Banyuwangi, “Sunrise of Java”

ilustrasi: animetekno.com

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengeluarkan tagline baru untuk mempromosikan Banyuwangi sebagai destinasi wisata yaitu “Sunrise of Java”. Banyuwangi memang berada di ujung paling timur Pulau Jawa.

“Orang Jakarta masih tidur, kita sudah bangun. Karena matahari terbit paling awal di Banyuwangi,” ungkap Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, saat jumpa pers di Gedung Sapta Pesona, Jakarta.

Ia menuturkan sebagai destinasi wisata, Banyuwangi menawarkan banyak obyek wisata maupun pertunjukan budaya. Salah satu unggulan pembangunan daerah Banyuwangi di sektor pariwisata yang menitikberatkan pada pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal serta pelestarian dan pengembangan budaya lokal.

Pengembangan pariwisata tersebut di antaranya adalah mengembangkan pusat-pusat wisata unggulan (alam dan budaya). khususnya kawasan Ijen dan Plengkung. Wisata unggulan yang dimiliki Banyuwangi disebut sebagai Diamond Triangle.

“Diamond Triangle meliputi Kawah Ijen, sebagai salah satu destinasi kawah yang indah di dunia. Kedua adalah Sukamade di Pesanggaran, di sini tempat penangkaran penyu yang cukup menarik banyak wisatawan asing. ketiga adalah Taman Nasional Alas Purwo yang meliputi Pantai Plengkung, biasa disebut turis G-land,” jelas Abdullah.

Ia menjelaskan, terjadi pertumbuhan ekonomi di Banyuwangi yang signifikan. Dulu, minat investasi di Banyuwangi masuk dalam peringkat ke-30 se-Jawa Timur. Saat ini, lanjutnya, sudah di peringkat ketiga.

“Kekuatan kami ada di ecotourism, dengan taman nasional Baluran dan Alas Purwo,” tuturnya.

Banyuwangi memiliki tiga taman nasional yaitu Baluran, Alas Purwo, dan Meru Betiri. Menurut David Makes, seorang konsultan ekowisata dan pemilik dari Menjangan Jungle & Beach Resort menuturkan bahwa kekayaan Indonesia adalah wisata yang berdasarkan alam.

Ia mengungkapkan seperti Banyuwangi, banyak turis yang datang untuk berkunjung ke taman-taman nasional yang ada di kawasan ini. Selain itu, banyak pula turis Perancis yang datang ke Kawah Ijen.

“Turis datang ke Kawah Ijen untuk melihat blue fire, sunrise itu malah hal kedua. Blue fire atau api biru bisa dilihat saat subuh. Di Kawah Ijen, antara jam satu dan dua pagi, ada ratusan orang datang ke tempat itu untuk melihat blue fire. Lalu baru lanjutkan dengan turun untuk lihat sunrise,” ungkapnya.

Ia menjelaskan api biru di Kawah Ijen bisa dibuatkan paket wisata minat khusus terutama untuk turis yang ingin melihat kejadian alam yang langka. Sementara itu, menurut Abdullah untuk kuliner pun Banyuwangi memiliki banyak kekayaan makanan tradisional. Misalnya nasi tempong berupa nasi dengan ikan asing, sayur, sambal, dan terung.

“Nasi tempong munculnya malam-malam. Kalau siang, ada rujak soto, ini semacam rujak yang dicampur dengan soto. Kalau minuman khas ada temulawak,” ungkap Abdullah. kompas.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim