Patriotisme Pemuda

Puan Maharani

Menyambut 84 tahun Sumpah Pemuda, kita jadi ingat lirik lagu Alfred Simanjuntak, ”Bangun Pemudi Pemuda”.

Satu baris di situ mengingatkan pemuda Indonesia tentang tanggung jawabnya: ”masa yang akan datang kewajibanmulah”. Saat mencetuskan Sumpah Pemuda pada 1928, pemuda Indo- nesia berkumpul dengan satu spirit menunaikan kewajiban mereka sebagai anak bangsa untuk merumuskan jawaban atas tantangan zaman: penjajahan atas bangsa Indonesia.

Atas dasar kesadaran kolektif dan semangat kebersamaan, mereka sepakat bahwa untuk menghapus penjajahan di bumi Indonesia, persatuan Indonesia adalah sebuah kemutlakan. Tak ada jalan lain. Rumusan satu tumpah darah, satu bangsa, dan menjunjung bahasa Indonesia menjadi prasasti sekaligus tonggak kebangkitan pergerakan nasional melawan penjajah.

Kiprah dan peran pemuda Indonesia pada 1928 itu drastis mengubah pola perjuangan pergerakan nasional dari yang bersifat kedaerahan menjadi nasional. Kini, 84 tahun kemudian, pertanyaan yang relevan untuk kita jawab: apakah peran pemuda yang, menurut data BPS, sekitar 168 juta orang (di bawah umur 40 tahun) sebagai penggerak peru- bahan bagi bangsanya? Perubahan seperti apa yang dibutuhkan Indonesia masa kini?

Jika dulu tantangan nyata pemuda Indonesia melawan penjajahan fisik, sekarang pemuda Indonesia menghadapi tantangan yang tak kalah besar, yaitu krisis multidimensi yang menempatkan Indonesia ”terjajah” oleh bangsa lain dalam bentuk baru: ekonomi, sosial, dan budaya. Dahulu pernah berwibawa dan mandiri, Indonesia kini menjadi negeri bergelimang produk impor. Bukan hanya impor barang, melainkan juga impor pemikiran dan kebudayaan.

Pada akhirnya arus impor berkecepatan tinggi di segala lini itu memadamkan spirit dan kemampuan kita sebagai bangsa untuk mampu memproduksi barang, ide, dan kebudayaan karena terlena oleh produk impor tadi.

Di sektor ekonomi, produksi dalam negeri sudah kalah bersaing dengan produk bermerek mancanegara. Di bidang pemikiran, intelektual muda lebih merasa gagah mengutip kearifan tokoh bangsa lain ketimbang mengutip kearifan tokoh nasional. Padahal, pemikiran Bung Karno, Bung Hatta, Gus Dur, dan banyak tokoh lagi sudah diakui di dunia internasional.

Bahkan, dalam tataran praktis, gaya demokrasi yang dianut lebih berorientasi Barat ketimbang Indonesia. Bukan demokrasi yang berjiwa nilai luhur bangsa Indonesia yang mengutamakan musyawarah untuk mufakat. Kini perbedaan pendapat lebih cenderung diselesaikan dengan mekanisme voting daripada dengan musyawarah untuk mufakat.

Sementara itu, dari sisi kebu- dayaan, arus budaya pop impor semakin memudarkan kecintaan pemuda-pemudi Indonesia melestarikan warisan budaya nasional, seperti wayang, sastra, dan tari-tarian daerah. Padahal, tidak sedikit orang asing yang justru kemudian mempelajari dan membawa warisan budaya leluhur ke pentas internasional.

Saya percaya bahwa keberhasilan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh keberhasilan pemuda- pemudinya dalam berkiprah di bidang keahliannya masing-masing. Negeri ini sesungguhnya dilimpahi tunas-tunas bangsa yang punya potensi besar membawa kejayaan bangsa di pentas internasional.

Kami mencatat begitu banyak prestasi yang telah diraih pemuda-pemudi Indonesia di pentas dunia. Keberhasilan pelajar-pelajar Indonesia asuhan Profesor Yohanes Surya menjadi juara Olimpiade Fisika tingkat dunia menjadi bukti bahwa pemuda- pemudi Indonesia punya kualitas yang tak kalah dari kualitas pemuda-pemudi negara lain.

Publik kebudayaan sangat bersemangat ketika menyaksikan pertunjukan Matah Ati. Bagi kami, Matah Ati adalah sebuah pertunjukan budaya sangat indah dan kuyup dengan nilai-nilai filosofis. Pengakuan batik Indonesia dari UNESCO juga bukti bahwa jika dikembangkan secara sungguh-sungguh, karya budaya asli Indonesia berpotensi besar dikembangkan jadi soft power Indonesia di kancah internasional.

Pengakuan komunitas perfilman internasional yang memuji film ”Denias, Senandung di atas Awan” karya sutradara Ari Sihasale dan kiprah para ilmuwan muda Indonesia di lembaga-lembaga riset internasional dengan berbagai temuan penting mereka adalah cermin bahwa sejatinya pemuda-pemudi Indonesia punya potensi besar membawa bangsa kita jadi bangsa maju.

Bayangkan, jika setiap bidang dan sektor kehidupan di negeri ini dipenuhi dengan pemuda beretos baja seperti contoh-contoh sukses tadi, niscaya Republik ini akan lebih cepat bangkit dan melesat sejajar dengan bangsa-bangsa maju lain di dunia.

Keteladanan

Memang, untuk mengaktualkan potensi-potensi besar itu dibutuhkan sebuah keteladanan yang mampu menggelorakan patriotisme kaum muda dalam konteks kekinian. Namun, jika keteladanan itu tak kunjung datang, semangat Sumpah Pemuda 1928 bisa menjadi teladan bahwa kaum muda bisa menjadi teladan untuk kaumnya sendiri. Bahkan, kaum muda bisa menjadi pelopor atas kebangkitan bangsa di te- ngah-tengah krisis multidimensi yang mendera di semua lini.

Ingat, kepemudaan berarti spirit. Ia adalah personalisasi dari sosok bersemangat baja: si pantang menyerah, si pekerja keras, si cerdas, dan si pemilik penguasaan terhadap sejumlah keterampilan yang diperlukan. Bila pemuda bangsa pada 1928 menjawab tantangan penjajahan dengan persatuan, pemuda Indonesia masa kini bisa menjawab tantangan krisis multidimensi dengan tampil sebagai pionir-pionir penuh prestasi di bidang keahlian dan bidang kecakapannya masing-masing.

Pemuda Indonesia yang memilih dunia olahraga sebagai atlet, jadilah atlet yang mendalami keatletannya sehingga berprestasi di pentas dunia. Begitu pula pemuda yang berkiprah di bidang kesenian dan kebudayaan, apakah sebagai penari, penyanyi, pelukis, penulis, dan sebagainya, jadilah seniman dan budayawan yang mendalami secara utuh di bidangnya masing-masing hingga diakui dunia.

Juga pemuda yang berprofesi sebagai peneliti, ilmuwan, politisi, dan birokrat hendaknya menekuni profesi masing-masing secara utuh, tulus, dan ikhlas demi kemajuan bangsa dan negara. Seperti kata Bung Karno, ”Karmane Vadni Adikaraste Maphalessu Kada Chana” (Laksanakan kewajibanmu dengan ikhlas dan rela tanpa bertimbang sebab jika bukan engkau yang memetik buahnya, maka anakmu yang akan memetik; jika bukan anakmu, pastilah cucumu yang akan memetiknya).

Itulah redefinisi partriotisme pemuda Indonesia masa kini yang tidak kalah agung dari patriotisme pemuda Indonesia pada 1928 ketika mencetuskan Sumpah Pemuda. Melalui redefinisi tersebut, Indonesia akan selangkah lebih dekat mewujudkan impian menjadi bangsa yang besar di pentas dunia dengan berpijak pada kearifan nasional dan keahlian putra-putri bangsa sendiri.

Puan Maharani Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPR; Ketua Bidang Politik dan Hubungan Antarlembaga DPP PDI-P/ Opini Kompas 25 Oktober 2012

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2018. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim