Gamelan Magetan Dibidik Sekolah-Sekolah Malaysia

Wahyudiono, perajin gamelan di Magetan. foto:widikamidi

Dilema Wahyudiono, Perajin Gamelan Magetan yang Dilamar Malaysia dengan Iming-iming Gaji Sak Njaluke

Negara Malaysia ternyata pemesan paling besar produk gamelan dari Magetan. Jawa Timur. Bukan untuk pajangan sebagai barang antik, melainkan dikirim ke sekolah-sekolah. Tidak begitu jelas peruntukannya, buat sekolah khusus kesenian atau sekolah umum. Namun jelas bahwa minat Malaysia mengalahkan minat sekolah-sekolah di negeri sendiri untuk melestarikan warisan peralatan musik tradisi.

Wahyudiono, 33 tahun, adalah perajin gamelan di Magetan yang pernah dilamar Malaysia untuk mengajar di sana. Iming-imingnya adalah gaji yang sangat tinggi. Saat itu Malaysia menawarkan gaji sebesar Rp60 juta. Atau jika angka itu kurang Wahyudiono tinggal menyebutkan angka yang diminta.

Wahyu, demikian panggilan ngetopnya, sempat keder juga. Bayangkan, gaji Rp60 juta dalam sebulan, itu lumayan besar. Jika dibandingkan pendapatannya selama ini, ibarat keringat diperas pun, mengerjakan full pesanan gamelan dalam sebulan, keuntungannya tak sampai sebesar itu.

Namun, Wahyu yang secara turun temurun mengusai ilmu membuat gamelan secara otodidak memiliki pendapat lain. “Ingin mempunyai penghasilan tinggi, iya. Ingin kaya, iya juga. Siapa yang tidak ingin jadi orang kaya sih? Apalagi mengajar membuat gamelan di Malaysia tentu tak begitu repot kerjanya. Hanya tinggal menularkan. Selesai. Tapi saya merasa eman, tidak apa-apa lah keuntungan sedikit dibandingkan dengan tawaran gaji itu, namun bagaimanapun saya tetap nyaman berada di negeri sendiri,” kata Wahyu sembari membeber nasionalisme dengan cara pandangnya sendiri.

”Mitra Jaya Gamelan” inilah bendera Wahyudiono saat ini. Lokasinya berada di Desa Patihan, Karangrejo, Magetan. Bendera yang diwarisi secara turun-temurun juga. Pertama-tama yang menjadi perajin gamelan adalah kakeknya, kemudian ayahnya, dan sejak usia 10 tahun Wahyu sudah mampu menguasai ilmu membuat gamelan semua jenis.

Di zaman kakeknya, membuat gamelan selalu berdasarkan pesanan. Tidak adanya transportasi dan alat komunikasi menjadi penghalang keahlian sang kakek. Selain itu bahan baku juga langka. Jika tidak membuat gamelan si kakek menjadi perajin batu bata merah.

Bisnis kemudian diambil alih oleh ayah Wahyudiono. Saat inilah moncer-moncernya bisnis gamelan. Di zaman Presiden Soeharto gamelan adalah barang “wajib” dimiliki instansi pemerintah, sekolah, atau swasta-swasta yang berusaha mendekati kekuasaan.

“Mungkin saat itu tahun 1985. Bisnis gamelan ayah saya sangat lancar. Karyawan mencapai 60 orang lebih. Dalam setahun bisa mengirim 210 set gamelan. Itu belum termasuk puluhan pesanan khusus gamelan yang berbahan perunggu. Program transmigrasi yang dicanangkan Soeharto makin membuat Gamelan Magetan menyebar ke seantero nusantara,” ungkap Wahyu.

Namun ternyata kekuasaan Pak Harto ada masanya. Begitu lengser, pamor perajin gamelan surut drastis. Pesanan tinggal bisa dihitung dengan jari. “Lalu datanglah bom Bali satu. Pesanan gamelan makin sepi. Berikutnya bom Bali dua, produk gamelan mati plethes alias mati total.”

Nasib Mitrajaya Gamelan pun mati suri. Boleh dikata bangkrut. Karyawan yang berjumlag 60 lebih akhirnya dirumahkan. Menjelang meninggal dunia, Wahyudiono di tahun 2007, mengambil alih peran sebagai perajin gamelan.

Aktivitas perajin gamelan melayani pesanan, sebagian besar dipesan sekolah Malaysia. foto : widi

Wahyu muda yang sejak umur 10 tahun sudah berjibaku dengan besi, kuningan dan perunggu, berbuat sebisanya. Tidak ada order pun tetap bikin kalau-kalau ada keajaiban pasar. Sayangnya keajaiban tidak datang-datang. Ini diperparah dengan mewabahnya musik modern yang menyerbu pasar. “Saya sudah hampir mutung. Warisan ini mau saya tutup dan berganti bisnis lain. Saya pun merintis bisnis persewaan tenda. Untunglah musik Campurasari juga ikut mewabah. Sehingga menjadi penyelamat napsib perajin gamelan,” ungkap Wahyu.

Sejak ada geliat Campursari, gamelan mulai ada yang memesan. Meski bukan gamelan utuh, tetapi gamelan yang disesuaikan dengan nada-nada solmisasi musik modern. Order kecil-kecilan ini cukup membuat lega. Fenomena ini berlanjut terus hingga 3 tahun terakhir. Pesanan gamelan dengan set-set penuh mulai menggeliat kembali hingga datang penawaran menggiurkan dari Negara Malaysia itu. (widi kamidi)

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim