hariyono, mengatakan Pemerintah Daerah Banyuwangi belum menginventarisasi tradisi lisan yang ada di masyarakat. Tapi, pada 2009 mereka pernah menerbitkan buku Legenda Asal-Usul Banyuwangi sebanyak seribu eksemplar. Buku itu ditulis dalam tiga bahasa, yakni bahasa Indonesia, Inggris, dan bahasa Using Banyuwangi. Menurut dia, dalam waktu dekat buku tersebut juga akan ditulis dalam bahasa Madura dan Jawa. tempointeraktif.com

2 Komentar Pembaca

  1. assalamu’alaikum bapak, saya ingin bertanya, apakah ada keterkaitan antara legenda banyuwangi dengan relief Sri Tanjung pada candi-candi jawa timur seperti candi jabung, surawana, bajang ratu dan penataran? jika dilihat bahwa ada visual cerita sri tanjung pada candi-candi tersebut dan ceritanya mirip atau bahkan sama, mengapa cerita banyuwangi terdapat disana pak? terimakasih, jawaban dari bapak merupakan ilmu baru yang akan sangat membantu saya yang berkaitan dengan tugas kuliah.

  2. Untuk penyelamatan khazanah budaya, khususnya cerita rakyat/folklor perlu ada upaya yang tersetuktur. Terutama keterkaitan dengan instansi terkait dalam hal ini dinas pendidikan nasional dan kementerian Agama. Di Kementerian Agama ada Balitbang. Saya masih optimis, kalau folklor bisa dipertahankan”bisa diminimalisir” kepunahannya. Itu juga kalau pemerintah punya niat dan usaha untuk melestarikannya. Sebagai contoh: Perguruan tinggi dengan serius membuka Fakultas2 Ilmu budaya dalam hal ini yang terkait yaitu jurusan sastra daerah. kedua, rekrutmen Guru/dosen sastra daereh di wilayah masing-masing, mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. ini solusi sebagian kecil saja. Terima kasih

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim