Presiden Membagi KIP untuk Para Santri Berprestasi

Siswa anteng semua ketika dikunjungi Presiden.

SUMENEP – Masyarakat Sumenep begitu bungah hatinya. Kotanya dikunjungi Presiden RI Joko Widodo. Teristimewanya, kunjungan itu agenda utamanya adalah untuk Hari Perdamaian Internasional 2017.

Belum juga reda kebanggan itu, usai pembukaan Hari Perdamaian Internasional di Pondok Pesantren An-nuqayah, Presiden Joko Widodo bersama Gubernur Soekarwo melanjutkan acara, yaitu kunjungan ke Ponpes Al-Amien, Prenduan Sumenep.

Di Ponpes tersebut Presiden menghadiri halaqah kebangsaan bersama ulama, pengasuh, dan santri berprestasi se-Madura. Setelah itu, rombongan bertolak ke SMKN 1 Sumenep untuk menghadiri acara pembagian Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Sejumlah menteri hadir dalam kegiatan tersebut, termasuk Wakil Bupati Sumenep, Pangdam V/Brawijaya, Kapolda Jatim, Ketua Regional UN Women Asia Pasifik, Miwa Kato, para Kiai dan ulama se-Madura, serta delapan ribu santri takjim menyambut para tamu istimewa.

Terpisah dari pembagian Kartu Indonesia Pintar, Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid menyatakan kekagumannya kepada perempuan Madura. Menurutnya, perempuan Madura memiliki karakter yang ulet, pekerja keras, religius, serta senang bergotong-royong. Bahkan, banyak perempuan Madura yang bisa sukses meski harus merantau di tanah orang.

Karena itu, ketika UN women menghubungi Wahid Foundation untuk membuat kegiatan Perayaan Hari perdamaian dunia yang melibatkan kelompok perempuan di masyarakat, Yenny dengan yakin dan secara langsung memutuskan tempat yang paling tepat adalah di Pulau Madura.

Putri Presiden keempat RI, almarhum KH. Abdurrahman Wahid ini melanjutkan, tujuan acara ini agar para perempuan di Madura dapat memiliki program penguatan ekonomi keluarga. Melalui Wahid Foundation, Yenny akan membantu perempuan di Madura untuk meningkatkan kemampuan dalam mencari tambahan nafkah.
Di sisi lain, para perempuan juga diperoleh kemampuan untuk menerapkan nilai-nilai perdamaian di lingkungannya masing-masing sehingga tidak mudah terpancing oleh provokasi orang-orang yang ingin menciptakan konflik di tengah-tengah masyarakat.

“Kami juga melibatkan para kiai dan para gus untuk membantu membangun pemahaman kaum perempuan terutama mengenai nilai-nilai Pancasila, karena mereka lah orang yang paling tepat untuk bicara pancasila,” katanya. (*)

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2017. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim