13 Daerah Positif Flu Itik

ilustrasi

Kecepatan penyebaran virus flu burung yang menyerang itik di Jawa Timur di luar dugaan. Kini 13 daerah (kabupaten/kota) di provinsi Jawa Timur (Jatim) dalam status positif ‘flu itik’.

Tak hanya sektor kesehatan masyarakat yang waspada, peternak itik pun mulai menjerit karena itiknya ditolak pasar. Sayangnya, Pemprov dalam hal ini Dinas Peternakan Jatim dinilai lamban mengatasi.

“Mestinya mewabahnya virus flu burung pada itik dijadikan early warning, termasuk terancamnya ketahanan pangan. Asal virus ini pun bukan dari Jatim dan Indonesia, tapi luar negeri,” kataKepala Riset Flu Burung Universitas Airlangga (Unair), Chairul A. Nidom, Jumat (28/12).

Menurut catatan, di Jatim sendiri, jumlah populasi itik mencapai 3,18 juta ekor. Total kematian itik yang dinyatakan positif terkena AI clade 2.3 sub clade 2.3.2 (jenis virus flu burung pada itik,Red) diperkirakan lebih dari 10.380 ekor.

Kasus ini terjadi di Kabupaten Blitar, Tulungagung, Kediri, Probolinggo, Lamongan, dan Trenggalek. Terdeteksi juga di daerah Jombang, Malang, Ngawi, Sidoarjo, Nganjuk, Pasuruan, serta Mojokerto.

Belajar dari pengalaman virus flu burung pada tahun 2003, ia meminta semua pihak untuk ikut memikirkan masalah ini. Sebab ada kekhawatiran bisa langsung ‘meloncat’ ke manusia. “Sekarang yang perlu dicamkan adalah apakah virus baru ini dapat melompat ke manusia atau ke hewan unggas lain,”tuturnya.

Terpisah, Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur, Maskur mengatakan pihaknya telah melakukan pengendalian wabah dengan bio security, antara lain seperti mengisolasi unggas (pagar kandang, itik sakit, dan kandang baru), mengawasi lalu lintas terhadap pekerja dan kendaraan pengangkut itik, serta pembersihan dan desinfeksi terhadap peralatan kandang.

“Pengawasan tata niaga itik juga dilakukan dengan ketat, baik itu lalu lintas antar daerah atau provinsi. Harus menyertakan kelengkapan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) dari dokter hewan setempat yang berwenang dengan hasil negatif Avian Influenza (AI),” ujarnya. Sedangkan untuk memasukan dan mengelurkan itik dari daerah yang sudah terkena wabah akan dilarang selama kegiatan pengendalian berlangsung sampai ada ketetapan-ketetapan dari Dinas Peternakan.

Ia pun menambahkan, sarana yang disiapkan pada tahun 2013 untuk mencegah semakin mewabahnya AI pada itik ini, yakni 5.900 botol/liter desinfektan, 1.800.000 dosis vaksin AI unggas, dan dua unit peralatan PCR (Polymerase Chain Reaction) di Unit Pelaksana Teknis (UPT) laboratorium kesehatan hewan (Labkeswan) Malang dan Tuban.

Anggota DPRD Jatim pun mendesak penanganan dilakukan lebih serius. Pasalnya, penyebaran virus tersebut sangat cepat dan terpola secara masif.”Saya kira disamping penanganan secepatnya harus dilakukan dari aspek kesehatan juga harus ada koordinasi dengan unsur intelijen,” kata anggota komisi E DPRD Jawa Timur Riyadh Rosyadi.

Dia mengkhawatirkan, merebaknya virus flu burung itu adalah’serangan’ yang sudah direncanakan dengan pihak asing untuk melemahkan industri peternakan lokal. Disatu sisi, virus flu itik itu akan memudahkan masuknya itik impor ke Indonesia atau Jawa Timur. Disamping itu, nanti kalau virus itu merebak maka Indonesia atau Jawa Timur berkepentingan untuk memperoleh vaksin pencegahnya.”Biasanya setelah gejala gejala tersebut muncul maka akan masuk penelitian-penelitian asing yang nantinya berakhir dengan penawaran vaksin-vaksin yang sudah mereka siapkan,” tegasnya lagi.

Itik Jatim Ditolak
Sebelumnya Dinas Peternakan Kabupaten Kediri menyatakan penjualan produk itik ke luar daerah macet total. Bahkan, hingga kini dana penanggulangan bencana yang dijanjikan pemerintah provinsi juga tak jelas kabarnya.

Kepala Subdinas Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Kediri, Apriati Dwiwin, mengatakan hampir setiap hari dirinya menerima keluhan dari para peternak yang mengalami kerugian luar biasa. Produk itik mereka tak lagi laku dijual ke luar daerah. “Semua itik asal Jawa Timur tak laku lagi dijual,” kata Dwiwin.

Dwiwin mengatakan nasib para peternak itik di wilayahnya ini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Di tengah upaya mereka menanggulangi wabah flu burung secara swadaya akibat keterbatasan dana pemerintah, kini bisnis tersebut terancam gulung tikar. Seluruh pengiriman itik ke luar daerah berhenti total akibat pemberitaan flu burung yang begitu gencar.

Para peternak ini, menurut Dwiwin, telah berjuang mati-matian menyelamatkan usahanya. Di tengah kasus kematian yang mendera ribuan ekor peliharaannya, mereka harus rela merogoh kocek untuk membeli desinfektan dan obat untuk melawan virus flu burung. Pembelian secara swadaya ini terpaksa dilakukan akibat tidak tersedianya desinfektan gratis dari pemerintah.

Janji Gubernur Jawa Timur Soekarwo untuk mengalokasikan dana penanggulangan bencana sebagai konsekuensi penerapan status luar biasa hingga kini tak jelas ujung pangkalnya. Akibatnya penanggulangan wabah flu burung ini diserahkan sepenuhnya kepada para peternak. Dinas Peternakan hanya bisa memberikan penyuluhan tentang standar penanganan flu burung, seperti sterilisasi kandang dan pekerja, penyemprotan desinfektan, hingga pembakaran bangkai unggas yang terinfeksi.

Imbauan pemerintah untuk memusnahkan itik yang terinfeksi tak dilakukan karena tidak adanya kompensasi/ganti rugi kepada peternak atas pemusnahan itu seperti pada kasus flu burung ayam beberapa waktu lalu. Akibatnya, para peternak hanya bisa mengisolasi dan memisahkan itik yang sakit meskipun hal itu jauh dari efektif.

Kondisi ini dibenarkan Tamaji, salah satu peternak itik di Desa Tegalan, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri yang merupakan daerah endemis serangan flu burung. Dia menyatakan usahanya hancur akibat penolakan itik asal Kediri. “Kami hanya bisa menjual untuk lokal saja,” katanya.

Terpisah, Ketua Himpunan Peternak Unggas Lokal Jatim, Mujiono mengatakan, kelambanan Disnak Jatim dan Disnak di Kabupaten/Kota ini terlihat dengan masih adanya itik yang mati mendadak setiap harinya. Disnak, kata dia, hanya memberi himbauan dan koordinasi, tanpa ada bantuan vaksin kepada peternak. Akibatnya, kematian itik ini masih terus terjadi.

“Kami minta Disnak cepat ambil langkah nyata dan bagikan vaksin kepada seluruh peternak unggas, khususnya itik,” ujar Mujiono. Kematian itik yang terus terjadi ini, telah mengurangi populasi itik di Jatim hingga 30 persen. Hal ini, tentu saja sangat merugikan Peternak. M18,sty

KABUPATEN/KOTA POSITIF FLU ITIK
Kabupaten Blitar
Kabupaten Mojokerto
Kabupaten Tulungagung
Kota Kediri
Kabupaten Probolinggo
Kabupaten Jombang
Kabupaten Lamongan
Kabupaten Nganjuk
Kabupaten Malang
Kabupaten Ngawi
Kabupaten Pasuruan
Kabupaten Trenggalek
Kabupaten Sidoarjo
surabaya post online

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim