Perak Lumajang Primadona Ekspor Daerah

Perajin perak Lumajang

Menembus pasar ekspor. Itulah idaman setiap para perajin logam mulia Kabupaten Lumajang. Kerajinan berbahan baku perak adalah salah satu kegiatan ekspor yang sangat menjanjikan, baik pasar lokal atau luar negeri.

Salah satu kawasan tapal kuda di provinsi Jawa Timur ini terdapat sentra kerajinan perak. Lima kecamatan di antara 21 kecamatan yang ada, menjadikan perak sebagai komoditas yang paling diprimadonakan. Tak mengherankan jika kemudian kerajinan perak menjadi UKM andalan bagi kabupaten lumajang.

Sejauh ini kerajinan perak Lumajang termasuk yang terbesar selain kerajinan perak Kota Gede di Jogjakarta dan kerajinan perak Celuk di Bali. Lima kecamatan di Kabupaten Lumajang yang menjadi sentra perak masing-masing Kecamatan Tempeh, Pasirian, Sumber Rukor, Pasrujambe, dan Candipuro.

Kecamatan yang paling banyak memiliki pelaku usaha kerajinan perak yaitu di Kecamatan Tempeh. Perajin tersebar di beberapa desa yaitu Desa Gesang, Besuk, Jatisari, Jokarto dan Pulo.

Perajin perak di Kecamatan Tempeh, UD Karya Abadi, tercatat mempekerjakan tenaga kerja paling banyak. Didirikan tahun 1992 oleh Ngadiwiyono dengan karyawan delapan orang. Kemudian seiring dengan melesatnya pengembangan usaha serta pesatnya laju permintaan kerajinan perak dari berbagai daerah juga mulai merintis pasar luar negeri, karyawan yang semula hanya delapan orang meningkat menjadi 80 orang.

Ngadiwiyono dengan bendera UD Karya Abadi kemudian menyerap tenaga kerja dari para pemuda setempat. Sebagian di antaranya juga menyerap tenaga kerja wanita. Setidaknya pemuda dari lima desa direkrut untuk menyokong produksi yang kian meningkat. Masing-masing dari Desa Gesang, Bulu, Jokarto, Besuk dan Semumu.

Sayang, perekonomian global yang memburuk beberapa bulan terakhir cukup membawa dampak bagi komoditas kerajinan perak. Dari semula mempekerjakan delapan puluh karyawan kini menyusut menjadi tiga puluh orang karyawan. Sedangkan karyawan tidak tetap dibatasi hanya limabelas orang. Hingga kini, market di Bali tetap menyerap produksi paling tinggi. Pagelaran Miss Word 2013 di Bali yang gencar diiklankan di televisi juga turut menyerap produksi yang cukup luayan. (*/idi)

3 Komentar Pembaca

  1. Asalamualaikum pak,bu, apakah ada yg mau beli perak?

  2. Judul narasi diatas cukup bagus dan menarik, namun ada sedikit koreksi, karena bulan awal november 2014, kami pernah mampir ke rekan di desa jokarto, ternyata dia sudah hijrah ke desa celok bali, ada sedikit yang saya ketahui tentang pengrajin perak di pulo,gesang, jokarto tempeh dan sekitarnya :
    1. Kondisi sekarang sangat berbeda, pengrajin banyak yang sudah mati suri, karena tidak ada order dari bali, sehingga merapat kepasarnya yaitu celok bali dan sekitarnya.
    2. Pengrajin pulo sekarang lebih banyak memakai Alphaka, bukan perak 925, sehingga mutu, kwalitas dan nilai seninya mulai kabur, padahal nilai jual kerajinan perak 925 sangat dihargai, biarpun mahal
    3. Pasar luar negeri tidak akan mau menerina kerajinan dari alphaka, karena mereka menghargai seni yang asli
    4. Harga alphaka cukup murah, sehingga mutu karya seni [ula mulai redup karena mereka kurang memahami karya seninya sendiri,
    5. Solusi terbaik, kembali ke perak 925, buat karya agung lagi selain tulang naga dan borobudur…
    2. Karena

  3. Bsakh pulo krim brag perak lgsung k luar negri tnpa hrus k bali dulu???

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim