Proyek Ratusan Milyar Dikeluhkan Nelayan

ilustrasi: kompas.com

Pengerjaan proyek Minapolitan yang berada di Pelabuhan pendaratan ikan, tepatnya di Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, dikeluhkan para nelayan setempat.

Karena mega proyek tersebut, nelayan Muncar terpaksa menunggu air laut pasang untuk melakukan bongkar muat hasil tangkapan, lantaran dermaga yang digunakan untuk bersandarnya kapal mengalami pendangkalan. Nelayan yang menggunakan kapal ukuran besar (slerek) terpaksa mengantri berjam-jam untuk bisa masuk ke dermaga.

Proyek Minapolitan membuat dermaga pendaratan ikan di Pelabuhan Muncar hanya bisa disinggahi puluhan kapal slerek saja. Padahal sebelumnya, ratusan kapal slerek biasa bersandar bersamaan di dermaga tersebut.

Imbas dari pendangkalan dermaga yang diduga akibat pengerjaan pengurukan proyek perikanan pantai ini, juga menimbulkan pertengkaran antar nelayan. Pasalnya, tidak sedikit kapal yang akan masuk ke dermaga mengalami tabrakan lantaran saling berebut untuk memasuki pintu dermaga.

Dari pantauan Kompas.com di pelabuhan Muncar, para nelayan memilih menambatkan kapalnya jauh di luar dermaga pelabuhan. Mereka takut kapalnya kandas bila dibawa masuk ke pelabuhan.

Keluhan atas kondisi ini disampaikan antara lain oleh Jatmiko salah satu pemilik kapal slerek. Menurutnya, sejak adanya proyek Minapolitan di pelabuhan Muncar, aktivitas nelayan setempat sedikit mengalami hambatan, terutama bagi nelayan yang memiliki kapal yang berukuran besar.

“Sebelumnya ratusan kapal slerek bersandar di dermaga ini, tapi sekarang nelayan lebih memilih menambatkan kapalnya di luar dermaga karena takut kandas” ungkap Jatmiko, Minggu.

Hal serupa juga di sampaikan oleh Muncar Diskusi Club (MDC) salah satu lembaga independen yang ikut memantau pengerjaan proyek Minapolitan. Menurut salah satu anggota MDC yang namanya tidak mau dipublikasikan, pengerjaan proyek yang menelan anggaran ratusan milyar tersebut juga banyak merugikan warga sekitar pelabuhan.

Sejak adanya mega proyek tersebut, jalan raya yang dilalui truk pengangkut material mengalami kerusakan yang cukup parah. Saat turun hujan, jalan raya beraspal berubah menjadi jalan berlumpur yang licin. Akibatnya, arus perekonomian menjadi terganggu.

Sementara itu, Kardani selaku Kepala Dinas Kelautan Propinsi Jatim yang bertanggung jawab atas mega proyek tersebut saat dihubungi melalui ponselnya menjelaskan bahwa pendangkalan dermaga pelabuhan sementara belum bisa diatasi karena belum ada anggaran. “Bagaimana kita mau mengerjakan kalau dana dari pemerintah belum cair?” kata Kardani. kompas.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2019. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim