Nelayan Banyuwangi Enggan Melaut

Ilustrasi (Foto; Detik.com)

Puluhan nelayan yang terdapat di Ketapang, Kecamatan Kalipuro dan Kecamatan Wongsorejo mengaku enggan melaut karena cuaca perairan di Selat Bali, tinggi gelombang setinggi 2 meter, Minggu (3/2/2013).

Akibatnya, sejumlah nelayan banyak yang beralih profesi sebagai buruh pabrik dan berwiraswasta.

Seperti disampaikan, nelayan wongsorejo, Desa Bengkak, Rahmat (43) ketika ditemui Surya mengaku, dalam beberapa bulan kedepan akan berhenti melaut karena cuaca di perairan Selat Bali dinilai ekstrem. Dengan kondisi cuaca yang tidak memungkinkan untuk melaut sangat berdampak pada penghasilan untuk mendapatkan ikan.

“Rata – rata jika melaut kita bisa mendapatkan ikan 10 sampai 25 kg, berhubung cuaca ekstrem untuk sementara saya berhenti melaut dan bekerja sebagai buruh pabrik,” katanya.

Terpisah, Kepala Administratur Pelayaran (Adpel) Tanjungwangi Ketapang Banyuwangi Sri Sukesi mengaku, kondisi cuaca hingga beberapa bulan kedepan masih dinilai ekstrem. Namun kondisi itu untuk kapal penumpang masih berjalan normal.

Jika dari BMKG ada pemberitahuan tinggi gelombang jauh diatas rata – rata secara otomatis kapal penumpang akan diberhentikan sementara hingga kondisi cuaca kembali normal.

“Kita secara intens terus melakukan pengawasan dan koordinasi kesejumlah pihak yang terkait mengenai keselamatan pelayaran yang menghubungkan ke kepulauan, seperti Sepudi, Kangean Sumenep,” ujarnya.

Pantauan Surya dilokasi Pelabuhan Penyeberangan Ketapang Banyuwangi masih berjalan normal walaupun curah hujan tinggi.

(Sumber: Surya Online)

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim