Kamis, 30 Maret 2017

Anggaran Plangwot 625 Miliar Hilang dari Usulan

Dua dari lima Plangwot yang direncanakan untuk penanggulangan banjir Bengawan Solo. foto:istimewa

Jawa Timur sedang berjuang keras menggolkan pembangunan pintu air plangwot di wilayah aliran Bengawan Solo. Plangwot itu dibangun meliputi empat Kabupaten, mulai dari Lamongan, Gresik, Tuban, dan Bojonegoro. Dijadwalkan, hari ini Selasa (14/3), Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, menghadap Presiden Joko Widodo untuk membicarakan masalah dana pembangunan pintu air  plangwot tersebut.

Kepala Dinas PU Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jawa Timur, menggungkapkan, terkait pembangunan Plangwot tersabut masih terganjal masalah pendanaan dan permasalahan lahan. Di Gresik terkendala pembebasan lahan dengan biaya besar. Sebab itu dana dari pemerintah pusat sangat dibutuhkan.

Menurut dia, pembangunan dua pintu air itu bisa segera terlaksana. Dengan pembangunan pintu air elektrik di Plangwot permasalahan banjir bisa teratasi. Dengan teknonologi elektrik, pintu air ini bisa cepat dibuka saat banjir datang.

Masalah lain, bangunan pintu air Plangwot sebagai pengendali banjir malah tidak dimasukkan dalam daftar isian proyek (DIP) BBWS Bengawan Solo. Anggaran yang tidak jadi diusulkan itu senilai Rp 625 miliar. Namun yang termasuk dalam DIP malah Babat Barrage dan Bojonegoro Barrage yang kegunaannya hanya untuk air baku, bukan untuk pengendali banjir.

Dana penanggulangan banjir itu sebelumnya sudah diusulkan ke Pemerintah Pusat oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur agar segera ditangani. Pemerintah Provinsi ingin menambah dua pintu air dari tiga menjadi lima. Selain itu, juga untuk perbaikan pintu pintu air lainnya yang manual menjadi elektrik. Semisal pintu kuro dan pintu tambak.

Sebelumnya, Soekarwo, kecewa kepada BBWS Bengawan Solo karena anggaran sebesar Rp 625 miliar untuk menambah dua pintu air pengendali banjir di Plangwot Sidayu Lawas-Gresik tidak diajukan ke pusat.   “Anggaran Rp 625 miliar itu hilang dari usulan. Lha ini kan aneh. Kita sudah mengusulkan teryata di Pusat tidak ada,” kata gubernur yang biasa dipanggil Pakde Karwo ini.

Menurut Gubernur, Plangwot harus sudah dibangun lagi dua pintu baru karena kapasitas tiga pintu saat ini sudah tidak mencukupi lagi mengalirkan debit air Bengawan Solo. Elevasinya SHPP sudah ketinggian muka air 620, padahal batas siaga merah 550. Debit air yang mengalir saat ini pada pintu Plangwot hanya 515 meter kubik per detik, maka perlu adanya penambahan pintu air dua unit di Plangwot. (*)

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2017. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim