Kekeringan akan Landa 20.000 Ha Sawah

ilustrasi

Musim kering yang melanda wilayah Jawa Timur (Jatim) telah mengakibatkan sejumlah lahan pertanian mengalami kekeringan. Diperkirakan, kekeringan akan terus terjadi hingga musim penghujan tiba, sekitar akhir Oktober atau awal Nopember 2012.

Data yang masuk ke Dinas Pertanian Jatim hingga pertengahan Agustus 2012 menunjukkan, tercatat kekeringan telah melanda sekitar 13.956,47 hektar sawah. Dengan perincian, yang mengalami puso atau gagal panen mencapai 2.977,49 hektar, kekeringan berat (hanya bisa panen maksimal 25%) mencapai 1.961,69 hektar, kekeringan sedang (bisa panen maksimal 50%) seluas 3.429,10 hektar dan yang mengalami kekeringan ringan (bisa panen maksimal 75%) mencapai 5.588,19 hektar.

“Kalau sampai akhir Oktober atau awal Nopember, kami perkirakan maksimal ada penambahan lahan kering sekitar 6.000 hingga 7.000 hektar lagi, jadi mungkin lahan pertanian yang mengalami kekeringan sepanjang musim kering kali ini akan mencapai sekitar 20.000 hektar,” ujar Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Jatim, Achmad Nurfalakhi, Surabaya, Kamis (6/9/2012).

Dari total wilayah yang sudah dilanda kekeringan tersebut, terluas berada di Bojonegoro sebanyak 5.410 hektar disusul Lamongan seluas 2.226 hektar, Tulungagung seluas 2.102 hektar, Trenggalek 1.470 hektar dan Ngawi seluas 948 hektar.

“Kalau yang mengalami puso, terluas masih di Bojonegoro yang mencapai 1.746 hektar, kemudian Tulungagung 491,5 hektar dan Ngawi 233 hektar,” ujarnya.

Kondisi di Bojonegoro ini disebabkan sistem pengairan disana tidak begitu bagus karena aliran air berasal dari waduk Pacal dan Bengawan Solo. Nah, Bengawan Solo ini kan alirannya dari provinsi lain, jadi kewenangannya tidak pada Jatim, sehingga lebih sulit untuk mengatur. Beda dengan sungai Berantas yang dari hulu hingga hilir kewenangannya di tangan Jatim.

Adapun luas lahan yang terkena kekeringan tersebut menurut Nur, jauh lebih kecil dibanding dengan berbagai provinsi lain. Hal ini disebabkan Pemprov Jatim telah melakukan sekolah lapang iklim dengan memberikan pengetahuan kepada petani terkait potensi air dan menjelaskan kepada mereka bahwa musim kemarau kali ini cukup tegas dan jelas. Dari langkah ini, maka petani banyak yang beralih menanam palawija seperti kedelai dan jagung dan tidak memaksakan diri menanam padi.

“Selain mengurangi tingkat kekeringan dan kerugian, peralihan tanam ke palawija ini juga akan memutus mata rantai makanan bagi hama organisme pengganggu tumbuhan,” terangnya.

Nur juga menjelaskan bahawa luas lahan yang terkena kekeringan tersebut hanya mencapai 0,06% dari total lahan padi di wilayah Jatim selama setahun. Sehingga kondisi ini dipastikan tidak akan mengganggu target produksi padi di tahun ini.

“Agar puso tidak meluas, kami telah melakukan antisipasi dengan menyediakan pinjaman sebanyak 50 unit pompa air untuk lahan yang mengalami kekeringan berat, sedang dan ringan yang masih tersedia air,” tegasnya. kabarbisnis.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim