Wisata Baca Bernama Kampoeng Ilmu

Kampoeng Ilmu Surabaya (foto: widi)

Tahun ajaran baru sudah dimulai. Masuk sekolah perdananya bahkan sudah berlangsung hampir seminggu. Pelajar, mahasiswa, dan kalangan umum di Kota Surabaya tentu tak asing dengan Kampoeng Ilmu Jalan Semarang. Namanya lekat dengan pusat penjualan buku murah. Lekat juga dengan sebutan pusat buku bekas. Meski murah dan bekas, cukup bejibun intelektual-intelektual Surabaya yang lahir dari sana. Sebagian kini malah sudah menjadi pendekar-pendekar politik, sosial, ekonomi dan budaya di negeri ini.

Sebagai jujugan, Kampoeng Ilmu memiliki catatan panjang saat berdirinya. Ia lahir tanggal 07 April 2008. Kampoeng Ilmu lahir atas prakarsa bersama antara Pemerintah Kota Surabaya, pedagang buku di Jalan Semarang, dan banyak lagi elemen yang mengatasnamakan pecinta buku murah.

Perda Kota Surabaya Nomor 17 Tahun 2003 tentang penertipan PKL awalnya memang menggusur para pedagang buku bekas. Namun, semangat masyarakat untuk belajar, menumbuhkan minat baca, juga untuk mendapatkan buku murah cukup mendapat respon positif. Bentuk respon itupun akhirnya terwujud dengan relokasi PKL buku bekas plus lahan yang nyaman untuk berkativitas di jalan Semarang. Penataan itu pun terus berlanjut hingga akhirnya menjadi ikon wisata baca di Surabaya.

Kini Kampoeng Ilmu menempati lahan seluas 2500 meter persegi milik Pemerintah Kota Surabaya. Dulunya lahan itu luar biasa kumuh dan difungsikan sebagai tempat penimpunan sampah. Tempat kumuh dan bau di tengah kota ini kemudian perlahan-lahan disulap menjadi tempat nyaman, tenang, untuk wisata baca. Kampoeng Ilmu yang letaknya masih di Jalan Semarang inilah para PKL buku bekas dengan nyaman tetap bisa meneruskan usahanya. Terdapat rumah joglo yang bisa dijadikan tempat singgah sejenak atau sekadar membaca dan belajar untuk berbagai kalangan.

Di tempat ini pula para penikmat buku, pelajar, mahasiswa yang haus ilmu kembali bisa menemukan surganya dalam menambah khasanah ilmu pengetahuan. Surabaya juga tidak perlu berkecil hati lagi dengan kota lain seperti Jakarta yang punya kawasan Kwitang dan toko buku Jose Rizal Manua di Taman Ismail Marzuki yang menjadi rujukan orang menemukan buku bekas dan murah. Juga di Kota Malang yang punya Jalan Sriwijaya dan Jogjakarta yang memiliki Shopping Center.
Ketua Paguyuban Pedagang Buku Kampung Ilmu, Budi Santoso menuturkan, pusat penjualan buku bekas di sepanjang trotoar Stasiun Pasar Turi Jalan Semarang Surabaya sudah dimulai sejak tahun 1975. Namanya juga berdagang bekas, kesan kumuh yang tercipta dari lapak-lapak para PKL jadi tak terelakkan. Namun kekumuhan itu tak menyurutkan pelajar ataupun mahasiswa untuk mencari buku, utamanya yang tidak pernah ada di toko buku atau buku yang stoknya sudah tidak dijual lagi di toko buku besar.

Para pelajar berburu buku untuk tambahan mata pelajaran di sekolahnya. Ada yang bekas ada baru, tinggal pilih sesuai selera uang di kantong. foto: widi

”Awal mula berdirinya Kampoeng Ilmu ini bermula dari peringatan pengosongan trotoar depan Stasiun Pasar Turi pada Januari 2008. Peringatan itu disampaikan langsung oleh Polwiltabes Surabaya, petugas dari kecamatan, dan Satpol PP. Dari peringatan pengosongan inilah pedagang mengadukan masalah ini pada DPRD Surabaya. Namun sejauh itu tidak ada solusi apapun dari DPRD,” kata bapak dua ini mengenang.

Saat itu, lanjut dia, para pedagang tidak menyerah begitu saja. Sama dengan semangat Surabaya tahun 1945, para pedagang berusaha melakukan perlawanan dengan aksi damai, yakni minta pendapat masyarakat Surabaya yang lewat di Jalan Semarang untuk tanda tangan di atas kain sepanjang 300 meter. Mereka diminta memberikan tanggapannya soal penggusuran Jalan Semarang.

Dari bentangan spanduk 300 meter yang dalam sehari langsung mendapat respon ribuan tandatangan itu akhirnya didapatkan solusi bahwa pengosongan PKL buku bekas ini tidak bisa begitu saja dilenyapkan. Tetapi harus dilakukan relokasi PKL. Maka, Pemkot Surabaya kemudian menyediakan tanah kosong yang semula menjadi tempat penimbunan sampah di Jalan Semarang no 55 untuk merelokasi para pedagang buku bekas. Selanjutnya tempat inilah yang kemudian dinamakan Kampoeng Ilmu dan menjadi tempat wisata baca di Surabaya.

Nama Kampung Ilmu sendiri sebenarnya berasal dari pemikiran pada aspek sosial budaya dan pendidikan. Secara sosial Kampung Ilmu ini sebagai tempat para pedagang mencari nafkah. Dari aspek budaya, Kampung Ilmu menjadi tempat pijakan masyarakat kelas menengah ke bawah yang masih banyak di Surabaya yang ingin mencari buku murah dengan harga terjangkau. Sedang unsur pendidikanya, tentunya di sinilah terjadi interaksi antara penjual dan pembeli ataupun orang yang menjual koleksi bukunya. Dengan harapan agar buku tersebut bisa dibeli orang sehingga orang bisa merawat dan meneruskan membaca bukunya. Atau secara tidak langsung terjadi transfer ilmu pengetahuan.

Tidak hanya sekadar aspek jual beli buku saja, di Kampoeng Ilmu ini juga mulai didirikan tempat kursus Bahasa Inggris yang murah. Pengajarnya para pelajar SMU St. Louis Surabaya. Setiap sore juga digunakan untuk mengaji bagi anak-anak pedagang. Sehingga Kampoeng Ilmu mulai bergairah dan sarat dengan berbagai kegiatan yang bersifat edukatif.
”Memang secara ekonomi saat ini perkembangannya masih belum begitu bisa dirasakan pedagang. Jika dibandingkan dengan saat sebelum direlokasi, saat masih jualan di trotoar Stasiun Pasar Turi pendapatan kotor per hari bisa mencapai Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu dengan keuntungan bersih per hari sekitar Rp 100 hingga Rp 150 ribu per hari. Saat ini pendapatan bersih hanya sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu, dengan keuntungan kotor hanya Rp 200 ribu hingga Rp150 ribu,’’ aku Budi.

Namun sekarang masih beruntung dibandingkan tahun pertama berjualan di Kampoeng Ilmu, atau sekitar tahun 2008 hingga pertengahan 2009. Saat itu nyaris pendapatan tidak ada. Pasalnya belum banyak masyarakat yang tahu keberadaan Kampoeng Ilmu. Mereka pikir PKL buku bekas sudah enyah. Sehingga para pedagang terpaksa harus bertahan dengan keadaan yang tidak pasti. Ibaratnya untuk makan mereka harus jual kalung, jual televisi dan perabotan lain yang bisa dijual.
Namun demikian bukan aspek ekonomi itu saja yang dikejar dengan berdirinya Kampoeng Ilmu ini. Lebih dari itu ada cita-cita dan harapan besar lainya yang lambat laun harus bisa dicapai oleh pemerintah kota dan masyarakat Surabaya atas kontribusi yang diberikan oleh Kampoeng Ilmu Di antaranya, Kampoeng Ilmu harus bisa menjadi salah satu ikon Surabaya sebagai salah satu wahana dan sarana pendidikan dengan biaya murah. Kampoeng Ilmu juga harus bisa menjadi proyek percontohan pengumpulan PKL. Mengurangi angka pengangguran, dan yang tidak kalah penting adalah menciptakan generasi intelektual-intelektual masa depan dari kalangan menengah ke bawah.

‘’Sampai saat ini Kampoeng Ilmu terdapat 84 pedagang. Jumlah itu sudah ada sejak berdiri dan tidak tambah dan tidak kurang. Bagi Pemkot Surabaya, jumlah itu sebaiknya tidak ditambah dulu. Bagi pedagang jumlah itu dirasa cukup, dan belum perlu untuk ditambah. Karena sangat pas dengan tempat dan membuat suasana lebih nyaman. Sehingga masih ada space kosong bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lainnya,’’ tandas Budi.

Sementara itu, Pemkot Surabaya sekarang tengah membuat bangunan baru untuk Kampoeng Ilmu, mengharapkan Kampoeng Ilmu dapat dikelola sendiri oleh pedagang. Sehingga idealisme untuk tetap menjadikan Kampoeng Ilmu sesuai harapan tersebut bisa kesampaian. Tidak perlu ada bayang-bayang harus membayar restribusi dan sewa stand seperti jika dikelola PD Pasar Surya. Seperti saat ini, para pedagang Kampung Ilmu tidak dikenai tarikan. Jikalau ada tarikan, paling hanya untuk biaya kebersihan, keamanan dan listrik.

Keberadaan Kampung Ilmu memang berdampak luas bagi masyarakat. Banyak ibu dari golongan ekonomi lemah lebih memilih tempat ini untuk mendapatkan buku-buku sekolah untuk anaknya. Kendati sudah bekas tak menjadi masalah seyampang pengarang buku dan penerbitnya sama seperti yang sedang digunakan oleh sekolah.

Namun demikian tidak semua pembeli terpuaskan. Farida Nurul Rahmawati, 35 tahun, warga Petemon Surabaya misalnya, dosen sebuah PTN ini tidak menemukan buku referensi untuk tambahan mengajarnya. Sementara di toko buku besar juga tidak ada. Meski tidak menemukan apa yang dicari, namun ia menemukan beberapa buku langka untuk sebuah buku metodologi penelitian yang tal lagi beredar di pasaran.

Sementara Hermawan, pria paruh baya dari sebuah instansi di Pemprov Jatim menemukan buku yang dicarinya. Sebuah buku ensiklopedia sains untuk anaknya. Namun beberapa buku ensiklopedia lain tidak ia dapatkan sehingga harus sabar menunggu hingga Kampoeng Ilmu kembali mendapatkan edisi bekasnya. Tampaknya di Kampung Ilmu stok buku langka pun juga cepat habis, karena itu calon pembeli harus rela menunggu hingga ada orang yang menjual koleksinya. Inilah salah satu daya tarik dari Kampoeng Ilmu di Jalan Semarang. (widi antoro)

7 Komentar Pembaca

  1. Salam,
    Bagus juga ada berita seperti ini di kala pengunjung perpustakaan kita makin merosot. Mungkin konsep Kampoeng Ilmu bisa di tambah seperti di Jogjakarta (DIJ) sana, kalau memang benar-benar ada penataan.
    Di Jogja, tempat bursa buku (shopping namanya kalau tak salah) berdekatan dengan taman pintar. Taman yang khusus dibangun untuk kebutuhan edukasi. Keduanya bisa saling melengkapi. Taman pintar bisa jadi stimulan untuk memperdalam pengetahuan dengan membaca. Atau sebaliknya, setelah membaca “praktikumnya” ada di taman pintar.
    Kampoeng Ilmu, sudah cukup nyaman, sayang bangunannya tidak merata. Yang sebelah bagus, sebelahnya njomplang. Sepertinya memang ada bangunan lanjutan, tapi belum selesai. Sayang juga pintu masuknya tidak kelihatan tertutup oleh pedagang-pedagang kusen dan lainnya.
    Coba kalau kampoeng ilmu seperti ini ada lima titik di Jatim, pasti wisata baca seperti ini benar-benar akan jadi alternatif pelajar untuk berburu buku murah. Dan Jatim bisa jadi barometer untuk manusia melek baca. Ayo Pakde jangan Kopwan aja yang diperbanyak, kampung melek baca seperti ini juga layak diperbanyak. Seklangkong.

  2. Seiring dengan tujuan utama akan melanjutkan kulyah di surabaya, akupun sempat bertanya-tanya dimana ya penjual buku dikota surabaya, yang murah dan yang terjangkau bagi kalangan mahasiswa,, namun teman-teman karena sama-sama orang barupun menyarankan ketoko-toko bukuku besar sekelas gramedia dan mizan. berawal dari ingin membeli pakaian seragam buat teman-teman kampus di Pusat Grosir Surabaya (PGS), akupun yang orang baru disurabaya nyasar dan akhirnya sampai di jl.semerang dan kebetulan akupun menghadap sebuah pelang yang bertuliskan “KAMPOENG ILMU” sempat mengurungkan niat sejenak unuk mencari baju seragam di PGS .menyaksikan lapak-lapak yang dipenuhi PKL akupun rencananya hanya sekedar ingin bertanya harga buku2, namun benar inilah yang aku cari pusat penjualan buku murah, surganya para mahasiswa dan pelajar yang lainnya.. namun beberapa kekurangan penataan tempat dan bangunan yang masih belum rampung yang membuat tempat ini agak sedikit kurang nyaman,,, smoga pemerintah JATIM lebih memprioritaskan tempat seperti ini karena dengen tempat2 seperti inilah para generasi bangsa yang intlek dan nasionalis kita akan banyak terlahir.

  3. kampung ilmu buka – tutup mulai jam brapa sampe jam brapa ya pak ?

  4. sblm pgs ya tempatnya?mhn arah kl sy dr pgs

  5. kl posisi sy di pgs.sy hrs berjln ke arah mana kl mo ke kampung ilmu

  6. kalau hari minggu buka apa nggk?
    mohon infonya

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim