Komoditas Kakao Harus Diperhitungkan

dok wikipedia

Ekspor Naik Terus, Perlu Program Budidaya yang Masif

Nama latinnya Theobroma Cacao. Di Jawa Timur sentra perkebunan Theobroma Cacao alias Kakao ini tempatnya adalah di Kabupaten Trenggalek. Namanya adalah perkebunan Kakao rakyat. Sedikitnya ditanam di areal perkebunan seluas 100 hektar. Jumlah pohonnya tak kurang dari 80 ribu pohon.

Di tahun 2004 di Kabupaten Trenggalek produktivitas tanaman kakao tergolong rendah. Hanya 584 kg/ha per tahun. Karena rendah tersebut maka dilakukan beberapa pengkajian oleh kelompok tani kakao di Dusun Gading, Desa Suruh, Kec. Suruh, Kab. Trenggalek, dan seluas 25 hektar lahan dikerjakan secara bertahap.

Di Tahun 2006, kegiatan pengkajian dilakukan dalam bentuk identifikasi potensi dan permasalahan pengelolan perkebunan kakao rakyat, pembinaan kelembagaan petani, penerapan perbaikan teknologi budidaya kakao dan peningkatan kualitas petani kakao. Penerapan perbaikan teknologi budidaya dan pengelolaan hama terpadu (PHT) dilakukan di enam lahan petani, dengan melibatkan keluarga petani.

Pengumpulan data pada kegiatan identifikasi potensi dan permasalahan pengelolaan kakao rakyat menggunakan survai RRA. Perbaikan budidaya kakao dan peningkatan sumberdaya manusia dilakukan melalui pengamatan sebelum dan sesudah pelaksanaan pengkajian. Hasil kajian menunjukkan tanaman kakao tumbuh baik dan dengan naungan cukup baik melalui sistem polykultur dengan kelapa, cengkih, adpokat, nangka, petai pada satu lahan yang sama di lahan berlereng, tanam melingkar bukit dan drainase. Dengan upaya tersebut, petani bisa memanen buah kakao 5-20 hari sekali. Bijinya difermentasi di rumah dengan harga berkisar Rp18.000 per kilogram.

Sebelum ada kegiatan pengkajian, kelompok tani kakao kurang aktif. Namun setelah dibentuk satu kelompok tani Tunggal Jaya, jumlah anggota aktif menjadi 46 orang. Dalam sebulan sekali mereka melakukan diskusi menyangkut aplikasi teknologi dan berupaya menurunkan tingkat serangan hama 100%.

Menurut data Dinas Perkebunan Jatim, kakao merupakan salah satu komoditi perkebunan penting dalam pembangunan sub sektor perkebunan. Antara lain untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun sebagai komoditi ekspor. Komoditas kakao diusahakan oleh Perkebunan Rakyat (PR), Perkebunan Besar Negara (PTPN) dan Perkebunan Besar Swasta (PBS).

Hingga kini total luas areal Kakao Jatim sekitar 44.789 Ha atau sekitar 5%, terdiri dari nasional 917.634 Ha. Lahan tersebut meliputi Perkebunan Rakyat 21.070 Ha atau 47 % dan Perkebunan Besar 23.719 atau 53 %. Total luas areal Kakao Indonesia 917.634 Ha, dari jumlah tersebut tersebar di Sulawesi 549.421 Ha atau sekitar 60 %, Sumatera 146.241 Ha atau sekitar 16 %, Jawa 59.424 Ha atau 6,5 % dan lain-lain 162.548 ha atau sekitar 17,5 %.

Sentra pertanaman kakao pada Perkebunan Rakyat seluas 15.615 Ha terbagi atas Kabupaten Madiun 4.616 Ha, Pacitan 3.270 Ha, Blitar 1.689 Ha, Trenggalek 1.503 Ha, Ponorogo 1.360 Ha, Ngawi 1.304 Ha dan sisanya menyebar di 12 kabupaten lainnya. Produksi kakao pada Perkebunan Rakyat sebesar 4.005,6 Ton, produktivitas rata-rata 0,977 Ton biji kering/Ha/Tahun.

Kondisi tanaman kakao yang tua/rusak (TT/TR) seluas 1.179 Ha, tanaman belum menghasilkan (TBM) seluas 10.338 Ha, dan Tanaman menghasilkan (TM) seluas 4.098 Ha.

Teknik budidaya tidak optimal, pengendalian OPT masih kurang, petani belum seluruhnya menggunakan klon-klon unggul anjuran. Guna meningkatkan kembali produktivitas kakao, tahun 2006 dilaksanakan pengembangan dan intensifikasi. Realisasinya adalah terbangunnya kebun seluas 3.000 Ha terbagi atas Kabupaten Ngawi 200 Ha, Madiun 350 Ha, Tulungagung 200 Ha, Pacitan 400 Ha, Kediri 300 Ha, Trenggalek 350 Ha, Jombang 250 Ha, Blitar 250 Ha, Malang, 200 Ha, Magetan 250 Ha, dan Banyuwangi 250 Ha.

Kegiatan intensifikasi bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kakao sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani. Kegiatan intensifikasi seluas 3.750 Ha terbagi atas Kabupaten Ngawi 450 Ha, Blitar 400 Ha, Pacitan 400 Ha, Madiun 500 Ha, Trenggalek 400 Ha, Kediri 400 Ha, Ponorogo 400 Ha, Nganjuk 200 Ha, Jombang 200 Ha, Malang 400 Ha.

Ekspor kakao dari Jatim ke berbagai negara terus meningkat, seiring dengan tetap terjaganya kualitas komoditi tersebut dari serangan hama penyakit dan pengolahan yang baik. Tahun 2002 sebanyak 13.446.258 kilogram, meningkat menjadi 14.663.056 kilogram pada 2003. Pada 2004 ekspor kembali naik menjadi 19.629.543 kilogram dan 2005 mencapai 21.103.450 kilogram. Jumlah permintaan dan penawaran masih stabil dan belum pernah mengalami kelebihan produksi, sehingga di tingkat petani tidak mengalami kerugian. Harga jual serendah-rendahnya Rp 7.000 per kilogram. (cwt/berbagai sumber)

Komentar Pembaca

  1. mau tanya, daerah jawa timur manakah penghasil kakao dengan mutu terbaik ? apakah daerah penghasil kakao mutu tebaik tersebut adalah daerah yang dilakukan intensifikasi?

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim