Ironi Negeri Tanpa Daulat Pangan

Dukungan daulat untuk pangan dari elemen masyarakat. foto:ist

Enam puluh sembilan tahun Indonesia merdeka, namun rakyatnya masih belum berdaulat pangan. Sementara pemerintahnya bergantung pada impor pangan.

Peningkatan impor pangan justru empat kali lipat dalam kurunwaktu 10 tahun terakhir. Sebanyak USD 3,34 miliar menjadi USD 14,9 miliar tahun lalu.

Penyusutan luas lahan pertanian lima juta hektare lebih, atau menurun 16,32 % dari 2003, selama 10 tahun. Jumlah petani juga menyusut 500.000 rumah tangga dalam kurun 10 tahun, saat ini hanya terdapat 26,14 juta keluarga tani dari tahun 2003 yang berjumlah 31,17 juta keluarga tani.

Kemerdekaan berarti seluruh bangsa Indonesia harus merasakan keadilan sosial, sesuai dengan sila kelima Pancasila. Bagi petani, kemerdekaaan itu berarti memiliki lahan minimal dua hektar, berdaulat benih, dan memiliki jaminan harga panen yang baik.

Meski 69 tahun usianya, masyarakat Indonesia masih banyak yang terhimpit kemiskinan. Ironisnya kebanyakan dari mereka berada di daerah pedesaan yang mayoritas memiliki pekerjaan sebagai petani.

Data BPS per Maret 2014 menunjukkan tingkat kemiskinan pedesaan sekitar 17 juta jiwa atau hampir 50 persen dari jumlah petani yang ada di Indonesia, 31,70 juta jiwa. Indeks Kebahagiaan (IK) masyarakat kota juga lebih tinggi daripada di desa, yakni 65,92 dan 64,32.

Muara dan dampak dari problem tersebut adalah kemiskinan agraria pedesaan. Realita kemiskinan pedesaan selalu di depan daripada kemiskinan perkotaan. Ini berarti kemuliaan rumah tangga desa penghasil pangan tidak diimbangi dengan kemuliaan ekonomi pertanian.

Oleh karena itu untuk mengubah keadaaan ini, presiden terpilih hasil Pemilu 2014 harus bergerak cepat, belajar, dan tidak mengulangi kesalahan pemerintahan terdahulu yang menyebabkan pertanian Indonesia terpuruk.

Semoga di perayaan tujuh dasawarsa kemerdekaan Indonesia tahun depan, presiden terpilih sudah menjalankan kebijakan-kebijakan pertanian yang bisa mewujudkan kedaulatan pangan melalui pembaruan agraria yang dijanjikan dalam kampanyenya. (agm/disarikan dari Henry Saragih, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia)

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim