HR Mohamad Diusulkan Masuk Pahlawan Nasional

ilustrasi:surabaya post online

Jasa pejuang kemerdekaan, HR Mohamad tidak diragukan lagi oleh rekan seperjuangannya dan juga masyarakat Indonesia masa kini. Nama tokoh yang satu ini juga sudah banyak diabadikan di kota-kota besar di Indonesia sebagai nama jalan, termasuk di Surabaya. Namun tidak ada yang menyangka bahwa dia belum tercatat sebagai Pahlawan Nasional.

Kabar terakhir, usulan pengajuan HR Mohamad sebagai salah satu Pahlawan Nasional oleh Pemkot Surabaya sudah masuk ke Gubernur Jatim Soekarwo. Targetnya, sebelum 10 November 2012 saat peringatan Hari Pahlawan ke-67, HR Mohamad sudah diakui sebagai Pahlawan Nasional. “Ya, seperti itulah kondisinya. Kami terharu dan bangga meski sebenarnya terlambat,” ujar Prof. Dr Indroyono Soesilo, salah satu cucu HR Mohamad.

Namun, tambahnya, bagi keluarga besar HR Mohamad tidak mempermasalahkan kapan penokohan nasional itu harus ditetapkan. “Wong berjuang kok diomong-omongno (Orang berjuang kok disiar-siarkan, Red). Kan, berjuang untuk rakyat dan bangsa tidak perlu diomongkan,” ungkapnya.

Meski demikian, pihak keluarga menyambut positif atas usulan gelar Pahlawan Nasional pada HR Mohamad. Pihak keluarga menyatakan banyak terima kasih atas usulan warga Surabaya, karena masih ingat dengan ketokohan HR Mohamad. Selama ini, katanya, kakeknya memang memiliki andil besar dalam setiap pertempuran di Surabaya, terutama pada peperangan melawan sekutu antara Oktober hingga 10 November 1945. Di mana saat itu sang jendral Mallaby, pemimpin tentara sekutu tewas.

Ada enam orang, katanya, yang memiliki peran besar dalam pertempuran di Surabaya. Keenam orang itu terlihat dalam ukiran patung yang ada di musium 10 November yang salah satunya adalah Bung Karno dan HR Mohamad. “Namun, pengajuan ini harus objektif, semua jejak sejarah sudah diketahui. Ada beberapa bukti peran besar yang dilakukan kakek kami HR Mohamad dalam sejarah kemerdekaan di Surabaya,” ujarnya.

Mengenai koleksi pribadi HR Mohamad sebagai dokumen sejarah dan keluarga, pihak keluarga sudah sepakat untuk memberikan ke pemerintah. Adanya koleksi itu, ujarnya, biar bisa dikenang dan diketahui semua warga Surabaya untuk melihat langsung rekam jejak perjuangan HR Mohamad. “Ini juga biar jadi pancingan bagi keluarga pahlawan lainnya. Nantinya biar museum 10 November Tugu Pahlawan banyak koleksi pribadi para pejuang bangsanya,” jelasnya.

Menurutnya, sepak terjang HR Mohamad sendiri cukup unik dalam sejarah bangsa Indonesia. Berangkat dengan pribadi yang dikenal tegas, dia pernah menjabat sebagai bendahara Badan Keamanan Rakyat (BKR). Selanjutnya oleh Bung Karno (Presiden RI pertama) diangkat sebagai Kepala Tentara Keamanan Rakyat (TKR) urusan darat Jatim. Pernah juga menjadi Bupati Ponorogo dan diakhir karirnya menjadi ketua MPR tertua sebelum meninggal pada 13 Desember 1988.

Sedangkan koleksi-koleksi pribadi milik pejuang angkatan 45 itu yang diserahkan ke Pemerintah Kota Surabaya untuk dipamerkan di Museum 10 November Tugu Pahlawan di antaranya beruapa seragam militer, bintang-bintang jasa, pedang samurai, dan sejumlah foto perjuangannya.

Penyerahan koleksi foto ini oleh keluarga dimaksud agar nilai-nilai perjuangan HR Mohamad bisa direproduksi ke generasi muda. Selain itu, juga sebagai upaya mendorong diakuinya HR Mohamad sebagai Pahlawan Nasional. Mengingat perannya begitu sentral dalam pertempuran 10 November 1945 bersama Drg. Moestopo dan Bung Tomo yang sudah lebih dulu diakui sebagai Pahlawan Nasional.

Prof. Dr. Indroyono Soesilo, yang putra dari Jendral (Purn) Soesilo Sudarman –mantan Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi era Orde Baru– itu mengatakan setidaknya ada 5 episode dalam pertempuran 10 November 1945 yang menyebut nama Jenderal Mayor Badan Keamanan rakyat (BKR) HR Mohamad dalam peran sentral.

Menurut Indroyono, sebelumnya Dewan Harian Daerah (DHD) 45 Jawa Timur sudah mengusulkan HR Mohamad sebagai Pahlawan Nasional pada pemerintah. Bahkan sudah digelar seminar melibatkan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan hasilnya, tidak ada keraguan tentang peran sentral HR Mohamad dalam pertempuran 10 November 1945 yang melegenda itu.

Kenapa pengakuan HR Mohamad sebagai Pahlawan Nasional begitu terlambat dibandingkan tokoh-tokoh lain seangkatannya, kata Sekretaris Kemenkokesra itu, karena kakeknya tipe pejuang yang tidak suka jasanya ditonjolkan.

Hingga wafat dalam usia 84 tahun pada 1988 lalu, HR Mohamad menerima Bintang Mahaputera Pratama dari Presiden Soeharto pada tahun 1986, Bintang Gerilya dari Presiden Soekarno tahun 1958, dan 10 Satya Lencana. Namanya juga diabadikan di Surabaya sebagai nama jalan di kawasan Surabaya Barat. Sementara patungnya juga berdiri di Buduran, Sidoarjo karena HR Mohamad pernah jadi Daidanco (komandan) PETA Sidoarjo pada era penjajahan Jepang

Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang mengusulkan nama HR Mohamad Mangoendrprodjo sebagai Pahlawan Nasional sempat heran, kenapa baru sekarang diusulkan. Pihaknya berharap pemerintah pusat bisa merealisasikan pejuang Surabaya itu pada 10 November mendatang yang bertepatan dengan Hari Pahlawan. “Ini momentum yang bersejarah, saya terharu setelah mendengar semua sepak terjang HR Mohamad dalam sejarah perjuangan di Surabaya,” ujar Risma. surabayapost online

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim