Pertama di Indonesia: Jatim Luncurkan Modul Kewirausahaan

Jawa Timur tampaknya memang provinsi paling inovatif di Indonesia. Buktinya, ketika dunia wirausaha dipacu sedemikian rupa, Jatim adalah satu-satunya provinsi yang mempunyai modul kewirausahaan berbasis koperasi untuk kurikulum bagi mahasiswa. Modul ini sudah diluncurkan dalam bentuk buku dan menjadi pegangan untuk pengajaran kewirausahaan di semua fakultas perguruan tinggi di Jawa Timur.

Soekarwo

Gubernur Jatim, Dr. H. Soekarwo, menandatangani sekaligus meluncurkan Modul Kewirausahaan

Modul Kewirausahaan Berbasis Koperasi kali pertama diluncurkan Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo saat peringatan Hari Koperasi ke-66 tingkat Provinsi Jawa Timur di Situbondo. Modul tersebut merupakan hasil kerjasama antara Dekopinwil Jawa Timur dengan 23 PTN dan PTS se- Jatim.

Dijadwalkan, mata kuliah mengenai kewirausahaan berbasis perkoperasian ini akan diajarkan di 23 PTN dan PTS di Jawa Timur mulai tahun 2014. Terdiri dari 50 persen teori dan 50 persen praktik. Aplikasi dari praktik adalah magang di koperasi. Mata kuliah ini diajarkan di semua fakultas dan menjadi bagian dari kurikulum di perguruan tinggi itersebut.

Empat bulan setelah diluncurkan oleh gubernur, Modul Kewirausahaan Berbasis Koperasi diupgrading di Hotel Sahid Surabaya, 23 Oktober 2013. Upgrading ini dihadiri Kepala Dinas Koperasi danUMKM Provinsi Jawa Timur, Fattah Jasin, Ketua Dewan Koperasi Indonesia Wilayah (Dekopinwil) Jawa Timur, Mardjito GA, juga dari kalangan perguruan tinggi di Jawa Timur.

Ulul Albab, salah seorang penggagas Modul Kewirausahaan Berbasis Koperasi, mengatakan, Modul Kewirausahaan Berbasis Koperasi tersebut akan selalu dierbaiki meski sudah jadi. Ini lebih disebabkan karena ada yang sesuai dan tidak sesuai ketika diimplementasikan di kampus-kampus. “Modul ini masih belum sempurna. Tapi perlu dicoba dulu dan dipraktikkan. Jika ada perbaikan akan diperbaiki dengan baik lagi,” kata Ulul Albab.

Modul Kewirausahaan

Modul Kewirausahaan Berbasis Koperasi

Masih menurut Ulul Albab, modul ini sebagai wadah untuk mendorong perguruan tinggi lebih kreatif dalam memfasilitasi mahasiswa untuk membuka usaha yang berbasis koperasi. Memang selama ini ada beberapa kampus yang sudah memiliki model untuk mengembangkan wirausaha para mahasiswanya, tapi satu kampus dengan yang lainnya masih belum seragam.

“Kalau antarkampus disinergikan jaringannya akan semakin luas. Modul ini merupakan wujud dari desakan kampus-kampus supaya pemerintah lebih peduli kepada lulusan perguruan tinggi. Kalau hanya kampus yang berkewajiban berarti ada yang salah dengan sistemnya,” ungkapnya.

Menurut mantan Rektor Untag Surabaya ini, para mahasiswa yang merintis usaha saat ini tak masuk dalam koridor koperasi. Padahal koperasi sangat dibutuhkan para mahasiswa yang baru memulai usaha. Sebab jika mereka berusaha hanya berburu keuntungan, jika di tengah jalan bangkrut maka pasti mereka akan patah semangat.

“Berbeda jika mereka dibekali dengan koperasi, mereka tak hanya melulu mencari keuntungan semata, tapi juga ada rasa membantu. Meski membantu, koperasi juga tidak melupakan keuntungan karena semakin maju usahanya semakin besar pula untungnya,” katanya.

Sementata itu Mardjito mengatakan, Modul Kewirausahaan Berbasis Koperasi ini sudah disosialisasikan dan diperbaiki serta dipertajam isinya. Targetnya saat modul sudah diterapkan akan mampu mencetak kader-kader koperasi intelektual berbasis akademis yang menjadi wirausaha baru di Jatim.

“Selama ini kan mahasiswa yang lulus kuliah selalu bingung mencari pekerjaan dengan ijazahnya. Nah, dengan diterapkannya modul ini mereka tak lagi bingung mencari pekerjaan tapi mencetak pekerjaan. Itu harapan kita bersama.

Fattah Jasin berharap Modul Wirausaha Berbasis Koperasi ini nantinya benar-benar mampu mendongkrak jumlah wirausaha baru di Indonesia, khususnya Jatim. Pasalnya, hingga saat ini jumlah wirausaha di Indonesia baru 2 persen dari jumlah penduduk di Indonesia. Jumlah ini tentunya sangat jauh dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia yang jumlah pengusahanya sudah mencapai 8 persen dari jumlah penduduk.

Nantinya, jika modul ini diimplementasikan akan mengubah mindset para mahasiswa yang akan menyelesaikan kuliahnya. Jika selama ini mereka lulus akan mencari pekerjaan, akan berubah untuk mencari lapangan kerja. Meski tak mudah mengubah mindset tersebut, paling tidak harus diawali mulai sekarang. Sebab jika mahasiswa setelah lulus hanya mencari pekerjaan, pada era AFTA nanti dipastikan hanya akan menjadi penonton di negeri sendiri.

“Sekarang sudah ada beberapa kampus yang sangat peduli dengan mencetak mahasiswanya menjadi wirausaha baru. Contohnya seperti di Unersitas Ciputra Surabaya yang mengajarkan bagaimana menjadi wirausaha pada mahasiswanya. Itu langkah bagus dan patut ditiru oleh kampus-kampus lainnya,” kata Fattah.

Selama ini, lanjutnya, perguruan tinggi lebih banyak mengajarkan mahasiswanya teori-teori yang sulit diterapkan di lapangan. Jika cara ini terus dikembangkan di kampus-kampus, mahasiswanya hanya akan mencari pekerjaan bukan menciptakan pekerjaan.

Terbitnya Modul Kewirausahaan Berbasis Koperasi disambut baik oleh akademisi Universitas Ciputra Surabaya, Dr J. Sutanto. Dosen yang membidangi kewirausahaan ini mengaku member apresiasi positif kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Dekopinwil dan perguruan tinggi yang telah serius menggarap dan menerbitkan Modul Kewirausahaan Berbasis Koperasi.

Saat ini Universitas Ciputra memang belum bekerjasama dengan 26 perguruan tinggi lainnya. Namun pihaknya berjanji akan segera menandatangani kerjasama serupa. “Kita kan kampus baru tapi kita sangat mendukung program ini,” katanya.

Modul Kewirausahaan Berbasis Koperasi ini sesuai dengan program Pemerintah Prrovinsi Jawa Timur, yaitu projob. Karena itu nantinya diharapkan lulusan perguruan tinggi bukan hanya menjadi job seeker tetapi menjadi job creator. (idi)

2 Komentar Pembaca

  1. selamat siang, Saya pengajar Kewirausahan di Politeknik Sakti Surabaya, menyenangkan sekali bagi kami dengan telah diterbitkannya Modul kewirausahaan berbasis Koperasi ini , kami mohon info dimana kami dapat memperoleh modul ini guna pegangan kami sebagai pengajar KWU. terimakasih.

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2017. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim