Kab. Probolinggo Catat Kematian Bayi Tertinggi

ilustrasi: diskes.jabarprov.go.id

Diam-diam Kabupaten Probolinggo menyimpan ’prestasi’ buruk di bidang kesehatan. Angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Probolinggo yang mencapai 64,19% tercatat paling tinggi di Jatim.

Setelah Kabupaten Probolinggo, AKB tertinggi diduduki Jember 56,45%, Sampang 55,11%, Situbondo 54,60%, Bondowoso 54,35%, Bangkalan 54,22%, Pamekasan 51,66%, dan Kabupaten Pasuruan 51,62%. Data delapan besar AKB tertinggi di Jatim itu dirilis Dinas Kesehatan (Dinkes) Propinsi Jatim.

”AKB tinggi di 8 kabupaten tersebut terjadi karena banyaknya masyarakat yang masih bergantung dan percaya pada dukun untuk membantu proses persalinan,” ujar Kepala Dinkes Jatim, dr Budi Rahayu. Dinkes pun mengambil kebijakan, dukun tidak diperbolehkan membantu proses persalinan.

Dikonfirmasi terpisah terkait paparan Dinkes Jatim, Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo, dr Endang Astuti tidak mengelak. ”Ya kita masuk delapan besar AKB tertinggi di Jatim. Tetapi seingat saya, yang tertinggi Jember barulah Kabupaten Probolinggo,” ujarnya.

Didampingi Kabid Kesehatan Keluarga Keluarga dan Gizi di Dinkes, Ari Suciati, Endang menjelaskan, ihwal AKB dan angka kematian ibu (AKI) di Kabupaten Probolinggo. ”AKB pada 2011 mencapai 218 kasus, tahun 2012 hingga Oktober menurun menjadi 192 kasus,” ujarnya.

Sementara itu AKI pada 2011 mencapai 15 kasus. Dan pada 2012 (hingga Oktober) mencapai 12 kasus. ”Angka kematian ibu itu mencakup ibu hamil, melahirkan, dan saat nifas,” ujar Ari.

AKB dihitung per 1.000 kelahiran dan AKI per 100.000 kelahiran. Pada 2012 ini Dinkes mencatat terdapat 15.675 kelahiran di Kabupaten Probolinggo.

“Sehingga jumlah AKB tahun 2012 ini mencapai 12,25 per 1.000 kelahiran. Tahun 2011 lalu, AKB mencapai 11,71 per 1.000 kelahiran,” ujar Ari usai menghitung dengan kalkulator.
Sementara AKI pada 2012 ini mencapai 76 per 100.000 kelahiran. Tahun 2011 lalu mencapai 80,59 per 100.000 kelahiran.

Jika acuannya adanya Millenium Development Goals (MDGs) –standar internasional (PBB)- AKB dan AKI di Kabupaten Probolinggo tergolong masih rendah (di bawahnya). “MDGs mematok estándar AKB 23 per 1.000 dan AKI 228 per 100.000,” ujar Ari.

Sisi lain Kabupaten Probolinggo sendiri punya patokan berupa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). RPJMD ini menjadi patokan bupati terpilih lima tahun mendatang, 2013-2018. ”Sesuai RPJMD kematian ibu dipatok di bawah 100, berarti sudah tercapai. Sedangkan kematian bayi dipatok 10, ini yang belum tercapai,” ujarnya.

716 Dukun
Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo, dr Endang Astuti mengatakan, tingginya AKB dan AKI di antaranya dipicu masih ada sebagian masyarakat yang bergantung dan percaya pada dukun untuk membantu proses persalinan. ”Di Kabupaten Probolinggo masih banyak dukun bayi, jumlahnya tercatat 716 orang,” ujarnya.

Sebelumnya dukun bayi memang digandeng sebagai mitra bidan desa. Mereka pun dilatih dan diperbolehkan menolong persalinan.

”Untuk menekan AKB dan AKI, dukun tidak boleh lagi menolong persalinan. Mereka hanya boleh menolong pasca kelahiran, seperti memandikan dan merawat bayi,” ujar Kabid Kesehatan Keluarga dan Gizi di Dinkes, Ari Suciati.

Larangan dukun bayi menolong persalinan itu dilatarbelakangi masih ada dukun yang tidak mengerti soal sterilisasi dan higienitas. ”Ada dukun yang memotong tali pusar. Setelah itu (pusar, Red.) diisi ramuan rempah-rempah. Ini memicu infeksi pada bayi,” ujar Ari.

Berbagai cara pun ditempuh Dinkes untuk menekan AKB dan AKI. ”Kuncinya sejak hamil, ibu diminta rutin memeriksakan kehamilannya di bidan atau dokter,” ujarnya.

Bahkan pemerintah pun menyediakan Jaminan Persalinan (Jampersal), yang melayani persalinan ibu secara gratis di Puskesmas dan rumah sakit. ”Dinkes pun membentuk kelas ibu hamil. Mereka dikumpulkan diberi pembinaan seputar kesehatan ibu dan bayi,” ujar Ari. surabaya post online

Komentar Pembaca

  1. pejabat2 kab. prob sibuk cari muka ke bupatinya yg butuh banyak muka untuk pemilu

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim