Membaca Indikator Ambruknya Produk Garmen Lokal

Garmen lokal di Gresik yang sepi order. foto: widi

Produk garmen dan tekstil ambruk saat ini Ambruk. Pasar lokal kini tidak lagi dikuasai produsen lokal. Garmen yang dulu menjadi sentra produk lokal dari berbagai daerah, sekarang mayoritas made in China.

Indikator pasar sandang bakal ‘dijajah’ produk China itu sebenarnya sudah terbaca jauh-jauh hari. Saat itu produk lokal bersaing ketat dengan garmen impor dari China yang masuk secara ilegal di sentra-sentra pasar garmen. Lalu, produk sandang lokal mulai tersingkir.

Ambruknya produk garmen lokal adalah salah satu indikasi, perdagangan bebas ternyata mimikri penjajahan bentuk baru. Mematikan usaha kecil menengah, melahirkan budaya konsumtif, dan menempatkan negeri yang dulu mampu memenuhi kebutuhan sandangnya ini hanya sebagai pasar. Pasar produk asing.

Banjirnya produk asing memaksa kita berkesimpulan, bahwa perdagangan bebas tidak bermanfaat bagi rakyat dan negeri ini. Ada banyak faktor kenapa itu terjadi. Selain tidak terdidik dan dididiknya rakyat negeri ini, juga kebijakan pemerintah yang terkesan ‘tidak pro rakyat’. Bisa disebut begitu, karena tidak ada proteksi dari pemerintah terhadap melubernya barang impor, dan rakyat tidak disiapkan untuk bersaing di tingkat global.

Lihatlah bagaimana sulitnya produk Indonesia memasuki pasar China, Amerika atau Eropa. Alasannya ada saja. Melalui survey dan penelitian sebagai senjata untuk melakukan penolakan, dan alibi itulah yang dipakai sebagai pembenar atas embargo terhadap berbagai produk Indonesia selama ini.

Kendati penolakan itu kemudian berhasil dipatahkan di tingkat WTO, tetapi negeri ini tidak kunjung berkesadaran, bahwa itu adalah bagian dari perang dagang. Perang berebut pasar yang dilabeli ‘fair play’  untuk menguasai perekonomian berbagai negeri kecil dan berkembang. Penjajahan baru yang dikemas kesetaraan itu menjamur. Mereka bermain dengan aturan main yang dibuat untuk keuntungan sepihak.

Memang benar, kesetaraan adalah bagian dari roh negeri ini merdeka. Dalam pembuka UUD 45 tergaris, kemerdekaan adalah hak segala bangsa, untuk itu penjajahan di muka bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan. Namun adakah kematian usaha rakyat di bidang garmen yang sesuai dengan aturan main internasional masuk peri-kemanusiaan dan peri-keadilan?

Rakyat telah bosan dan nyaris frustrasi dengan argumen para pemimpin negeri ini. Sebab ujung dari keresahan dan jerit tangis itu hanya berbuah rakyat yang disalahkan. Padahal ini bukan antar orang per orang, tetapi negara yang harus dihadapi oleh perorangan. Oleh rakyat negeri ini.

Tidaklah salah jika banyak yang bertanya-tanya, negara ini ada dimana ketika rakyat dinista oleh berbagai aturan asing, dikibuli perusahaan asing, ditipu produk asing, dan dijadikan komedi putar melalui kedelai impor, daging impor, bawang impor, garam impor, sandang impor dan berbagai barang elektronik impor?

Sekarang mendekati pergantian tahun. Di tahun 2015 nanti, menghadang tantangan baru yang bernama perdagangan bebas Asean.  Perenungan layak dilakukan untuk itu semua. Ketidak-berdayaan rakyat terhadap gempuran produk impor dan dipertanyakannya tanggung-jawab negara mengingatkan kita pada figur penentang yang melakukan pertentangan dengan damai.

Jika di India ada tokoh Mahatma Gandhi, di Indonesia terdapat sosok sama yang bernama Samin Soerosentiko. Sosok inilah yang mengajarkan sikap nrimo dan nriman. Perintah penjajah di-iya-kan tapi tidak dilaksanakan. Ditampar pipi kiri minta ditampar pula pipi yang kanan.

Pemberontakan diam itu ampuh melawan penjajah. Penguasa menganggapnya bodoh, untuk itu tidak diperdulikan lagi. Kemandirian dan kesetaraan akhirnya berhasil diwujutkan komunitas ini, dan jadilah ‘Manusia Samin’ itu sebagai manusia merdeka yang sebenar-benar merdeka. Sandang pangan diproduksi sendiri, mencukupi, tanpa perlu pusing-pusing memikir siapa pemimpin negara dan berada di negara mana dia berada.

Adakah itu yang harus dilakukan rakyat negeri ini sekarang, di saat negara gagal membendung arus deras masuknya produk impor? Mudah-mudahan Kabinet Kerja dari Presiden Jokowi mampu memberi terapi. Menunjukkan pada rakyat negeri ini, bahwa Negara Indonesia masih ada, dan berani pasang badan, berdiri di depan rakyatnya. (*)

3 Komentar Pembaca

  1. menurut saya, kesimpulan ini masih terlalu pesimistis “Banjirnya produk asing memaksa kita berkesimpulan, bahwa perdagangan bebas tidak bermanfaat bagi rakyat dan negeri ini”, memang negara kita mengalami defisit terutama di sektor-sektor yang mempunyai nilai tambah yang rendah, namun itu bukan berarti bahwa negara kita tidak bisa mengambil manfaat dari adanya perdagangan bebas. Lebih baik melihat perdagangan bebas ini sebagai tantangan dan memikirkan bagaimana caranya menyiapkan diri utk menjadi lebih baik dan mengambil keuntungan dari perdagangan bebas ini karena kita adalah negara yang besar dengan berbagai sumber daya yang ada.

  2. keluhan begini menurut saya udah usang, ba bi bu memprotes membanjirnya produk produk dari luar negeri, kuncinya ya di masing masing orang indonesia itu sendiri yang setidaknya bisa menghargai produk produk dalam negeri

    dan support pemerintah itu sendiri untuk mensubsidi komoditas untuk produksi dalam negeri

    asal tahu saja produk china 3x lebih murah dari indonesia, ya kalau saya jadi pedagan yang mendahulukan untung sebesar2nya, saya bakan impor dari china lalu saya jual di indonesia.

  3. bagaimanapun ini harus diselesaikan, jika tidak yang terkena dampaknya adalah masyarakat yang menggantungkan hdupnya dari garmen dan tekstil pemerintah harus cepat tanggap mengatasi apalagi masalah perkonomian

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2020. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim