Pengusaha Jepang Keluhkan Infrastruktur

ilustrasi

Jepang terus melebarkan sayapnya di Jawa Timur. Sebanyak 17 pengusaha asal Kobe, Jepang, kemarin mendatangi kantor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim, menawarkan proyek kerjasama antar ke dua wilayah (sister city).
Ketujuh belas pengusaha tersebut bergerak di sektor migas, manufaktur, makanan dan minuman, kontraktor, industri tekstil, pertanian, elektronik, otomotif, mesin, industri kimia, dan karet serta fashion.

Wakil Ketua Kadin Kobe Jepang, Shoichi Atarashi, melalui seorang penerjemah mengatakan, sebagai pintu gerbang Indonesia Timur dan kondisi perekonomian Jatim yang kondusif serta melebihi rata-rata nasional, Kadin Kobe tertarik untuk melakukan investasi di Jatim. Namun upaya itu harus dibarengi dengan proyek infrastruktur yang lebih baik.

“Infrastruktur yang baik mendukung terbentuknya iklim investasi yang bagus. Jatim suasana keamanannya kondusif, dan kami mencoba menjajaki investasi di sini di beberapa sektor,” katanya, Rabu (14/3).

Salah satu industri yang menarik minat pengusaha Jepang adalah industri makanan dan minuman. Menurut Wakil Ketua Umum Bidang Organsasi dan Keanggotaan Kadin Jatim, Deddy Suhajadi, keberadaan industri Jepang di Jawa Timur selama ini banyak mendukung perkonomian Jatim. “Mereka bergerak di sektor industri mesin, elektronik, alas kaki, alat musik, dan beberapa bidang. Tapi sebagian besar produksi mereka diekspor,” jelasnya saat mendampingi para pengusaha Jepang di kantornya.

Deddy mengajak para pengusaha Jepang agar tidak hanya bergerak di sektor-sektor produksi, melainkan bisa ke infrastruktur. “Kami menawarkan ke mereka agar bisa investasi di sektor infrastruktur, seperti pelabuhan, perluasan jalan, dan transportasi,”ungkapnya.

Dengan perbaikan infrastruktur masuknya investasi di pelabuhan, maka selama ini kapal-kapal besar bisa bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak. “Kapal besar bersandar di Singapura dan tidak bisa di Pelabuhan Tanjung Perak karena lautnya dangkal. Karena itu kami tawarkan ke mereka agar berinvestasi di sektor Pelabuhan,”ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Ketua Single Window East Java-Japan Club, Nelson Sembiring menambahkan, para pengusaha Jepang yang tergabung dalam East Jawa-Japan Club banyak mengeluhkan infrastruktur yang ada di Jatim. East Java-Japan Club merupakan perhimpunan perusahaan Jepang dan jabatan direktur berasal dari Jepang. “Pengusaha Jepang di Jatim mengadu ke kami tentang kekurangan gas, tenaga kerja, energi, dan arus lalu lintas,” tuturnya.

Dari tenaga kerja, menurut dia, banyak tenaga kerja dari Indonesia yang tidak qualified dimasukkan ke perusahaan Jepang. Selain itu, pengusaha Jepang mengeluhkan kemacetan jalan arteri porong banyak menghambat arus distribusi barang. “Arteri Porong belum bisa menyelesaikan kemacetan. Dan hal yang paling mereka takuti adalah masuknya politik ke dunia usaha,” tandasnya.

Terkait kerjasama yang ditawarkan ke pengusaha Jawa Timur, Nelson mengemukakan bidang-bidang yang dibawa oleh pengusaha Jatim adalah bidang distribusi dan ritel. Sementara, Jawa Timur mempunyai kesempatan untuk melakukan kerjasama dalam hal pengelolaan sampah.

“Pengelolaan sampah di Jepang sangat bagus. Kalau Jepang bisa investasi dalam bidang pengelolaan sampah, saya rasa Jatim akan menjadi Provinsi yang luar biasa,”ujarnya.

Sementara dari data BPS Jatim menyebutkan, ekspor Jepang ke Jawa Timur pada Januari 2012 sebesar USD 279,38 juta (Rp2,51 triliun), turun dari bulan sebelumnya yang mencapai USD 239,97 juta 9RP2,15 triliun). Sedangkan nilai impornya selama Januari 2012 mencapai USD 73,98 juta (Rp665,8 miliar). surabayapost online

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2020. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim