Pentingnya Memutus Disparitas dan Rantai Kemiskinan

Pentingnya pendidikan dini untuk anak. foto: dok JPNN

Membangun Pendidikan yang Masif di Daerah Tertinggal

Pendidikan harus dibangun masif di daerah tertinggal. Tujuannya adalah untuk mengatasi masalah disparitas serta memutus rantai kemiskinan.

Melansir pernyataan Wakil Gubernur Jawa Timur, Drs. H. Saifullah Yusuf, dalam seminar “Kebijakan Pembangunan Daerah Tertinggal di Nusantara” di Fakultas Ilmu Sosial Unesa Surabaya, Indonesia sejatinya masih memiliki problem utama, yakni problem kesenjangan atau disparitas.

Indonesia memang mengalami kemajuan di berbagai bidang.  Capaian kemajuan tersebut juga dipuji oleh dunia internasional. Ditengah kondisi ekonomi global yang sedang krisis, perekonomian di Indonesia masih tetap stabil.

Menurut Saifullah Yusuf, Amerika dan Eropa mengalami krisis ekonomi yang hebat. Sementara Indonesia tidak. Indonesia tetap stabil pertumbuhan ekonominya. Tetapi kestabilan tersebut bukan berarti tanpa masalah, sebab pertumbuhan ekonomi yang bagus itu belum bisa dinikmati oleh semua masyarakat.

Bisa disimak, pendapatan per kapita masyarakat naik. Tetapi yang merasakan kenaikan itu hanya sebagian masyarakat saja. Tidak semua mendapatkannya. Bahkan Bank Dunia menyebutkan, masyarakat Indonesia yang kaya makin kaya sedangkan yang miskin malah tambah miskin. Artinya ada disparitas antar individu yang dialami bangsa ini.

Ini belum termasuk disparitas antarwilayah di Indonesia. Terdapat daerah yang begitu maju seperti di Jakarta dan Surabaya, tetapi juga ada daerah yang sangat tertinggal seperti di pedalaman Papua dan Kalimantan. Baik secara Sumber Daya Manusia (SDM) maupun infrastrukturnya.

Problem utama yang dialami masyarakat yang berada di daerah tertinggal adalah kemiskinan. Hal itu dapat dilihat dari rendahnya angka indeks pembangunan manusia (IPM) yang merefleksikan pencapaian tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu wilayah. IPM diukur dari tiga dimensi penting kehidupan manusia, yakni pengetahuan, kesehatan, dan gizi serta kemampuan ekonomi rumah tangga.

Menurut Saifullah Yusuf, salah satu cara untuk memutus rantai kemiskinan adalah melalui pendidikan. Sebab dengan mengenyam pendidikan yang cukup, maka kesempatan untuk mengubah nasib menjadi lebih besar. Sebaliknya, jika tidak bisa memiliki pendidikan yang cukup dikhawatirkan akan menciptakan DNA orang miskin.

Banyak negara yang melakukan pola pendidikan dengan sangat ekstrim. Contohnya Malaysia pada 1974 yang berani menggelontorkan dana besar-besaran untuk menyekolahkan anak-anak di kampung. Ratusan ribu anak dikeluarkan dari kampungnya untuk disekolahkan, dua puluh tahun kemudian, atau hari ini bisa kita saksikan, anak-anak itu menjadi orang yang luar biasa dan menjadikan Malaysia maju seperti saat ini. (*/idi)

Komentar Pembaca

  1. assalamu’alaikum

    mohon maaf pak/bu. Saya Fandy Eka ,mahasiswa fakultas ekonomi universitas airlangga, saat ini saya sedang menempuh skripsi yaitu tentang analisis “Pengaruh Pengangguran Terbuka, Rata-rata Lama Sekolah dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Ketimpangan Distribusi Pendapatan Kabupaten/Kota di Jawa Timur sebelum dan sesudah desentralisasi fiskal” dan sekarang sedang membutuhkan data Indeks Gini kabupaten/kota Jawa Timur.

    bagaimana dan dimana saya bisa mendapatkan data tersebut?

    Terima kasih atas perhatiannya, wassalamualaikum.

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2017. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim