Kamis, 24 April 2014

Ketika Tali Agel Mengungsi ke Banyak Negeri

Tali agel yang sudah jadi

Komoditas Handycraft Andalan Kabupaten Bangkalan.

Potensi luar biasa besar inilah yang kemudian ditangkap seorang Faiqatul Himmah, 39 tahun, untuk diterjemahkan menjadi berbagai produk handycraft. Eksplorasi pun dilakukan. Diawali benar-benar dari nol karena keterbatasan SDM. Bentuk dan model diawali dari lemek dan tutup gelas. Lalu alas meja dan tikar. Dibuat dengan apa adanya dan nyaris tanpa polesan juga kemasan. Hasilnya? Lebih mendekati produk asal-asalan dengan kualitas yang sangat kasar.

Konon tali agel sekuat tali dari bahan serat nanas. Sebab itu, tali agel acapkali digunakan untuk menghela kapal laut dengan bobot mati ribuan gross ton. Namun, di Bangkalan – Madura, tali agel malih rupa menjadi bahan baku handycraft cantik yang diminati para kolektor dari mancanegara. Tali agel tidak saja sangat ramah lingkungan tapi juga memiliki kualitas dan keunikan yang jarang ada.

Satu dua dibikin, laku. Tiga, empat dan lima dibuat, juga laku. Digenjot lebih banyak lagi malah semakin laris. Model pun lantas dipercantik. Unsur desain kemudian dimasukkan. Kualitas juga diperbaiki dan menjadi prioritas produk. Setelah itu mulailah merambah model tas, topi hingga melayani pesanan. Berikutnya, banjir pesanan sudah menjadi aktivitas sehari-hari Faiqatul Himmah. Progres yang luar biasa ini membuat Faiq – nama sayang perempuan perkasa ini – mendirikan bendera Daun Agel Handicraft. Pusatnya di Jalan Graha Candra Lavender Blok M/4, Bangkalan, Madura.

Pengungsi

Respon luar biasa atas produk handycraft dari Bangkalan tersebut sungguh tidak terbayangkan sebelumnya. Sebab, para perajin, di balik handycraft berbahan tali agel tersebut sejatinya bukanlah perajin tulen. Jumlah perajin dadakan itu mencapai 100-an orang dan semuanya adalah perempuan. Mereka menjadi perajin karena bertahan untuk hidup. Namun siapa nyana ekonomi akhirnya bisa mengalir cukup lancar hingga ke jauh ke gunung-gunung dimana pohon pocok alias pohon gebang alias pohon agel tumbuh dengan suburnya.

Pengungsi yang juga pengrajin tali agel

Perempuan-perempuan perajin dari Desa Kelbung Kecamatan Sepulu dan Desa Dopok Kecamatan Kokap Kabupaten Bangkalan itu sejatinya adalah para pengungsi dari Sambas, Kalimantan Barat. Mereka merana setelah tempat tinggalnya dilanda konflik horisontal akibat isu SARA. Kehilangan keluarga dan tempat tinggal. Demi keselamatan jangka panjang oleh pemerintah mereka lalu dipulangkan ke Madura.

Kini, menjadi perajin adalah bagian dari proses berdamai dengan petaka kemanusiaan itu agar selanjutnya bisa rutin mendapatkan penghasilan dan mampu hidup layak seperti sediakala.

Enterpreneur

Faiqatul Himmah yang asli perempuan Bangkalan ini bukan perempuan enterpreneur sebenarnya. Faiq lebih dikenal dan berkibar di dunia Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Dunia itu bahkan digelutinya sejak masih aktif menjadi mahasiswa di Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya. Aktivitas itu pula membuatnya lebih dikenal dengan julukan Faiq ketimbang nama aslinya yang kadang terlalu panjang dan ribet untuk disebutkan secara lengkap.

Menurut Faiq, kemauan enterpreneur itu berawal di tahun 2004. Ceritanya, kala itu ada sejumlah relawan Philipina, Amerika dan Kanada datang membantu 350 KK warga Madura yang mengungsi akibat kerusuhan massal di Sambas Kalimantan Barat yang diungsikan pulang ke Madura. Bantuan-bantauan yang dihimpun dan diberikan relawan itu bertajuk Sumbangsih Nuansa Madura. Rewalan bahu-membahu membantu korban kerusuhan ini agar bisa hidup mandiri pasca jadi pengungsi. Pemerintah memang memberi rumah untuk pengungsi, namun tidak dengan penghasilan yang diperlukan sehari-hari.

“Supaya mereka ada penghasilan tetap kami berpikir untuk membuat kerajinan yang bahan bakunya sudah ada di sekitar lokasi pengungsian. Atau minimal tidak mendatangkan dari wilayah lain yang justru menjadi penghambat pemberdayaan.

Akhirnya kita memilih daun agel. Relawan kemudian mendatangkan pelatih dari Surabaya untuk membuat kerajinan rajut dan anyaman dari daun agel tersebut. Kita latih 10 orang ibu-ibu di kecamatan Sepulu Bangkalan. Sepuluh orang itu yang kita jadikan sebagai ketua kelompok sekaligus koordinatornya. Formatnya satu orang ibu membawahi 10-15 orang,” kisah Faiq.

Perajin dan tali agel

Pohon agel orang Madura menyebutnya sebagai pohon pocok yang daunnya serupa benar dengan daun palem. Daun dari pohon ini ternyata mempunyai kualitas tersendiri yaitu bisa dipilin dan dibuat tali sesuai selera. Sejak lama tali dari daun agel ini dikenal memiliki kekuatan dan tekstur yang bagus. Hanya karena kurang dikenalkan saja tali agel menjadi barang kelas dua. Prosesnya membuat tali agel, daun diambil bagian yang muda kemudian dipisahkan dari lidinya. Daun yang sudah tidak berlidi lalu rebus. Setelah dikeringkan baru dipilin hingga membentuk sebuah tali.

Memilinnya harus dilakukan secara manual. Dipelintir dengan tangan dan beralaskan paha si pemilin. Setelah jadi, tali-temali inilah yang akhirnya dirajut untuk dibentuk menjadi aneka bentuk tas, topi, dompet, taplak, tempat tisu, tatakan gelas, piring, tempat pensil, korden dan masih banyak lagi yang lainnya.

”Para pengungsi ini tadinya sama sekali tidak punya ketrampilan sama sekali. Tidak juga punya dasar merajut. Karena itu kita ajari dari awal. Jadi hasilnya itu ada yang bagus dan ada juga yang jelek. Itu semua kita beli. Pokoknya bagaimana mereka bisa berpenghasilan untuk kebutuhan berbelanja. Untuk mempermudah keadaan mereka kita modali. Mereka tinggal merajut saja. Sementara tukang jahit untuk membuat kain lapisan dalam tas, kami yang menyiapkan,” kata Faiq.

Mancanegara

Hasil jelek maupun bagus tetap dibeli para relawan. Untuk menentukan harga jual barang mereka bersepakat semuanya ditimbang terlebih dahulu. Harga jual ditentukan berdasarkan berapa banyak tali yang dipakai. Harga tali agel per kilogramnya 18.000 rupiah. Setelah jadi produk tas, topi, taplak dan lain sebagainya ditimbang dulu untuk mengetahui berapa beratnya, setelah itu baru ditentukan berapa harga jual produk tersebut.

”Kita sepakat paling murah itu harganya 3ribu rupiah. Itu bentuknya dompet kecil. Yang mahal 45-50ribu rupiah untuk produk taplak bundar. Untuk taplak yang panjangnya 2 meter harganya 100 ribu rupiah. Semua juga tergantung tingkat kesulitannya. Itu sudah menjadi kesepakatan bersama. Sementara dana untuk membeli barang-barang itu berasal sumbangan teman-teman. Pokoknya dananya mandiri yang kami kelola sedemikian rupa,” jelasnya lagi.

Barang-barang yang sudah terbeli itu semula hanya ditumpuk di gudang. Lama kelamaan tumpukkannya menggunung luarbiasa. Lantaran dana terbatas akhirnya gunungan hasil olah kerajinan itu dijual. Ada yang dijual hingga pasar pagi di Tugu Pahlawan Surabaya. Semua relawan bergerak termasuk relawan bule ikut jualan di Tugu Pahlawan. Uang dari penjualan kemudian dipakai lagi untuk modal membeli hasil ketrampilan para pengungsi itu.

Faiq lantas berpikir, andai barang-barang kerajinan itu dibikin secara profesional apa yang terjadi? ”Tahu-tahu saya dapat buyer dari Amerika, namanya Karen. Ia datang langsung melihat proses pembuatannya. Ternyata cocok, hanya kualitasnya yang perlu segera diperbaiki. Karen lantas memesan dalam jumlah cukup besar. Itulah awalnya. Dari Amerika, entah tahu darimana, lantas datang pembeli dari Jepang dalam jumlah besar.

“Untuk di Jepang, mereka suka bahan agel yang natural. Nggak mau ada flek-fleknya, nggak mau ada pemutihnya. Memang agak rumit yang di Jepang ini, tapi asyik sebab bekas-bekas pengungsi itu selain makin panjang daftar ordernya juga makin tahu bahwa selera dan kualitas itu sangat penting. Di Jepang kerajinan agel ini ada di Ginza plaza, di pusat Tokyo begitu. Kalau untuk pasar domestik, kita sesuaikan, pasar dalam negeri suka warna terang, modelnya tidak suka yang sederhana, mereka sukanya yang ada pernak-perniknya. Kalau orang Amerika suka tas yang bertali panjang, kalau orang Jepang sukanya bertali pendek karena suka yang bisa ditenteng. Jadi selera pasar memang berbeda-beda.”

Setelah Amerika, Jepang, pasar makin merambah jauh. Swiss, China, Ukraina, Thailand, dan Turki adalah yang berikutnya. Bahkan di Swiss tali agel menjadi begitu primadona. Saat dipamerkan di ajang Muster Messe Basel (MUBA) di Kota Basel Februari 2013 lalu, produk dari Bangkalan ini diserbu pengunjung dan pembeli. Alhasil, sebelum pameran bubar Faiq sudah kehabisan stok. Namun pengunjung masih terus mengalir, sebagai ganti kecewanya Faiq terus-menerus melakukan demo dan mengajarkan membuat produk dari agel tersebut. “Ayo ke Indonesia saja, nanti bisa memilih sesuai selera lho, oke, please, seklangkong ya,” rayu Faiq dengan logat Madura. (widi kamidi)

5 Komentar Pembaca

  1. Dibalik kerajinan daun agel ada misi kemanusiaan juga karena membantu para pengungsi sambas, super

  2. kerren abisss broooo. go bangkalan go jawa timur duan agel masih panjang jalanmu……

  3. Daun Agel is the best product, karena terbuat dari daun tapi kekuatannya bisa puluhan tahun & sudah mampu go internasional………

  4. Daun agel nya keren” mbak broo??

  5. Bagaimana cara order handycraftnya…..

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2014. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim