Jatim Miliki Potensi Shale Gas Besar

ilustrasi: en.wikipedia.org

Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) Perwakilan Jawa, Bali dan Nusatenggara, Elan Budiantoro memprediksikan bahwa potensi shale gas atau kandngan gas nonkenvensional di wilayah Jawa Timur (Jatim) cukup besar.

Keyakinan tersebut dengan melihat realita besarnya potensi minyak dan gas yang dihasilkan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di berbagai blok migas yang sudah melakukan eksploitasi, seperti di lapangan Banyu Urip dan Jimbaran.

Menurutnya, di setiap daerah yang sudah menghasilkan migas melalui eksploitasi dengan sistem konvensional, dipastikan juga memiliki potensi shale gas. Karena sebenarnya minyak dan gas yang berhasil dieksploitasi secara konvensional saat ini merupakan minyak dan gas yang berhasil keluar melalui jalur migrasi keperangkapnya. Sementara masih ada gas yang tertinggal dalam cekungan atau tempat dihasilkannya minyak dan gas (kitchen). Dan shale gas sebenarnya adalah mencari gas atau minyak disumbernya, atau di dapurnya.

“Mulai dari Blora Cepu hingga Surabaya, di lapisan bawah tanah ada yang namanya tinggian dan dalaman, arahnya dari Barat daya hingga timur laut. Di daerah tinggian inilah yang sudah dilakukan eksploitasi migas dengan cara konvensional, sementara di dalaman, di kitchen-nya masih tertinggal gas yang tidak bisa bermigrasi,” jelas Elan Budiantoro saat acara Buka Bersama dengan wartawan Jatim.

Dijelaskannya, maksimal jarak minyak dan gas bermigrasi ke samping, yakni dari dalam ke tinggian, mencapai 8 kilometer hingga 20 kilometer. Sementara yang berhasil bermigrasi biasanya hanya dikisaran 1/3 dari potensi yang ada. Sementara 2/3-nya masih tertinggal. “Jadi perkiraan saya, potensi shale gas dan shale oil yang ada jauh lebih besar dibanding potensi migas yang berhasil dieksploitasi secara konvensional,” tegasnya.

Namun karena sejauh ini masih belum ada perusahaan yang melakukan penelitian dan uji seismik terkait potensi shale gas di Jatim, maka potensinya masih belum kelihatan.

“Kalau secara resmi ditenderkan memang masih belum ada, namun ada beberapa perusahaan migas besar yang memang berkonsentrasi mencari migas dengan cara unconvensional yang sudah menunjukkan minatnya,” ujarnya.

Hingga saat ini, sekitar dua perusahaan yang sudah melakukan perbincangan dengan BP Migas. Yang pertama adalah perusahaan yang saat ini sedang melakukan eksporarasi shale gas di Kalimantan, Bukit Energi, dan yang kedua adalah perusahaan internasional yang bergerak di bidang penelitian migas, CoreLab.

“Keduanya sudah melakukan kontak telphone dengan saya. Dan menyatakan minatnya untuk melakukan eksporasi dan uji siesmik. Namun kebijakannya tetap di pemerintah karena BP Migas tidak berwenang untuk menentukan itu,” tegasnya.

Sementara hingga saat ini, potensi shale gas yang sudah terdeteksi berada diwilayah Sumatra Utara, Sumatra Tengah dan Sumatra Selatan. “Saya yakin, kalau ini berhasil, produksinya akan jauh lebih besar dibanding yang berhasil digali saat ini. Dan pastinya, ini akan mencukupi seluruh kebutuhan gas di Jatim yang hingga kini defisitnya masih cukup besar,” tegasnya. kabarbisnis.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim