Situs Kerajaan Kadiri dan Majapahit Memprihatinkan

ilustrasi

Sejumlah peninggalan Kerajaan Kadiri dan Kerajaan Majapahit, di Kota dan Kabupaten Kediri, sangat memprihatinkan. Peninggalan yang sangat penting bagi bangsa ini termasuk dunia pengetahuan, kini mangkrak tak terawat. Keprihatinan para pemerhati sejarah dan budaya di Kediri ini, diekspersikan lewat pameran sebanyak 110 foto situs dan perlengkapannya.

Foto-foto yang ditampilkan di kantor Perpustakaan dan Arsip Kota Kediri ini, berupa peninggalan sejarah, mulai makam, dimungkinkan bekas kerajaan, tempat punden atau pemujaan dan lainnya. Lewat hadirnya karya foto, mulai situs peninggalan Kerajaan Kadiri hingga Kerajaan Majapahit, komunistas pecinta sejarah ini berharap masyarakat terutama pemerintah terketuk hatinya atau perhatiannya.

“Kami sungguh prihatin dengan kondisi sejumlah situs yang telah ditemukan selama ini. Di antara temuan benda bersejarah ini, sebagian sudah tidak terawat bahkan sama sekali tidak ada perhatian dari instansi terkait,” kata panitia pameran foto, Imam Mubarok.

Karya foto yang ditampilkan, kata dia, diambil dari temuan situs, baik dari wilayah Kabupaten Kediri maupun Kota Kediri. Foto-foto yang dihadirkan, bukan hanya karya fotografer khusus tapi dari warga yang tergabung dalam Komunitas Pelestari Sejarah Kebudayaan Kediri (Pasak). Kemudian dari Club Fotografi Kediri (CFK), serta Komuniats “WongNingRatan” Kediri.

Obyek atau foto yang ditampilkan diantaranya Prasasti Siman (Prasasti Paradah). Situs ini juga disebut masyarakat sebagai Punden MBah Gurit di Desa Siman, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Terdiri dari dua buah prasasti atau peninggalan yang diperkirakan dari masa Mpu Sindok.

Kemudian ditampilkan juga situs tentang cikal bakal dari sejumlah nama daerah di Kediri. Terdapat juga sejumlah makam dari para sesepuh Kediri dan sejumlah kiai yang terkenal asal Kediri. “Rasanya, sayang kalau kami tidak mengangkatnya ke masyarakat jika di Kediri banyak situs dan kondisinya kurang diperhatikan. Padahal ini layak untuk menambah pengetahuan,” ujar Baroq.

Sementara itu, pada 2011 lalu situs Selomangleng lereng Gunung Klotok, Kota Kediri yang ditemukan sekitar sepuluh tahun lalu, kondisinya sempat mangkrak. Instansi terkait, dinilai tidak peduli karena tidak segera melakukan penyelidikan terhadap benda purbakala yang diperkirakan berumur ribuan tahun ini.

Situs berbentuk stupa ini pertama kali ditemukan pada 2002 oleh Trimo, Warga Desa Gringging. Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri saat mendaki Gunung Klotok. Penemuan itu , kata Sumarjan (51), Juru Kunci Gunung Klotok, sudaj dilaporkan ke instasi terkait termasuk ke BP3 Trowulan. “Waktu itu sempat dilihat-lihat tapi kelanjutannya saya tidak tahu. Mereka juga tidak kelihatan datang lagi,” katanya. surabaya post online

Komentar Pembaca

  1. Dengan putarnya waktu massa kan berlalu semua yang wujud pasti ada maksdnya gali dan menggali terus semoga mendapatkan titik temu amin

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim