Musim Tanam Padi Mundur Dua Bulan

ilustrasi

Musim tanam padi diperkirakan mundur dua bulan dari kondisi normal. Pemerintah diminta mengantisipasi agar tidak berdampak pada produksi beras nasional dan daya beli petani serta cadangan pangan nasional yang akan berdampak pada stabilisasi harga. Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir mengatakan itu, saat dihubungi di Indramayu, Jawa Barat. Musim tanam padi pada musim hujan tahun ini diperkirakan baru akan mulai akhir November atau awal Desember 2012.

“Berdasarkan ramalan BMKG, hujan baru akan mulai banyak awal November,” katanya. Turunnya hujan bulan November tidak bisa langsung dimanfaatkan petani untuk mengolah lahan dan menanaminya. Butuh waktu agar air permukaan (air hujan) dan air irigasi cukup untuk persiapan tanam. Itu berarti musim tanam baru akan mulai serentak awal Desember. Hartono, petani dari Lumajang, Jawa Timur mengatakan, musim tanam belum mulai karena petani masih nunggu hujan. Hujan diperkirakan turun dua minggu lagi, untuk olah lahan butuh sepuluh hari sehingga Desember baru mulai tanam.

“Semua mundur musim tanam, di tempat kami bisa sebulan lebih mundurnya,” katanya. Dia berharap mundurnya musim tanam padi ini bisa diantisipasi oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah. Petani jagung di Lampung, Jumadi mengatakan di daerahnya hujan baru turun dua kali. Ada sebagian petani yang mencoba mengolah lahan dan menanaminya, tetapi benih jagung terus busuk karena hujan tidak datang lagi. Bulan November ini diperkirakan hujan akan turun. Dia berharap hujan mulai berlangsung lebih sering agar petani langsung mulai tanam.

“Begitu November hujan. Kita akan langsung tanami,” katanya. Winarno menambahkan, di Indramayu, Jawa Barat hujan baru turun sekali. Petani jelas tidak berani menanam karena justru akan merugi. Di Indramayu, musim tanam serentak diperkirakan awal Desember. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkiraakan musim penghujan di Indonesia akan mengalami keterlambatan akibat Badai El Nino yang berkekuatan lema, yang mengurangi pasokan uap air dari Samudera Pasifik sebelah timur Indonesia. Keterlambatan awal mulainya musim hujan berkisar 10 hari sampai sebulan. Beberapa daerah yang sejauh ini masih mengalami kekeringan akan memasuki musim penghujan pada akhir bulan Oktober.

Berdasarkan data obeservasi BMKG, musim kemarau mulai terjadi pada bulan April di 32 persen wilayah Indonesia. Hingga Agustus ini, wilayah yang mengalami musim kemarau tersebut terpantau telah mencapai 97 persen. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, panen padi musim hujan menyumbang sekitar 60 persen dari produksi beras nasional. Selebihnya pada musim kemarau I dan kemarau II. Mengacu data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, dalam evaluasi prakiraan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) utama padi 2011/2012 sasaran luas tanam padi pada musim tanam 2011/2012 adalah 8.690.398 hektar.

Prakiraan maksimum serangan OPT utama tanaman padi pada MT tersebut 251.256 hektar atau 2,89 persen dari sasaran. Sampai Maret 2012, realisasi luas tanam padi 6.848.945 hektar. Panen mulai Maret Winarno mengatakan, dengan musim tanam awal Desember 2012, musim panen diperkirakan baru mulai Maret 2013. Panen bulan Maret perlu untuk mengisi pasar dan menstabilkan harga, sehingga Bulog diperkirakan baru bisa menyerap optimal pada bulan April. Panen bulan Maret 2013 bertepatan dengan musim hujan. Bagi petani yang tidak memiliki sarana pengering akan menghadapi masalah serius penurunan kualitas gabah.

Harga gabah petani bisa anjlok. Karena itu Kementerian Pertanian diminta untuk memetakan lokasi dan kepemilikan sarana pengering agar mobilisasi bisa lebih mudah. Panen pada musim hujan juga lebih memicu hama penyakit. Kondisi ini harus diantisipasi pemerintah. Bagi petani yang daerahnya rentan terhadap banjir, KTNA menganjurkan agar mereka menanam padi yang lebih tahan rendaman. Paling tidak seminggu terendam air. Misalnya dengan menanam padi varietas Inpari atau Inpara. Terkait pengadaan, para petani meminta agar Bulog mengoptimalkan sarana pengering. Bulog juga diminta responsif menjemput bola membeli gabah petani agar jangan sampai harganya jatuh. kompas.com

Komentar Pembaca

  1. Buat Kadinpertanian n tanaman pangan terkait…. kemana nih … koq gak proaktif ke lapangan… spertinya petani dibiarkan saja dengan pengetahuannya masing2 persis jaman dulu aja seperti gak ada strategi dari dines pertanian untuk para petani dalam hal bercocok tanam…. kemana aja pak n bu??? heheee hayu bareng2 berlumpur ria dong…. jangan di belakang…..heheee hidup petani…

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2020. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim