Cor Perunggu Bejijong Menembus Eropa

Cor perunggu - aktivitas menghaluskan model kepala Budha

Menyimpan sejarah masa lalu kerajaan Majapahit Kabupaten Mojokerto cukup mendapat warisan tak ternilai. Selain situs-situs sejarah, masyarakat di daerahnya menjadi orang-orang kreatif. Mereka menangkap idiom-idiom Majapahit kemudian dijadikan aneka usaha. Kerajinan utamanya. Pasar pun lantas merespon. Tak heran, jika akhirnya mancanegara menjadikan Mojokerto sebagai jujugan berburu kerajinan yang berbau Majapahitan.

Setidaknya terdapat 32 ribu pelaku UMK di seluruh Mojokerto. Dari puluhan ribu pelaku UKM tersebut memang tak banyak yang mampu menembus pasaran ekspor. Di antara yang tidak banyak itu kerajinan cor perunggu masuk dalam kategori yang bisa diandalkan. Produksinya menjadi jujugan kolektor mancanegara.

Cor Perunggu Model kera

Menyandang pedikat unggulan daerah, UKM cor perunggu memiliki daya pikat lebih. Wajar jika akhirnya mampu menciptakan pasar di beberapa negara Eropa. Prestasi yang sudah ditorehkan ini tinggal menggali, memoles, serta terus mengembangkan potensinya untuk meraup pasar ekspor yang lebih lebar.

Salah satunya UKM cor perunggu milik Supriyadi yang beraktivitas di Jalan Mariyoen, Desa Bejijon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Mempunyai motto pelopor generasi muda berbasis Mojopahit, para seniman sekaligus perajin perunggu itu mewadahi komunitasnya dengan nama Sanggar Bhagaskara.

Melalui wadah dan motto itu, masing-masing perajin yang ternyata memiliki keahlian turun-temurun tersebut, usahanya mulai menggeliat tahun 1998. Bermodal Rp 2 juta, Sanggar Bhagaskara lantas mengembangkan seni cor perunggu yang sebelumnya lesu, bahkan nyaris tenggelam.

Kerja keras itu membawa hasil. Semula produksi cukup dihandel dua perajin saja, mulai produksi hingga memasarkan produk, namun kini tak sanggup lagi. Sekarang Sanggar Bhagaskara menghidupi 125 perajin.

Semula penjualan dilakukan dari pintu ke pintu. Pekerjaan yang sebenarnya ganda. Selain mengenalkan produk, sekaligus menjual barang untuk kelangsungan produksi. Seiring terciptanya pasar yang lebih lebar, produk cor perunggu Bejijong kini sudah banyak dipajang di negara-negara di Eropa, sebagian Asia. Di antaranya negeri Belanda, Jerman dan Jepang.

Menjadikan perunggu sebagai barang seni, apalagi kualitas ekspor, bukan perkara mudah. Jelimet malah. Utamanya perkara desain. ”Itu terjadi jika pemesan membuat desain sendiri,” kata Supriyadi. Perajin berkewajiban membuat sesuai desain setepat-tepatnya. Tak ada toleransi meleset walaupun hanya seinchi.

Jika desain berdasarkan kreativitas relatif lebih lentur. Produksi tinggal mengikuti tren pasar. Sedang jika ingin desain idealis, idiom Majapahitan menjadi pilihan untuk digarap karena menjadi ciri khas.

Dikatakan Supriyadi, satu-satunya penghambat produksi cor prunggu adalah pengadaan bahan baku. Karena ini terkait dengan ketersediaan modal. Untuk perunggu sendiri bisa didapatkan kapan saja, bahan melimpah. Bentuk-bentuk produksi cor logam yang diminati pasar, sampai sekarang relatif belum beranjak, yaitu bentuk klasik Majapahitan, Budha, kontemporer, dan juga bentuk abstrak.

Cor perunggu model kuda

Untuk cor perunggu, yang paling penting adalah cetakan cor. Cetakan harus sama persis dengan desain pemesan. Proses lanjutnya, cetakan direpro dengan bahan malam, sejenis bahan lilin. Kemudian dibungkus tanah liat. Setelah mengering, tanah liat baru dibakar, untuk menghilangkan malam. Setelah itu baru dituang logam. Pengecoran selesai, tanah liat lantas dihancurkan, baru kemudian terlihat bentuk hasil cor. Berikutnya adalah finishing, lalu pewarnaan.

Kendati pasar ekspor sangat menjanjikan, produksi seni perunggu bukannya tanpa kendala. Yang terbesar adalah permodalan. Masalah modal menjadi sensitif, karena produksi UKM ini bisa dikatakan menggunakan biaya tinggi, terhitung mulai pengadaan bahan baku, hingga ke tangan konsumen, semuanya berbiaya besar.

Untuk pemasaran produk masih mengandalkan jaringan, selain harus tetap merawat pasar yang sudah ada. Seiring dengan kemajuan dunia digital dan teknologi informasi, menggarap pasar melalui dunia maya menjadi hal yang wajib.

Kendala yang lain adalah masalah harga. Persaingan tidak sehat dalam menentukan harga, membuat produksi tidak tumbuh sehat. Perajin atau UKM menjadi tak diuntungkan. Justru para pihak ketiga yang menangguk keuntungan paling besar.

Hingga saat ini Bali, Jakarta dan Jogja adalah mata rantai bagi datangnya para kolektor. Meski tak jarang buyer-buyer asing langsung datang ke tempat. Dalam sebulan, omzet produksi bisa mencapai Rp 75 juta. Untuk harga yang paling murah, desain kepala Budha misalnya, mulai harga Rp 30 ribu sampai harga tak terhingga. (widi kamidi)

Komentar Pembaca

  1. slmrt mlm ,perkenalkan sy suplayer dri bali,sy punya tamu ingin membuat roda kerekan,dengn ukuran 4×6,banyaknya 10 biji ,bhn dri perunggu,sama lempengan perunggu ,dngn ukur 7x8banyaknya 20 biji,sama longdrat panjang 45cm ukuran 12″ banyak 20 biji bhn dr perunggu,berserta ringnya 20 biji,semua bahan dri perunggu,kl bisa tlng mnt no hp n alamat lengkap biar sy ke tempat bpk,trimakasih,kontak sy:081239618771/wa

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim