Tahura Harus Terbebas dari Pertanian Intensif

Kawasan Cangar, Tahura R. Soerjo, berlatar belakang G. Welirang (foto: peburungamatir.wordpress.com)

Direktorat Jenderal Perlindungan hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Departemen Kehutanan menetapkan Tahura R Soerjo sebagai contoh pengelolaan Tahura Model Indonesia. Sebagai Model, Tahura R Soejo memang memiliki kedudukan yang strategis, sebagai benteng alam. Lantas bagaimana merumuskan cadangan karbonnya?

Menurut IPCC Guidelines, perubahan cadangan karbon di skala lanskap dapat dihitung menggunakan persamaan sederhana. ΔC = ∑ij Ai..j [ΔCijLB + ΔCijDOM+ ΔCijSOILS] /Tij. ΔC adalah perubahan tahunan cadangan karbon keseluruhan, ton C/tahun. Ai-j adalah luas dari tipe penggunaan lahan i yang berubah menjadi j (ha). ΔCijLB adalah perubahan cadangan karbon pada biomasa hidup dari perubahan tipe penggunaan lahan i menjadi j (ton C/ha). ΔCijDOM adalah perubahan cadangan karbon pada bahan organik mati dari perubahan penggunaan lahan dari tipe i menjadi j (ton C/ha). ΔCijSOILS adalah perubahan cadangan karbon dalam tanah dari perubahan penggunan lahan tipe i menjadi j (ton C/ha), dan Ti..j adalah periode waktu yang ditetapkan untuk pengukuran dan pemantauan, tahun.

Besarnya perubahan penggunaan lahan dari i menjadi j tergantung dari pemilihan kelas tutupan lahan, stratifikasi zonasi, dan penentuan SPL. Data luas dari tipe penggunaan lahan yang berubah dari i menjadi j dapat diperoleh melalui interpretasi citra dan analis perubahan tutupan lahan setelah melalui proses groundtruthing. Jumlah karbon pada biomasa hidup, bahan organik mati, dan karbon dalam tanah (bahan organik tanah) diperoleh melalui pengukuran di lahan. Jadi dalam menghitung cadangan karbon dan perubahannya pada skala lansekap harus melalui berbagai tahapan menurut metoda yang digunakan.

Salah satu metode yang digunakan dalam estimasi karbon adalah metode cepat penghitungan cadangan kabon atau yang dikenal dengan istilah RaCSA (Rapid Carbon Stock Appraisal) yang dikembangkan oleh ICRAF.

Jumlah cadangan karbon suatu kawasan sangat dipengaruhi oleh jenis pengunaan lahan dan tutupannya. Keragaman kedua faktor ini bergantung pada jenis, kerapatan dan umur vegetasi. Kondisi tersebut di Tahura bervariasi tergantung pada fungsi suatu kawasan, misalnya kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan lindung maka jenis penggunaan lahannya berupa hutan alami. Sedangkan kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan pertanian maka penggunaan lahannya berupa tanaman pangan semusim seperti sawah, sayuran, dan tegalan.

Berdasar Peraturan daerah No 8 tahun 2002, pengelolaan Tahura R Soerjo sebagai kawasan pelestarian alam adalah dimanfaatkan untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa alami atau buatan. Jenis asli atau bukan asli, yang dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi. Jadi kawasan Tahura seharusnya tidak terdapat area budidaya, artinya bebas dari kawasan pertanian intensif dan hutan produksi seperti hortikultura dan hutan pinus serta area permukiman. Ini penting digarisbawahi mengingat kandungan cadangan karbon dipengaruhi oleh jenis vegetasi, tingkat kerapatan, dan besarnya gangguan.

Sementara itu hasil groundtruthing bulan Juli 2010, di kawasan Tahura seluas 27842 ha terdapat 8 kelas penggunaan lahan yaitu hutan campur, hutan cemara gunung, hutan terganggu, semak belukar, hutan pinus, semak/rumput, sayur dan puncak gunung. Penggunaan lahan yang dominan berupa hutan campur dengan luasan 16826 hektar, sedangkan kawasan semak/rumput relative masih luas dibanding yang lain yaitu 6969 hektar. Hutan cemara gunung yang sebagaian besar terletak di puncak gunung dan hutan yang telah terganggu masing-masing seluas 1340 dan 1750 ha. Sedang luas tanaman semusim dan hutan pinus relatif kecil yaitu sekitar 578 ha dan 105 ha. Lahan terbuka yang sebagian besar tertutup oleh rumput-rumputan terdapat sekitar 116 ha.

Hasil klasifikasi citra landsat Thematic Mapper tahun 1972, 2004 dan 2010 menunjukkan bahwa hutan campur di Tahura seluas 22440 ha menurun sebesar 9 % dan 18 %, masing-masing pada tahun 2004 dan 2010. Di lain pihak, luas lahan tanaman semusim meningkat sebesar 38x dan 45x lipat pada tahun 2004 dan 2010 jika dibandingkan dengan luas yang ada di tahun 1972 yang hanya 13 ha. Demikian juga dengan luas lahan belukar dan lahan hutan terganggu 2x hingga 3x lipat dari luasan di tahun 1972. Luas lahan terbuka yang sebagian besar terletak di puncak gunung mengalami sedikit peningkatan. Berkurangnya luasan hutan alami dan meningkatnya lahan belukar dan lahan Pertanian semusim akan sangat mempengaruhi besarnya emisi karbon di kawasan Tahura R.Soerjo.

(widi antoro/berbagai sumber)

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim