Strategi Connectivity Perdagangan Hasilkan Surplus

perdagangan antarpulau dan antarprovinsi

Ilustrasi

Kecintaan masyarakat Jawa Timur terhadap produk dalam negeri patut diacungi jempol. Dari total penggunaan produksi yang dihasilkan di Jawa Timur, sekitar 92,33 persennya merupakan produk dalam negeri yang dihasilkan di Jawa Timur. Sisanya, sekitar 7,67 persennya adalah produk hasil impor bahan jadi. Terciptanya iklim tersebut tak lepas dari kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur

Gubernur Jawa Timur, Pakde Karwo, menerapkan kebijakan peningkatan iklim ekonomi dan perdagangan dalam bentuk regulasi. Salah satu diantaranya adalah regulasi penggunaan produk holtikultura, produk industri dan juga produk hasil kerajinan batik. Kebijakan cukup ekstrim di Jawa Timur juga diterapkan untuk perlindungan, pemberdayaan pasar tradisional dan penataan pasar modern. Kebijakan ini cukup memicu semangatnya masyarakat Jatim untuk menggunakan produk dalam negeri.

Tak hanya soal penerapan kebijakan di berbagai produk, kebijakan jitu dalam membangun kecintaan produk dalam negeri juga dibangun Pakde Karwo lewat connectivity perdagangan antar wilayah.

Kebijakan itu muncul setelah melihat peluang produk dalam negeri yang semakin diminati. Apalagi kondisi lesunya iklim perdagangan luar negeri (ekspor) yang semakin hari kian melemah itu membuka peluang baru bagi meningkatnya pasar dalam negeri.

Kondisi itu ditangkap oleh Pakde Karwo dalam membangun kemapanan ekonomi masyarakat dalam menggelorakan cinta produk dalam negeri. Salah satu targetnya adalah perdagangan antarpulau dan antarprovinsi.

“Jika masyarakat menggemari produk dalam negeri akan berdampak pada semakin berkembang dan tumbuh suburnya UMKM di Indonesia, khususnya di Jatim,” kata Pakde Karwo.

Provinsi Jawa Timur telah menjalin connectivity perdagangan dengan 26 provinsi di seluruh tanah air. Ke-26 Kantor Perwakilan Dagang (KPD) Jawa Timur itu diantaranya di Maluku, Gorontalo, Sumatera Utara, Sumatera Barat, NTT, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, NTB, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tenggara.

Connectivity perdagangan juga dibangun dengan Riau, Jambi, Bengkulu, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, Kep. Riau, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Papua, Papua Barat serta Maluku Utara. Dari hasil yang diperoleh atas perdagangan barang dan jasa antardaerah mencatatkan adanya surplus Rp62,85 triliun.

Misi dagang ke luar provinsi pada periode 2012-2013 itu telah dilaksanakan sebanyak 22 kali dengan melibatkan 760 Industri Kecil dan Menengah (IKM) dan nilai transaksi yang diperoleh pun cukup besar yakni mencapai Rp507,37 miliar.

Kendati hasil perdagangan barang dan jasa luar negeri mengalami defisit Rp12,40 triliun, tetapi kondisi tersebut masih tertutupi dengan hasil perdagangan barang dan jasa antardaerah. Sehingga hasil perdagangan barang dan jasa yang diperoleh Jawa Timur secara keseluruhan mengalami surplus Rp50,45 triliun.

Pertumbuhan sektor perdagangan yang dihasilkan dari perdagangan antarpulau dan antarprovinsi ini membuat Pakde Karwo makin merasa optimis terhadap strategi connectivity. Perdagangan yang telah dibangun itu menjadi solusi atas lesunya pasar ekspor dalam setahun terakhir ini. Namun, yang lebih penting lagi, sebut Pakde Karwo, adalah soal bangkitnya rasa nasionalisme baru di tanah air dalam membangun dan mencintai produk dalam negeri bisa semakin terwujud, dan kondisi itu dinilai Pakde Karwo sebagai wujud bela negara di sektor ekonomi. (bpd)

*) Sumber Biro Humas Prov Jatim

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim