”Sihir” Jatimnomic di Kementrian Pan-RB

Pakde Karwo, Gubernur Provinsi Jawa Timur, menyihir Juri Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2016 di Gedung Kementrian Pan-RB dengan mantera Jatimnomics. foto:humasjatim

Film Harry Potter memang sudah lewat. Namun orang yang menggandrungi film ini tak pernah surut berharap agar ada sekuel baru yang berbicara lebih mengasyikkan soal penyihir cilik nan legendaris itu.

Itu di film. Dunia rekaan. Hal khayalan. Dipadu dengan kehebatan plot dan akting. Dikemas dalam balutan sinematografi yang habis-habisan. Hasilnya luar biasa. Orang sedunia bagai tersihir oleh karya sinematografi itu. Seperti nyata, seperti sungguhan. Sampai-sampai, film itu, ketika hendak beredar di negeri ini mendapat kritik cukup pedas. Ada seruan juga agar khayal itu dilarang tayang. Katanya tidak mendidik, katanya memelihara dan bisa menghidupkan ilmu sihir. Masak sih? Masak iya? Apakah justru tidak sama sekali?

Itu di film. Itu di karya sinematografi. Padahal kita tidak hendak membicakan sinematografi. Karena tulisan ini menjumput kata sihir – meski dalam tanda kutip – sebagai pembuka tulisan tentu sedikit ilustrasi soal kata terkait sihir perlu disinggung sedikit. (Ya, agar lebih sedikit sugestif saja sebenarnya, selebihnya agar lebih menarik).

Sebenarnya, yang hendak kita bicarakan dalam tulisan ini adalah “sihir” Pakde Karwo, Gubernur Provinsi Jawa Timur. Baru-baru ini, Pakde Karwo mampu menyihir para Juri Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2016 di Jakarta. Sihir itu menangkup Ruang Rapat Sriwijaya II, di Gedung Kementrian Pan-RB, Jakarta, Senin (29/2). Mereka terpukau, mereka kehabisan kata untuk bertanya. Mereka hanya mampu menyimak lalu gemuruh tepuk tangan kekaguman.

Para juri itu terdiri dari delapan orang. Mereka bukan orang sembarang. Mereka adalah para ahli di bidangnya. Delapan juri tersebut adalah Prof. JB. Kristiadi dari Kemendagri, Prof. Eko Prasojo mantan Wamenpan RI, Prof. Siti Zuhro dari LIPI, H. Indah Sukmaningsih, MPA dari YLKI, Bambang Setiawan dari Litbang Kompas, Ir. Neneng Goenadi dari Tim Kwaluti RB, Wawan Sobari dari Jawa Pos, dan Drs Nurjan Mohtar. Meski mereka bukan orang sembarang, toh terpukau juga dengan “mantera” Pakde Karwo.

Mantera dan rapalan apa yang sesungguhnya dibawa Pakde Karwo? Tak lain dan tak bukan adalah Jatimnomics. Gubernur Jawa Timur untuk periode kedua ini memaparkan gagasan berikut terobosan yang terangkum dalam Jatimnomics. Gagasan membangun Jawa Timur itu mendapat dukungan penuh dari DPRD Jawa Timur dan Forpimda serta Kabupaten/Kota di Jawa Timur.

Dipaparkan Pakde, mantera asli yang lahir dari Jawa Timur ini mampu membangun kepercayaan masyarakat dalam hal meningkatkan kualitas hidup. Bisa dilihat; makin banyaknya masyarakat Jawa Timur yang berkespansi ke berbagai wilayah di Indonesia –  khususnya di Indonesia bagian timur dan tengah.  Meningkatkanya kondisi perekonomian masyarakat di Jawa Timur. Meningkatkan nilai jual produk dari Jawa Timur dengan adanya industri olahan. Memberikan bunga murah kepada masyarakat yang tidak bankable agar terhindar dari rentenir.

Pakde Karwo menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada tahun 2015 sebesar 5,44 persen, lebih tinggi dibandingkan nasional yakni 4.79 persen. Produk Domestik Regional Bruto (DRB) Jawa Timur 2015 sebesar 1.689,88 triliun dengan share sebesar 14,64 persen terhadap nasional. Struktur PDRB jawa Timur 29,27 persennya didukung oleh indsutri pengolahan. Sebab itu, Jawa Timur mendorong agar industri pengolahan dari on farm ke off farm karena memberikan nilai tambah yang besar bagi petani. Contohnya, saat ini di Kabupaten Lumajang stok pisang yang ada diolah agar mempunyai kualitas yang tinggi. Selain itu, pisang yang biasa dikonsumsi diubah menjadi olahan lain seperti keripik pisang sehingga mampu memberikan nilai tambah.

Dalam menghadapi era perdagangan bebas, sebagai upaya menuju pertumbuhan ekonomi yang inklusif, maka Jatimnomics adalah sebuah solusi. Karena itu diperlukan tiga aspek Jatimnomics yang menunjang aktivitas ekonomi utama. Yakni, aspek produksi dari segmen UMKM dan segmen besar, aspek pembiayaan yang kompetitif, dan aspek pemasaran.

Aspek produksi dari segmen UMKM dan segmen besar dimulai dengan penyiapan data UMKM karena terbukti dapat menjadi penunjang pertumbuhan ekonomi maupun penyerapan tenaga kerja. Dari data BPS jumlah UMKM semakin bertambah tiap tahunnya, pada tahun 2008 terdapat 4,2 juta UMKM,dan sampai tahun 2012 sebanyak 6,8 juta UMKM.

Dari angka itu, Kata Pakde, hanya 3.476 UKM yang siap ekspor hasil produksinya. Perlu peningkatan integrasi antara UMKM dan usaha besar agar bisa bersaing dalam MEA. Salah satu upaya Pemerintah adalah meningkatkan kualitas UMKM dengan menggenjot kualitas SDM bagi wirausaha baru dengan membangun inkubator bisnis dan standarisasi keterampilan SDM yang melibatkan kerjasama dengan perguruan tinggi. Dengan ITS juga dengan Universitas Brawijaya.

Pemerintah Jawa Timur juga berupaya agar meningkatkan dan menyiapkan SDM dengan kualitas bagus. Upayanya adalah standarisasi ketrampilan SDM, diantaranya dengan pembangunan SMK mini. Di SMK mini itu diajarkan ketrampilan yang berstandar internasional dan mencetak wirausaha.

Sampai tahun 2014 terdapat 70 SMK mini, setiap kelas berisi 30 anak. Diharapkan dengan SMK Mini tercipta 24.300 tenaga kerja berstandar internasional. Pada tanggal 22 Maret 2016 sudah ada MOU antara Jawa Timur dengan Amerika Serikat mengenai community college atau keterampilan standar internasional. Sebelumnya sudah ada kerjasama dengan Jerman pengiriman SDM ke Jerman, ke Osaka dan rencana dengan Australia Barat dengan pendidikan vokasional. Berbagai upaya tersebut bertujuan agar SDM Jawa Timur bisa diterima di dunia kerja internasional.

Sihir memukau itu pun terus berlanjut. Pakde Karwo menyebut, perlunya aspek pembiayaan kompetitif. Yaitu, dengan menyinergikan potensi sumber pendanaan baik yang dimilik oleh pemerintah melalui APBD, perusahaan seperti Bank Jatim dan bank UMKM. Melihat adanya keterbatasan kekuatan fiskal maka strategi yang dilakukan adalah memberikan fasilitasi yakni dengan memberikan kemudahan dalam pengembangan usaha melakukan business forum dan diplomasi ekonomi. Memberikan government guarantee yakni tersedianya listrik, lahan, kemanan, kemudahan perijinan, sdm dan diberikan kemudahan ijin. Sedangkan untuk segmen UMKM khususnya diberikan bantuan pembiayaan.

Stimulasi juga digunakan khusus segmentasi UMKM yaitu memberikan bantuan sektor produktif seperti bantuan infrastruktur sarana produksi primer untuk meningkatkan efisiensi dan nilai tambah sektor produktif. Dan yang tidak kalah adalah intervensi yang ditujukan untuk kelompok ekonomi lemah diantaranya rumah tangga sangat miskin (RTSM) yang bersifat pemberdayaan dan sebagian kecil bersifat bantuan atau charity.

Sedangkan aspek pemasaran dilakukan sinergitas peningkatan produksi UMKM dan usaha besar serta optimalisasi strategi pembiayaan yang kompetitif dengan perluasan pasar, utamanya melalui peningkatan penguasaan pasar dalam negeri dengan mendorong kinerja luar negeri melalui analisisi pasar non konveksional, dengan tetap memperhatikan kondisi makro ekonomi Negara tujuan ekspor maupun mengidentifikasi kecenderungan permintaan konsumen.

Sebagai upaya memperluas pemasaran, Jawa Timur telah membuka kantor perwakilan dagang di 26 Provinsi. Ini sangat penting karena peluang pasar yang demikian lebih efisien dilinkage dalam satu jejaring regionalisasi perdagangan. Sebagai mantera penutup, Pakde Karwo menginformasikan bahwa potensi transaksi perdagangan tahun 2015 mencapai Rp 804,578 triliun atau surplus Rp 99,831 triliun. widikamidi

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2017. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim