Menyimak Jejak Google di Situs Sri Joyoboyo

Situs moksa Prabu Joyoboyo

Ini jaman Google. Bahasa gaul kalangan muda menyebutnya sebagai Mbah Dukun Google. Sekali jari menari di atas keyboard, sekali bunyi klik, piranti canggih ini dalam hitungan detik akan menyajikan semuanya. Apa saja. Mulai dari foto, peta, tulisan, isi dasar laut, dalamnya gunung dan seterusnya. Namun secanggih-canggihnya Google ia tetap saja kalah dengan Jangka Joyoboyo (masa iya sih). Aset negeri, potensi wisata spiritual, yang kerap dilupakan dan kian ditinggalkan.

Fenomena Google abad 21 ini tidak saja membuat orang sejagat gumun. Saking fenomenalnya ia nyaris dipersamakan dengan dunia perdukunan. Ya, dukun anyar yang satu ini begitu sakti mandraguna. Bisa mengetahui semua hal dalam hitungan kejapan mata. Kegumunan ini terus berlanjut manakala si mbah dukun Google tersebut juga jujurnya bukan main.

Jika ia tidak tahu, tidak menemukan apa yang dicari oleh pengguna jasanya, seratus persen ia tidak akan memberikan informasi apa-apa. Ini jelas sangat berbeda dengan dengan para dukun pada umumnya. Ketika tidak mengusai masalah, ia akan mencoba mencari celah. Mereka-reka apa yang bisa direka agar tetap dianggap sebagai yang paling sakti madraguna dan dapat duit tentunya.

Prasasti petilasan moksa Prabu Joyoboyo

Sebagai jujugan tempat mencari dan bertanya, Google selalu bisa menjawab. Nyaris tak ada yang tak bisa dijawab. Sekecil apapun pertanyaan itu dan sesepele apapun hal-hal yang ditanyakan. Termasuk di dalamnya urusan dunia ramal-meramal. Jadi makin tampak nyata kehebatan dan kesaktian si mbah Google ini.

Namun, bicara soal kesaktian, sejatinya Google tidaklah benar-benar sakti mandraguna seperti yang sudah dikatakan jutaan orang selama ini. Simak saja, ternyata Google hanya mampu meniru, mengutip, memuat sebuah peristiwa yang sudah pernah ada, sudah pernah dilakukan kemudian merangkum semuanya berdasarkan kata kunci. Selebihnya itu ia tak bakal mampu.

Itulah keyakinan Misri. Lelaki sepuh, teramat sederhana, yang selama ini menjaga situs peninggalan tempak moksa Sri Aji Joyobo di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Misri memang tak kenal Google, dan tidak pernah tahu apa kegunaannya. Namun sehebat apapun fenomena Google abad 21 ini tak lebih sebagai fenomena yang sudah lewat. Lho!

Boleh dikata Google malah Jadul. Ketinggalan jaman dalam bahasa Indonesianya. Betapa tidak, jauh-jauh hari sebelum Google mengabarkan kesaktiannya yang serba tahu itu lewat perangkat komputer, nun di tahun 1135-1157, jaman seperti Google ini sudah pernah ada. Jaman Joyoboyo namanya. Kata Misri, jaman ini juga memiliki piranti canggih, namanya Jangka Joyoboyo. Sebagai sebuah jangka, serba tahunya piranti ini malah jauh di atas kemampuan Google. Ia bukan merangkum peristiwa tetapi malah melintas batas ruang dan waktu. Mampu menjelaskan peristiwa yang akan datang dan belum terjadi. Ia juga sama jujurnya dengan Google, hanya Jangka Joyoboyo memakai bahasa simbol yang tidak lumrah.

“Kita ini mestinya jadi orang itu tidak perlu gumunan. Apalagi kalau hanya sekadar melihat jaman. Raja Kediri Sri Aji Joyoboyo dengan kesempurnaan pikirnya malah mampu melihat jaman yang belum terjadi. Fenomena-fenomenanya diurai bahkan tersurat nyata dalam serat yang kemudian terkenal dengan Jangka Joyoboyo itu,”ujar Misri, juru kunci keturunan ketiga di situs moksanya Prabu Joyoboyo.

Kalau orang sejagat bisa gumun dengan keampuhan Google, harusnya orang sejagat pula, terutama di nusantara ini, lebih gumun lagi dengan adanya Jangka Joyoboyo. Namun karena situasi jaman, orang lebih demam Google ketimbang Jangka Joyoboyo. Padahal demam Google hanya akan membuat orang mengetahui dunia, sementara jika deman Jangka Joyoboyo orang akan lebih mendalam memahami dunia karena ada tuntutan harus eling dan waspada dalam melihat dunia itu sendiri. Tapi jangan salah, piranti Jangka Joyoboyo itu juga sudah melukiskan jika keadaan gumunan seperti ini juga bakal terjadi.

Di situs Moksa Sri Aji Joyoboyo yang terawat baik meski tidak ada pendanaan dari APBD Kabupaten Kediri itu Misri juga berkisah, Sri Aji Joyoboyo sejak masih dalam kandungan sudah mempersatukan dua kerajaan yang terpisah oleh sebuah sungai dan menjadi Kediri. Sri Joyoboyo adalah buah hati dari kisah Romeo dan Juliet dari Tanah Jawa antara Putra Mahkota Jenggala dan Daha yakni Raden Panji (Inu Kertapati) dan Dewi Sekartaji.

Sendang tirto kamandanu

Semasa Joyoboyo menjadi Raja Kediri, wilayah kekuasaan dan pengaruhnya meliputi separuh nusantara. Pada masa itu juga kebudayaan Jawa mencapai puncaknya di bidang ilmu pengetahuan, sastra, dan seni. Kitab-kitab dari Mahabarata dan Ramayana diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa Kuno.

Sri Aji Joyoboyo itu selain seorang nujum yang masyhur juga sebagai Prabu titisan Bathara Wishnu yang dipercaya akan menitis selama tiga kali. Sebagai nujum, Sri Aji Joyoboyo kemudian menujumkan berbagai kejadian yang akan datang yang ditulis dalam bentuk tembang-tembang Jawa. Terdiri atas 21 pupuh berirama Asmaradana, 29 pupuh berirama Sinom, dan 8 pupuh berirama Dhandanggulo. Kitab tersebut kemudian dikenal dengan nama Kitab Musarar.

Nujum Sri Joyoboyo itu dibagi dalam 3 zaman yang masing-masing berlangsung selama 700 tahun. Yaitu, jaman permulaan (kali-swara), jaman pertengahan (kali-yoga) dan jaman akhir (kali-sangara). Dari sekian yang menarik pada nujum Joyoboyo adalah adanya jaman akhir (Kali-sangara). Itu akan terjadi  dari tahun 1401 sampai dengan tahun 2100.

Ramalan Sri Joyoboyo dalam periode akhir tersebut menjadi akurat setelah dicocokan dengan catatan sejarah Indonesia pada periode tersebut. Simak saja bangkit dan runtuhnya kerajaan-kerajaan Jawa di Indonesia, naik-turunnya para raja-raja dan ratu-ratunya atau pemimpinnya yang terbagi dalam tiap seratus tahun sejarah. Yaitu Kala-jangga (1401-1500 Masehi), Kala-sakti (1501-1600 M), Kala-jaya (1601-1700 M), Kala-bendu (1701-1800 M), Kala-suba (1801-1900 M), Kala-sumbaga (1901-2000), dan Kala-surasa (2001-2100 M).

Salah satu contohnya adalah naiknya Presiden Sukarno sebagai pemimpin dan pendiri Republik Indonesia, ia masuk dalam periode Kala-sumbaga (1901-2000). Akurasi yang lain, Soekarno digambarkan sebagai seorang raja yang memakai kopiah warna hitam (kethu bengi) yang sudah tidak memiliki ayah dan bergelar serba mulia. Raja kebal terhadap berbagai senjata namun memiliki kelemahan mudah dirayu wanita cantik. Tidak berdaya terhadap anak-anak kecil yang mengelilingi rumah ( peristiwa mundurnya Soekarno karena demo para pelajar dan mahasiswa).

Sang Raja sering mengumpat orang asing dengan lambang untuk menunjukkan bahwa ia antiimperialisme. Bunyi ramalannya: Ratu digdaya ora tedhas tapak paluning pandhe sisaning gurinda, nanging apese mungsuh setan thuyul ambergandhus, bocah cilik-cilik pating pendhelik ngrubungi omah surak-surak kaya nggugah pitik ratu atine cilik angundamana bala seberang sing doyan asu.

“Contoh yang lain sangat banyak. Tapi orang yang awam hanya akan mampu melihat kejadian ketika semua sudah terjadi. Namun orang-orang waskita yang yang jumlahnya tak banyak di negeri ini pasti akan mampu melihat seperti yang dinujumkan Sri Aji Joyoboyo. Karena isyarat-isyarat yang akurat itu, maka situs moksanya Sri Aji Joyoboyo ini masih terawat dan cukup banyak dikunjungi orang. Utamanya pada malam-malam Selasa Kliwon dan Jumat Legi pada penanggalan Jawa. Atau pas bulan 1 Suro tempat ini pasti menjadi lautan manusia.

Satu hal yang bisa dicatat, dari sekian banyak yang mengujungi situs ini hanya orang-orang tradisi dan masih mencintai tradisi saja yang masih setia mengangumi karyanya. Yang lainnya hanya ikut-ikutan karena terbawa informasi mistis yang sesungguhnya menyesatkan,” pungkas Misri. Lantas bagaimana Google? Ia lebih menang karena jaman! (widi kamidi)

3 Komentar Pembaca

  1. Luar biasa

    • sya mau tanya dimana kitab joyo yangaslinya

  2. apakah ada yang tahu tulisan aslinya kitab joyo boyo?kalau ada kirim dong!!! trims

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim