Harusnya Laut Bisa Mendukung Ketahanan Pangan

Potensi laut Pacitan. foto:widikamidi

Jumlah warga miskin di Indonesia ternyata didominasi oleh penduduk di wilayah pesisir. Jumlahnya kini bahkan mencapai 7,9 juta jiwa.

Prosentasenya adalah 25 persen dari total jumlah penduduk miskin di Indonesia.Angka tersebut diperoleh dari hasil kajian Kementerian Perikanan dan Kelautan. Menurut Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan, Ahmad Purnomo, dominasi kategori miskin warga pesisir karena banyak faktor. Demikian juga penyebabnya. Bisa disimak mulai dari rendahnya infrastruktur, kesehatan yang kurang baik, hingga kesejahteraan yang belum terpenuhi.

Menurut dia, potensi alam dari keanekaragaman hayati laut di Indonesia sangat besar. Namun, potensi itu masih berbanding terbalik dengan kondisi ekonomi warga pesisir. “Terumbu karang kita mencapai 14 persen dari luas yang ada di dunia. Dan 23 persen mangrove dunia ada di Indonesia. Bahkan 35 persen ekosistem ikan ada disini,” katanya.

Untuk itu, pengembangan SDA laut secara berkelanjutan harus menjadi prioritas guna tingkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Hal ini bisa diimplementasikan melalui upaya mitigasi dampak perubahan iklim penyelamatan mangrove dan terumbu karang.

Ahmad Purnomo menuturkan, saat ini terdapat 310 juta hektare kawasan mangrove di Indonesia namun yang menjadi kawasan konservasi hanya 15,8 juta hektare atau baru 5 persen wilayah laut Indonesia. Targetnya, ujarnya, luas tersebut ditingkatkan menjadi 20 juta hektare di tahun 2020 atau mencapai 6,5 persen dari luas laut Indonesia.

Pengembangan SDA laut ini, kata dia, sesuai dengan blue economy seperti arahan Presiden tentang pembangunan berkelanjutan. “Laut sehat akan mendukung ketahanan pangan. Pada April lalu pada Global Ocean Summit di Belanda, Indonesia juga telah menyatakan dukungan ketahanan pangan dari SDA laut,” tuturnya.

Sementara itu Deputi I Menko Kesra Bidang Koordinator Lingkungan Hidup dan Kerawanana Sosial, Willem Rampangilei menyatakan dukungannya atas upaya konservasi SDA laut. Perubahan iklim hingga terjadinya bencana karena cuaca ekstrim. Dalam hal ini, wilayah pesisir paling rentan terkena dampak karena kenaikan permukaan air laut dan abrasi.

Menurut dia, naiknya permukaan air laut akibat pemanasan global yang sebabkan gletzer di kutub bumi mencair. Bahkan, lanjut dia, hal itu menurunkan hasil tangakapan para nelayan dan juga tenggelamkan pulau kecil.

“Untuk lindungi mayarakat pesisir, Indonesia wajib tanggulangi dampak tersebut. Dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup 2014 yang  mengusung tema satukan langkah lindungi ekosistem pesisir dari dampak perubahan iklim, semoga menjadi bentuk upaya konrkret dari pemerintah menyelamatkan kawasan pesisir dan laut Indonesia,” tukasnya. (*/kmf)

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim