Sukun, Potensi Ketahanan Pangan Dahsyat yang Tidak Tergarap

Buah sukun yang cukiup identik dengan kluwih.

Di Eropa sangat tenar dengan sebutan breadfruit. Sebuah sukun, yang beratnya sekitar 3 kilogram, cukup menyediakan karbohidrat dan makanan untuk sekeluarga yang terdiri dari 5 orang.

Nyaris di setiap jengkal tanah tegalan milik warga di Jawa Timur terdapat tanaman Sukun. Di Indonesia, tanaman ini cukup identik dengan tanaman liar. Liar dalam arti dibiarkan tumbuh dengan sendirinya, dan minim diupayakan untuk dirawat sehingga bisa menghasilkan buah yang maksimal.

Dalam beberapa hal, buah sukun dapat diolah menjadi panganan/camilan. Sayangnya, hasil olahan tersebut kerap dicap sebagai panganan ndeso. Karena itu, sukun dengan beberapa diversikasi bentuknya tak pernah bisa dikenal luas oleh masyarakat.

Kalau di negeri sendiri sukun dibilang makanan ndeso, hal ini justru tidak di banyak negara di Eropa. Ia sangat tenar dengan julukan buah roti alias breadfruit. Para ahli disana bahkan yakin, breadfruit adalah jenis makanan super.

Dikenal dengan nama Latin artocarpus altilis, sukun memiliki buah empuk kehijauan yang tak memiliki biji dengan tekstur milik kentang. Bisa dijadikan makanan utama atau jajanan.

Pohon dan daun sukun sejenis dengan kluwih

Dulu, sukun dijadikan makanan pokok Jamaica. Kini para ahli yakin, buah itu kembali bisa membawa ketahanan pangan di pulau itu yang mengimpor lebih dari setengah makanannya.

Dalam laman situs sains NewScientist dipaparkan, sukun secara luas dikonsumsi di Kepulauan Pasifik, dan lebih banyak sukun yang diproduksi dalam 1 hektar, daripada beras, gandum, atau jagung. Hanya sebuah sukun, yang beratnya sekitar 3 kilogram, cukup menyediakan karbohidrat dan makanan untuk sekeluarga yang terdiri dari 5 orang.

Sukun juga digiling menjadi tepung yang digunakan dalam jajanan manis atau asin, termasuk pancake dan keripik. Buah itu juga kaya vitamin dan mineral, serta menjadi sumber karbohidrat dan protein bebas gluten. Protein dalam buahnya mengandung asam amino lebih banyak daripada kedelai.

Diane Ragone dari Hawaii’s National Tropical Botanical Garden (NTBG) telah mempelajari tanaman sukun sejak tahun 1980-an – ketika orang-orang menilai buah tersebut hambar dan mengandung zat tepung. Selama ini ia telah meneliti ratusan varietas di 34 negara.

Bersama Nyree Zerega dari Northwestern University, Chicago, Dr Ragone melacak asal usul buah tersebut menggunakan analisis DNA. Kebanyakan buah telah ia periksa, termasuk sidik jari tanaman yang disebut kluwih yang tumbuh di New Guinea. Kluwih ini dianggap sebagai nenek moyang dari sukun.

Pada 2003, Dr Ragone mendirikan NTBG, institut yang intensif mempelajari sukun, yang mencakup sebuah kebun di Pulau Maui. Para ilmuwan juga bekerja sama dengan yayasan amal, Alliance to End Hunger yang bertujuan mendistribusikan sukun ke pelosok bumi yang tak dilimpahi dengan pasokan pangan cukup.

Isi dalam buah sukun.

“Tradisi di Polinesia, seseorang akan menanam sukun saat anaknya lahir. Untuk menjamin si bocah mendapat makanan sepanjang hidupnya,” kata Dr Ragone, seperti dikutip dari Daily Mail.

Pohon sukun membutuhkan sedikit perawatan dan berkembang di daerah tropis. Sekarang, para ahli sedang menyelidiki varietas mana yang terbaik sesuai lingkungan tertentu dan iklim – serta selera lokal – di negara-negara kurang ketahanan pangan.

Mereka juga mengidentifikasi varietas buah mana menghasilkan hasil terbaik dan kadar protein tinggi. Sejauh ini 35.000 pohon telah dikirim ke 26 negara, termasuk Jamaika dan Haiti. Para ilmuwan juga berhadap, suatu hari nanti akan ada hutan tanaman sukun di Karibia. Itu berarti tak akan ada lagi kelaparan.

Merunut sejarahnya, terkait dengan sukun, ilmuwan menemukan bahwa nenek moyang sukun adalah kluwih yang tumbuh di New Guinea. Versi lain menyebut, sukun diperkirakan dari kepulauan Nusantara sampai Papua. Mengikuti migrasi suku-suku Austronesia sekitar 2000 tahun sebelum Masehi, tanaman ini kemudian turut menyebar ke pulau-pulau di Pasifik.

Diperkirakan pada masa perdagangan rempah di akhir zaman Majapahit, sukun menyebar ke Jawa dari Maluku. Karena pengaruh kolonisasi bangsa-bangsa Eropa, sukun ini lalu menyebar ke barat antara tahun-tahun 1750-1800 ke Malaysia, India, Srilangka, Mauritius, dan pada 1899 tiba di Afrika. Kini sukun telah menyebar luas di berbagai belahan dunia terutama di wilayah tropis. (*/berbagai sumber)

Tags: 

Komentar Pembaca

  1. di desaku banyak sukun…tapi belum tau pasarannya…jadi yg untungpengepulny beli murah jual mahal..tegalasri wlingi blitar

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2017. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim