1700 Peternak, 300 Ton Susu per Hari

Sapi-sapi produktif yang menghasilkan susu dengan kualaitas baik.

Awalnya Peternak Mati Suri Kini Jadi Potensi Unggulan Kabupaten Probolinggo

Lukisan sapi itu dipajang di ruang utama KUD Argopuro Kabupaten Probolinggo, tentu bukan tanpa sengaja. Melainkan memang sudah direncanakan ada di dalam ruangan tersebut. Pecinta lukisan atau bukan, mengerti estetika lukisannya atau tidak, boleh jadi tidak jadi masalah yang berarti. Sebab berada di ruang itu pasti tidak akan membicarakan lukisan tetapi membicarakan obyek lukis yang menjadi andalan kor bisnis di KUD Argopuro, yaitu sapi perah.

Pelambang sapi yang besar, gemuk, dan sehat itu sejatinya adalah harapan semua anggota KUD Argopura yang jumlahnya mencapi 2 ribu orang pertenak. Sejumlah 1700-an yang tercatat menjadi aggota aktif sedang sisanya adalah anggota pasif. Anggota aktif adalah yang mempunyai hubungan transaksi tiap hari dengan KUD Argopuro, sementara yang pasif sebenarnya merupakan calon anggota. Mereka berhubungan dengan KUD tapi tidak menransaksikan susunya ke KUD. Paling banter mereka hanya berhubungan soal pakan ternak, obat-obatan dan peralatan-peralatan lain untuk perawatan ternak.

Harapan ribuan peternak di Desa Krucil, Kecamatan Krucil itu boleh dikata sundul langit alias sangat tinggi. Bahkan Suloso – Manejer KUD Argopuro – menamainya sebagai republik mimpi. Harapan dan mimpi itu adalah sapi-sapi perah di Krucil diproyeksikan menembus angka 30 ton susu segar per hari dalam 5 tahun ke depan. Progres baik yang berhasil dilewati tahun-tahun belakangan ini membuat mereka optimis mampu melampauinya. Sekarang ini saja, susu yang dihasilkan sudah menyetuh angka 27 ribu per hari.

Manajemen Gagal

Target besar tersebut memang ngotot dipasang. Menurut Suloso itu juga sudah menjadi bagian dari komitmen peternak bersama pengurus KUD. “Kita ingin menunjukkan bahwa peternak kita mau maju. Memiliki progres yang bisa diandalkan. Juga tidak cepat puas dengan capaian-capaian yang sudah ada sekarang. Sebab, tantangan produksi susu ke depan tentu juga akan lebih sulit daripada yang ada sekarang,” terang Suloso.

Bahu membahu antara anggota dan pengurus KUD itu memang memunculkan semangat tersendiri. Sebab mereka selalu ingat dulunya mereka adalah peternak yang gagal. Kegagalan masa lampau itulah yang membuat mereka akan menebusnya sampai kapanpun.

KUD Argopuro, terang Suloso, berdiri tahun 1981. Kala itu masih bernama BUUD dan seiiring dengan kebijakan lalu berganti nama menjadi KUD. Tahun itu digelontor fasilitas sapi perah oleh pemerintah orde baru. Namanya Banpres alias Bantuan Presiden.  Kecamatan krucil mendapatkan 600 ekor sapi perah. Bantuan turun dalam 3 tahap, masing-masing  200 ekor per tahapnya.

“Dalam perjalanannya,  bantuan sapi perah dari pemerintah yang sangat baik tersebut direspon juga sangat baik oleh masyarakat. Namun, apa yg diinginkan pemerintah tidak semulus yg diharapkan. Sapi perah yang diprioritaskan untuk mengeluarkan susu banyak tidak tercapai dengan baik.  Coba bayangkan, berapa duit yang dikeluarkan pemerintah yang sangat baik tadi untuk 600 ekor sapi. Tentu saat itu jumlah sudah bermiliar-miliar,” kata Suloso.

Baru ketahuan, harapan pemerintah tidak tercapai lantaran kendala skill di tingkat peternak yang belum memadai. Peternak di Krucil ternyata hanya terbiasa dengan sapi potong dan sapi karapan. Padahal sapi perah manajemen pemeliharaanya jauh berbeda dengan yang biasa mereka lakoni. Dari 600 ekor sapi produksi yang dihasilkan paling tinggi hanya 1500 liter. Padahal, idealnya harusnya muncul rata-rata 6000 liter per hari. Jadi, batuan ini tidak berkembang atau malah boleh dikata sebagai penurunan.

“Bantuan itu datang begitu saja. Sementara masyarakat belum dibekali skill memadai. Manjemen yang memadai pula. Sudag pasti produktivitastidak berkembang. Jarak anak-beranak sampai 2 tahun lebih padahal idealnya 13 bulan sudah harus eranak. Lalu tahun 1993 mulai kita mencoba kembali evaluasi kenapa dengan potensi wilayah yang bagus seperti ini kok hasil tidak bagus. Lalu bertemulah  kita dengan para ahli reproduksi dan mitra yaitu raksasa susu Nestle,” kenang Suloso.

Pemeliharaan yang memperhatikan gizi sapi

Eman-eman

Pimpinan Nestle di bidang agriservis saat itu mengatakan sangat eman-eman dengan kenyataan ini. Potensi alam sangat mendukung lebih eman lagi kalau tidak dimaksimalkan. Lalu bersama-sama dievaluasi. Motivasi semua pihak, mitra kerja, pemerintah, peternak akhirnya dapat skill dari pengalaman gagal tersebut. Lalu mulai bangkit.

“Masalah pertama ternyata calving interval, jarak beranak terlalu panjang. Yang kedua ternak kurang diberi makanan yang baik juga nutrisi yang baik. Yang tidak bisa beranak segera diperiksa ahli reproduksi. Jikalau ada kelainan diobati. Dari sinilah mulai ada harapan dan harapan tersebut didukung oleh Nestle. Ini menjadi kepercayaan luar biasa dari anggota. Dengan percaya diri mulailah peternak, pengurus, karyawan termotivasi mengembangkan KUD,” Kata Suloso .

Tahun 1993 mulai ada pertumbuhan. Tahun-ke tahun berikutnya meningkat terus. Tahun 1997 mulai dipercaya perbankan. BNI mengucurkan dana 887 juta rupiah. Padahal sebelumnya sapi yang jumlahnya 600 ekor itu hanya tertingal 90 ekor. Mati banyak. Dengan batuan para ahli reproduksi sapi akhirnya sapi gampang berahi. Juga gampang bunting. Sapi yang sudah gemuk-gemuk akhirnya juga beranak. Dari tinggal 90 ekor beranak menjadi dua  kali lipatnya. Produksi susu pulih menjadi 1500 liter  per hari. Lalu naik menjadi 4000 liter.

Pada tahun 2005 produski mampu nembus 15 ribu liter dengan populasi sapi 1500 ekor. Sementara totalnya dengan sapi anakkan sekitar 2000 ekor. Progres ini  membuat pengurus KUD makin percaya diri untuk berpromosi. Bahwa, sapi perah lebih menguntungkan daripada sapi potong yang notabene sapi Madura itu. Selain dapat susu, turunan jantan bisajadi sapi pedaging. “Kita membuat program revolusi putih di desa-desa. Masyarakat akhirnya mencoba mengganti sapinya. Kredit sapi dari KUD pun diberikan untuk mempermudah jalannya revolusi tersebut.”

Dengan 9 pos penampungan susu yang ada, volume uang yang berputar mencapai 3 miliar per bulan. Padahalnya sebelumnya cukup mengenaskan, dulu hanya mempunyai 3 pos penampungan. Jumlah pos tersebut sekarang cukup mumpuni walau masih perlu ditambah lagi. Sebab populasi sapi sudah berada di kisaran 4.600 ekor. Sementara untuk investasi membangun penampunan susu per unitnya mencapai 500 juta rupiah.

Kor bisnis KUD Argopuro adalah susu. Jadi perputaran susu itulah yang menjadi fokus. Sementara bisnis pakan ternaknya, meski sudah mampu membangun pabrik sendiri, adalah bisnis penunjang. Pabrik pakan yang dibangun sesuai dengan kebutuhan sapi tersebut cukup terealisai, yaitu 600 ton per bulan. Pabrik tersebut untuk kebutuhan anggota dan non anggota. Sementara volume penjualannya mencapai 1,6 miliar per bulan.

Penunjang lain untuk kebutuhan anggota adalah pengadaan beras. Tiap bulan beras yang terjual ke anggota mencapai 25 ton. Selain beras juga menyediakan sarana-sarana untuk perawatan sapi perah. Anggota tinggal mengambil kebutuhannya dan dibayar dengan susu. “Ambil saja, baru potong susu kemudian.”

Jumlah peternak yang besar membuat KUD Argopuro juga realistis. Banyak karyawan yang harus dipekerjakan. Saat ini tak kurang dari 55 karyawan untuk mengurus operasional KUD. Itu tidak termasuk 70 puluhan PPL yang dikaryakan secara swakarsa. PPL swakarsa tersebut bekerjanya adalah divisi pelayanan sapi perah, dokter sapi, petugas inseminasi buatan yang kerjanya tur dari kandang ke kandang.

Untuk simpan pinjam berjalan lancar meski harus menggunakan prinsip kehati-hatian. Simpan pinjam hanya melayani anggota saja dan sifatnya adalah bisnis penunjang. “Volume perputarannya hanya 100 jutaan. Kecil saja, tapi selamat, karena ini sifatnya adalah penunjang. Ndak apa-apa kecil asal aman. Sebenarnya potensi simpan pinjam ini besar. Masyarakat disini adalah beternak, petani dan pedagang. Yang petani adalah potensi besar. Tapi kita belum menggarapnya serius. Sebab kita masih ragu dengan fluktiasi harga panen yang tidak bisa jadi jaminan,” pungkas manajer yang juga peternak dan memiliki 41 sapi perah. Dari jumlah tersebut perhari tak kurang 350 liter susu dihasilkan. (widi kamidi)

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2018. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim