Gubernur: UMKM Harus Jadi Nasionalisme Baru di Jatim

Bumi Brang Wetan, demikian Gubernur Soekarwo menyebut padanan Jawa Timur, memiliki aspek sejarah yang panjang. Tidak saja melahirkan tokoh-tokoh pergerakan tetapi juga tokoh-tokoh penting di negeri ini. Malah sejak jaman Majapahit wilayah ini merupakan tonggak penting bagi bersatunya wilayah-wilayah nusantara.

Gubernur Soekarwo saat memberikan amanat (kiri). Lambang Provinsi Jatim, Jer Basuki Mawa Beya (kanan)

Kendati sudah dan selalu menduduki posisi penting, gubernur dalam peringatan Hari Jadi Jawa Timur ke-68 di Gedung Grahadi tetap mengamanatkan, setidaknya perlu dilakukan beberapa pembenahan untuk menjadikan Jatim lebih kuat dan bisa menjadi provinsi yang besar serta mampu menyejahterakan masyarakat.

Pembenahan penting yang perlu dilakukan itu di antaranya bidang politik. Bahwa perlu menjaga silaturahmi dengan partai politik se-Jatim seperti yang telah dilakukan selama ini. Kehidupan politik harus berdasarkan pada musyawarah mufakat. Ini bukan kartel politik, tetapi bentuk kultural asli Jatim yang meletakkan musyawarah mufakat.

Di bidang ekonomi, menurut Gubernur Soerkarwo, perlu dengan cepat meletakkan perkuatan terhadap Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) atau Small Medium Enterprises (SME) dengan memberikan akses ke UMKM dan SME, serta membangun ekonomi perempuan.

“Kehidupan ekonomi memperkuat UMKM sebagai nasionalisme baru, pasar Indonesia menjadi pasar tertutup kita. Jadi kita harus bisa meningkatkan kualitas UMKM,” kata Soekarwo.

Di bidang sosial budaya, membangun martabat masyarakat Jatim berdasarkan nilai-nilai kultural yang ada. Dalam kehidupan sosial budaya, tantangan gelombang globalisasi sangat luar biasa. “Kalau berdasarkan kultural kita, akan mempunyai nilai yang tinggi. Kalau kita menempatkan kultural daerah yang dikemas dengan baik, hal ini dapat mewujudkan Jatim menjadi destinasi pariwisata yang baik,” katanya.

Menurut Gubernur, semua puncaknya dalam menghadapi AFTA 2015 yakni adanya kepatuhan terhadap hukum. Dalam bidang hukum, ada jaminan yang diberikan negara tentang keamanan dan ketertiban kepada masyarakat. Jaminan seperti ini yang ditunggu oleh masyarakat agar pemerintah yang mewakili negara ini dapat memberikan suatu langkah yang kongkret tentang membangun suasana kekeluargaan atau kenyamanan.

Melengkapi peringatan Hari Jadi ke-68 bertemakan Jawa Timur Makin Mandiri dan Sejahtera Bersama Wong Cilik yang jatuh setiap tanggal 12 Oktober, ditampilkan sendratari perjalanan Jatim yang dimulai dari Jaman Majapahit hingga ditunjuknya Raden Mas Tumenggung Suryo pada 12 Oktober 1945 yang saat itu masih menjabat Residen Bojonegoro untuk kemudian memimpin Jatim.

Sendratari meriahkan Hari Jadi ke-68

Gubernur Soekarwo tampak menikmati pertunjukan sendratari

Peringatan yang digelar dengan upacara itu sendiri diikuti pleton pasukan upacara dari perwakilan camat se-Jawa Timur, lurah dan kepala desa, alumni purna praja IPDN, Korpri, Satpol PP, Dinas Perhubungan, Pramuka, organisasi kemahasiswaan serta pelajar. (idi)

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim