Perdagangan Antardaerah di Jatim dari Masa ke Masa (bagian 1)

Komoditas pisang yang siap dikapalkan. foto:dok radarmadura

Jawa Timur memerlukan penguatan perdagangan antardaerah. Seperti ditegaskan Gubernur Soekarwo, peningkatan hubungan kerjasama perdagangan antardaerah ini sangat penting menghadapi Asean Economic Community (AEC). Terkait hal tersebut, www.bappeda.jatimprov.go.id menghadirkan tulisan ritme perdagangan antardaerah dari masa ke masa secara bersambung.

Perdagangan dari Jawa ke sejumlah provinsi atau negara sudah terjadi sejak bangsa Eropa belum mengenal Indonesia. Saudagar-saudagar Arab dan Cina sudah menginjakkan kaki di negeri ini pada abad ke-9 untuk mencari rempah-rempah.

Bangsa Melayu bahkan sudah melayarkan kapal tidak saja ke negara Asia tetapi juga ke Afrika untuk berdagang rempah-rempah. Cengkeh yang beredar di Arab kala itu asalnya juga dari Hindia Belanda.

Pulau Jawa kala itu adalah pulau yang subur dan penghasil utama hasil alam. Tak salah kalau bangsa Eropa mulai dari Portugis, Inggris dan Belanda mengincar negeri ini untuk dikuasai.

Pulau Jawa yang berada di tempat yang strategis dan subur, didukung pula oleh sungai yang masuk hingga ke pedalaman sehingga memudahkan untuk mengangkut hasil bumi.

Di Jawa Timur, misalnya, hasil bumi dari pedalaman diangkut menggunakan rakit menuju Pelabuhan Surabaya. Thomas Stamford Rafles dalam buku History of Java, mencatat, Pelabuhan Surabaya (Tanjung Perak), Gresik dan Sumenep tergolong pelabuhan yang ramai.

Jumlah muatan yang dibongkar muat di Pelabuhan Surabaya pada tahun 1813 hingga 1816 sebanyak 30 ribu ton. Di Gresik, banyak kapal lokal yang berlabuh. Melalui pelabuhan ini hasil bumi Pulau Jawa diekspor ke banyak negara. Di pelabuhan-pelabuhan itu kemudian berdiri pasar yang menunjang kegiatan perdagangan.

Beratus tahun setelah itu perdagangan dari Jawa ke banyak daerah dan negara tetap berlangsung. Khusus untuk perdagangan antarpulau, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, terus memacu.

Bahkan untuk mendukung perdagangan antarpulau, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mempunyai kantor perwakilan dagang (semacam atase dagang) di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi engah, Sulawesi Tenggara, NTT, Maluku, Bengkulu, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, Bali dan Sulawesi Tengah. (bbs/idi/bersambung)

Komentar Pembaca

  1. Pak Gubernur ysh, kami punya solusi untuk membuat perdagangan di Jawa Timur ini menjadi semakin lebih menarik, terutama dalam menurunkan resiko pembusukan bahan pangan yang kemungkinan dikarenakan penanganan yang kurang bersih maupun rusak dikarenakan faktor lainnya diluar kerusakan fisika dengan model irradiasi material perdagangan, terutama pangan. Kami siap untuk membuka investasi di Jawa Timur, menimbang penuturan Bapak bahwa perdagangan antarpulau tersebut cenderung naik, di mana pada 2010 terealisasi Rp208 triliun atau naik 17,9% dari 2009. “Tahun ini perdagangan antarpulau Jatim ditargetkan naik 17% menjadi sekitar Rp234 triliun menuju 23 provinsi. Menunggu undangan dari Bapak.

    Salam hormat,
    Teelus Inc.
    Samlibry Adhitia

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim