Pentingnya Kebijakan Menyambung Nadi Suramadu

Butuh waktu lama untuk mewujudkan Jembatan Suramadu. Sangat lama malah. Lebih dari 50 tahun. Umpama ada seorang bayi baru lahir, setelah menjelang jadi kakek atau nenek, ia baru melihat dan bisa menikmati jembatan tersebut.

Plong rasanya, angan-angan dan mimpi-mimpi itu, bisa terwujud. Namun, boleh jadi, ada juga rasa sesal mendalam. Mengapa hanya membangun jembatan seperti itu saja sampai puluhan tahun. Sampai yang berangan-angan sudah menjelang uzur, baru bisa terwujud. Padahal duit bisa dicari, teknologi bisa dibeli, lantas kenapa lama sekali.

Nah, setelah Suramadu berhasil membentang perkasa membelah laut di Selat Madura, lantas apa next time-nya. Menunggu? Tentu saja tidak! Bangunan fisik Suramadu tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Suramadu ada umurnya. Ada batas waktunya. Membiarkan Suramadu menungu sama saja menjadikannya seonggok besi dan batu sepanjang 5,4 kilometer. Sama juga artinya dengan membuang uang 4,5 triliun rupiah ke dasar laut.

Sejak Suramadu masih berupa gagasan, jembatan prestisius bikinan anak negeri ini, sudah sarat dengan beban. Tentu, beban utamanya adalah pembagunan Madura yang begitu tertinggal. Beban paling berat ini tidak akan berjalan mulus jika infrastruktur tidak segera dikerjakan di kedua kota, Surabaya dan Madura.

Salah satu yang paling mendesak segera dikerjakan adalah infrastruktur transportasi. Sementara Suramadu ibarat organ jantung, infrastruktur transportasi ini adalah nadi-nya. Bagaimana kinerja jantung bisa optimal jika tidak dibarengi nadi yang tak mampu berdenyut. Untuk itu, pasca beroperasinya jembatan Suramadu, maka pemerintah perlu membuat kebijakan terkait eksistensi jembatan Suramadu dan pengembangan wilayah Madura sebagai zona industri.

Kebijakan pengembangan kualitas transportasi angkutan darat ke wilayah Madura dan sebaliknya, tidak saja mendesak diperlukan. Mengingat, nantinya arus barang dan jasa yang keluar masuk pulau Madura mempunyai karakteristik yang sama dengan karakteristik barang dan jasa yang beroperasi di pulau Jawa. Sehingga peningkatan kualitas transportasi angkutan darat perlu disesuaikan seiring dengan perkembangan industrialisasinya.

Beberapa studi paling anyar menyebut, kondisi transportasi Madura berada pada tataran kelas lokal dan rendah. Nah, dengan adanya Suramadu, akses kelas lokal ini harus segera diubah menjadi sistem transportasi dengan standar nasional atau bahkan internasional dengan kekuatan dan kualitas transportasi yang tinggi.

Terpisah dari kondisi Madura, saat ini pola jaringan jalan utama di kota Surabaya pada dasarnya adalah berbentuk koridor linier. Menghubungkan kawasan Utara dan Selatan atau Tanjung Perak – Waru. Namun kemudian berkembang dan bergeser dari arah barat ke timur seiring dengan selesainya jembatan Suramadu. Sementara, perkembangan kawasan Gerbangkertasusila, mulai bergerak dari pusat kota Surabaya menyebar meluas dan melingkar keseluruh penjuru arah yaitu barat, timur, utara dan selatan, semakin menjauh dari pusat kota Surabaya. Tentu, ini perlu segera dicermati secara serius.

Suramadu yang juga makin padat membuat kebijakan yang berkaitan dengan pembangunan jaringan jalan utama di kota Surabaya makin tak bisa ditunda. Yaitu, penyelesaian jaringan jalan utama berupa jalan arteri lingkar timur dan barat. Mulai dari kaki-kaki jembatan Suramadu di sisi Surabaya ke arah timur Kota Surabaya yang melingkari sisi luar kota Surabaya. Pembangunan jalan tol timur dan tol tengah. Lalu, pembangunan jalan arteri sekunder di tengah kota Surabaya.
Selain ketiga jalan utama yang sedang dipersiapkan tersebut, di dalam kota Surabaya, semakin menarik saja gagasan dibangunnya monorel yang membelah dari utara ke selatan dan dari timur ke barat Surabaya. (*)

Jalur Baru Dua Ujung

Merosotnya pengguna jasa penyeberangan Pelabuhan Ujung-Surabaya dan Kamal-Bangkalan, berdampak pada menurunnya perolehan pendapatan daerah di kedua wilayah di sektor tersebut. Perlu penanganan segera dan meracang strategi untuk mendulang pendapatan baru dari sektor transportasi.

Pendapatan daerah turun drastis pascaberoperasinya Jembatan Fantastis Suramadu. Tidak saja Kota Surabaya tetapi juga Kabupaten Bangkalan. Demikian juga dengan pengusaha angkutan kota juga wong cilik yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup dari kesemarakan denyut jasa penyebarangan itu.

Jika pemeritah dan pengusaha masih bisa menggeliat. Masih bisa merancang hal-hal baru untuk menarik pendapatan. Akan halnya dengan wong cilik. Pendapatan mereka ditentukan oleh semrawutnya jalur penyeberangan. Kini mereka mpot-mpotan lantaran dagangan sepi pembeli. Yang merasa mampu bertahan, tetap bercokol dan bergelantungan di ferry-ferry yang merana itu. Sementara yang kehabisan modal, sudah tentu harus segera beralih profesi.

Tak dipungkiri, Suramadu adalah berkah sekaligus dilema. Bagi Pemkot Surabaya maupun Pemkab Bangkalan. Namun, seiring dengan itu sejuta harapan telah ikut dibentang untuk segera digarap. Terlebih setelah banyak penelitian menyodorkan segebok rekomendasi agar Suramadu tak terlalu lama menunggu respon kebijakan pembangunan.

Salah satu rekomendasi yang bisa disimak untuk menambal pendapatan daerah di kedua wilayah itu adalah merelokasi terminal Bangkalan. Terminal angkutan yang persis berada di tengah kota kini sudah tidak efektif lagi. Sebab sejak Suramadu di-launching perilaku penumpang dan angkutan umum berubah.

Untuk tujuan kota Sampang, Pamekasan hingga Sumenep, penumpang lebih suka naik angkutan bus langsung dari Surabaya. Walhasil Bangkalan hanya mendapat asap knalpot dari bus-bus angkutan umum itu. Terminal Bangkalan acapkali dilewati. Sementara untuk berputar ke Bangkalan kota terlalu jauh dan hanya menghabiskan banyak bahan bakar. Itupun belum tentu ada penumpang naik. Dilemanya lagi harga BBM naik tinggi membuat semuanya makin runyam.

Perpindahan Terminal Bangkalan menurut banyak penelitian direkomensadikan mendesak dilakukan. Sebab tanpa perpindahan terminal akan cukup sulit mengembangkan denyut perekonomian. Mengingat Suramadu berada di sisi pinggir Bangkalan. Sementara jalur tersebut langsung menghubungan dengan jalur perbatasan kota Sampang.

Jika dicermati, kota Sampang, Pamekasan dan Sumenep paling diuntungkan oleh Suramadu. Sebab aksesnya bisa langsung ke Surabaya. Tanpa perlu lagi melingkar melewati Bangkalan kota yang berjarak hingga puluhan kilometer. Melihat tren seperti ini, Bangkalan harus berlari cepat untuk segera memindahkan terminalnya agar bisa menyusun konsep transportasi strategis agar Bangkalan tidak hanya kebagian asap knalpot motor dan mobil. Pemkab Bangkalan bisa memindahkan terminal agar berada di kaki jembatan Suramadu sisi Madura. Saat ini, setelah melewati Suramadu dari Surabaya, sejauh mata memandang masih berupa lahan kosong tanah pertanian yang dibiarkan merana tak tergarap.

Pilihan relokasi terminal baru yang tepat sepertinya di daerah Labeng. Daerah yang dipandang cukup strategis untuk mengembangkan infrastruktur transportasi menuju Bangkalan kota maupun ke arah Sampang hingga Sumenep. Rangkaian dari rekomendasi kebijakan relokasi terminal itu adalah, membuat trayek baru Bangkalan-Surabaya.

Sejauh ini, berdasarkan data yang ada, jumlah trayek angkutan penumpang di Jawa Timur terdapat sekitar 186 trayek. Terdiri dari 23 trayek bus patas dan 163 trayek bus boemel. Setelah Suramadu menjadi favorit, diharapkan trayek hasil relokasi terminal di Labeng tersebut merupakan salah satu ladang emas baru untuk mendongkrak pendapatan daerah Bangkalan.

Sebagai konsekuensi dari relokasi terminal yang berada di luar kota Bangkalan tersebut, secara otomatis akan merubah trayek yang sudah ada sebelumnya. Baik di kota Surabaya dan kabupaten Bangkalan. Selain perubahan trayek, perlu juga adanya trayek antarkota dalam provinsi yang menghubungkan pulau Madura dengan Surabaya dengan daerah-daerah lain di timur, selatan, dan barat kota Surabaya yang akan menuju pulau Madura.

Selama relokasi terminal Bangkalan belum terwujud, dan pengembangan transportasi belum dilakukan, Bangkalan tetap akan kehilangan pendapatan daerah yang tidak sedikit. Ladang emas baru yang seharusnya bisa didulang lewat Suramadu, bakal lolos tidak tergarap. Apalagi jika infrasruktur yang lain tidak segera disiapkan, zona emas di sekitar kaki-kaki Suramadu, tidak membuat investor tergerak untuk menghidupkan perekonomian Madura yang pertumbuhannya dari tahun ke tahun selalu di bawah rata-rata ekonomi nasional.

Karena berpuluh tahun tak tergarap, sumber daya manusia di Madura boleh dibilang cukup terbatas. Boleh jadi ini juga merupakan batu sandungan pembangunan pasca Suramadu dioperasikan. Namun masyarakat Madura sudah memiliki modal besar. Sangat besar malah. Madura terkenal dengan karakteristik masyarakat yang ulet, pantang menyerah dan tahan banting. Karena itu mustahil Madura tidak mampu mengejar ketertinggalannya.

Pilihan Strategis

Kota Surabaya

  • Membangun jalan lingkar timur dan barat mulai dari kaki-kaki jembatan Suramadu sisi Surabaya ke arah timur dan barat Kota Surabaya.
  • Membangun jalan tol timur dan tol tengah.
  • Membangun monorel di tengah kota yang membelah dari utara ke selatan dan
  • dari timur ke barat.
  • Membangun jaringan transportasi Gerbangkertasusila untuk pertumbuhan cluster
  • cluster industri.

Kabupaten Bangkalan

  • Menjaga dan mengawasi serta menerapkan manajemen lalu lintas yang ketat dan teratur serta melengkapi pemasangan rambu-rambu lalu lintas dari kota kabupaten Bangkalan di sepanjang jalan utama kabupaten yang menuju jembatan Suramadu.
  • Merealisasikan pembangunan terminal baru di Desa Labang di kaki Jembatan Suramadu.

Pemerintah Kota Surabaya, Kabupaten Bangkalan, dan Provinsi Jawa Timur segera menyusun dan menyelesaikan penerbitan trayek-trayek baru lintas jembatan Suramadu.

(widi antoro)

Komentar Pembaca

  1. jangan lupa kemacetan itu solusinya bukan pembuatan tol yang banyak, tetapi sistem transportasi massal..percuma MERR dan MWRR dibangun tetapi tidak ada pertama yaitu, transportasi massal seperti monorel, rapid bus, trem, dan Underground..sepertinya pembangunan jalan baru hanya terbuang percuma…dan kedua yaitu sistem ERP ( Electronic Road Pricing) juga harus di aplikasikan di Surabaya, karena menoleh pada teknologi Singapore, 50% kemacetan di kota2 metropolis akan terurai.. jalanan akan dikenakan biaya kemacetan / congestion fee..di jalan2 rawan macet..ketiga adalah pajak pengguna kendaraan yang mahal sehingga ada peralihan masyarakat dari kendaraan pribadi ke transportasi massal, keempat adalah kerjasama antara kota2 pendukung / kota satelit, jika surabaya kota satelitnya adalah GerbangKertaSusila ( Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan. ) untuk menyiapkan akses dan parkir murah di setiap perbatasan wilayah, karena kita tahu bahwa Surabaya adalah gula diantara semut2..kota sbg penggerak ekonomi jawa timur..sehingga perlu adanya kerjasama antar wilayah.

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim