Bangun Kemandirian Bangsa Dengan Perkuat Kerjasama Dalam Negeri

Gubernur Jawa Timur , Soekarwo (DOK/TEMPO/Fatkhurrohman Taufiq)

Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo mendukung penuh konsep untuk membangun kemandirian bangsa. Salah satu caranya yakni dengan memperkuat kerjasama dengan provinsi lain. Langkah ini dilakukan untuk menghadapi Asean Free Trade Area (AFTA) tahun 2015.

Gagasan tersebut disampaikannya saat Dialog Interaktif Ekonomi dan Kebangsaan bertema “Menuju 100 Tahun Kemerdekaan Indonesia Membangun Kemandirian Bangsa, Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat” di Gedung Serbaguna Fakultas Teknik (GSFT) Universitas Surabaya (Ubaya), Kamis (17/1) sore.

Sebagai wujud nyatanya, ia menjelaskan berdasarkan kondisi yang ada di Jatim. Saat AFTA berlangsung, pertarungan Jatim tidak lagi dengan provinsi di Indonesia, tetapi juga dengan provinsi di kawasan ASEAN. Untuk menjaga kedaulatan atau kekuatan ekonomi dapat dilakukan dengan memperkuat kerjasama dengan provinsi lain misalnya membuat perjanjian dengan provinsi lain untuk mengolah bahan mentah di Jatim. Langkah membangun jaringan antar pulau atau provinsi ini akan sangat efektif untuk mengimbangi penurunan ekspor dan mengantisipasi terjadinya ekspansi pasar negara-negara lain ke pasar dalam negeri.

Pakde Karwo sapaan akrab Gubernur Jatim itu menyampaikan, saat ini impor bahan jadi Jatim sebesar 6,63 persen, impor bahan baku penolong sebesar 86 persen, dan 7 persen impor bahan modal. Artinya bahan baku penolong bisa diekspor kembali (re-export). Melihat data seperti itu, bahan mentah harus diproses di dalam negeri dan jangan mengekspor bahan baku.

Dengan impor bahan baku penolong sebesar 86 persen, Jatim dapat membuat perjanjian dengan provinsi lain untuk mengolah bahan baku mentah di Jatim. Sebenarnya inilah kedaulatan atau kekuatan ekonomi kita.

“Bahan baku kita jangan diekspor, bahan mentah harus diproses di dalam negeri. Pengolahannya di Jatim, bahan baku di provinsi lain. Ini jalannya sudah benar tinggal memperkuat proses. Jika ini dilakukan, kita bisa menjadi petarung yang hebat dalam menghadapi AFTA 2015,” tegasnya.

Pakde Karwo juga menjelaskan, untuk menangani orang miskin, penting ditekannya demokrasi partisipatoris. Pemerintah mengajak bicara dan merumuskan apa yang diinginkan orang miskin. Kegagalan penanganan kemiskinan karena terlalu memaksakan cara berpikir kita untuk menyelesaikan masalah kemiskinan. Untuk itu, perlu mengajak bicara orang miskin untuk menangani kemiskinan.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie mengatakan, Pemerintah Indonesia tidak menyerahkan proses perekonomian kepada mekanisme pasar, karena hal itu justru akan memperlebar kesenjangan di tengah-tengah masyarakat.

“Karena itu, ketika saya masih menjabat sebagai menteri atau menteri koordinator, maka saya merancang berbagai program intervensi untuk rakyat miskin, yakni BOS, Jamkesmas, subsidi pupuk, PNPM, dan KUR,” katanya.

Ia menambahkan intervensi pemerintah untuk rakyat miskin itu penting, karena pembangunan ekonomi itu hanya perantara, sedangkan pembangunan yang sesungguhnya adalah pembangunan manusia.

“Kalau itu dilakukan, saya yakin bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang mandiri dan sejahtera pada usia 100 tahun pada tahun 2045, karena pembangunan jalan dan pemerataan juga jalan,” ujar Ical sapaan akrabnya.

Ia mengharapkan, mahasiswa mau jadi bisnisman semua dan selalu berpikir positif. Separuh dari kemenangan akan diraih kalau berpikir positif. Tapi kalau berpikir negatif, 100 persen kalian akan kalah. Mahasiswa juga diminta jangan membaca text book, tapi harus juga baca trend dunia internasional gonjang-gonjang ekonomi di negara lain dan membaca kisah sukses. Kemudian, menciptakan industri kreatif seperti animasi.

“Mahasiswa jangan hanya bisa sedih dan nekad bunuh diri, kalau ditinggal pacarnya. Bila tibanya malam, jangan pernah kita mengeluh gelap. Tapi nyalakanlah pelita untuk meneranginya. Itu kalau berpikir positif,” imbuhnya.

Di akhir dialog interaktif itu, pengurus Ikatan Alumni Ubaya menyerahkan sumbangan Rp50 juta kepada tim sukses Capres Abu Rizal Bakri, yang diterima langsung oleh Ical. “Terima kasih atas apresiasi teman-teman Ubaya,” katanya.

(Sumber: Biro Humas Pemprov Jatim)

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2017. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim