Jembatan Layang Pasar Kembang Surabaya Dilanjutkan

ilusrasi: kompas.com

Hampir 10 bulan terbengkalai, proyek pembangunan jembatan layang (fly over) Pasar Kembang, Surabaya, Jawa Timur, dilanjutkan. Penghentian proyek karena sengketa lahan dengan PT KAI Daerah Operasi VIII.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Proyek Pembangunan Fly Over Pasar Kembang, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) V Kementerian Pekerjaan Umum, Sodeli, di Surabaya, mengatakan, proyek dilanjutkan setelah ada kesepakatan antara Ditjen Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum, dan PT KAI soal pemanfaatan lahan melalui sewa lahan.

Kesepakatannya, Kementerian PU menyewa lahan PT KAI selama tiga tahun terhitung sejak 2012. Namun, pada tahun ketiga, dilakukan pemrosesan pengalihan aset dari PT KAI ke Kementerian PU. Jika pada tahun ketiga pengalihan aset tidak selesai, PU kembali memperpanjang sewa lahan hingga proses pengalihan aset selesai, katanya.

Akibat sengketa lahan, kata Sodeli, proyek terhenti hampir 10 bulan sehingga anggaran pembangunan yang telah dialokasikan pada 2011 tidak terserap dan dikembalikan ke kas negara. Tahun 2012 pemerintah kembali mengalokasikan anggaran Rp 40 miliar dan kekurangan sekitar Rp 80 miliar yang dialokasikan pada tahun anggaran 2013.

Pembangunan jembatan digarap selama dua tahun anggaran dan multiyears. Total dana yang dibutuhkan mencapai Rp 122 ,9 miliar dan seluruhnya bersumber dari APBN.

Keberatan PT KAI Daop VIII adalah karena proyek berdiri di atas lahan eks jalur rel trem aset PT KAI. Jaringan eks jalur rel trem dibangun pada masa kolonial Belanda sekitar tahun 1920 dan dibongkar tahun 1970. Jaringan eks rel trem itu dibangun mulai Jembatan Merah ke sejumlah daerah.

Dimulainya proyek pembangunan jembatan layang otomatis membuat ruas Jalan Diponegoro hingga Pasar Kembang rawan macet. Pemicunya, penyempitan jalan serta hilir mudik kendaraan proyek. Guna mengantisipasi kemacetan, pelaksana proyek telah memasang sejumlah rambu-rambu agar pengendara memilih jalur alternatif, seperti melintasi Jalan Darmo atau jalan tol.

Sodeli mengimbau pengemudi kendaraan besar, seperti truk dan kontainer, agar memilih melintasi jalan tol khususnya siang hari. Puncak kerja proyek pada April, yakni melakukan pengecoran, katanya. Jembatan layang ini nantinya akan mengurai kemacetan di sekitar pertigaan Pasar Kembang-Diponegoro. Selain itu, juga untuk mengurai arus kendaraan dari Jalan Pandegiling. kompas.com

Tulis Komentar

Silahkan isi nama, email serta komentar Anda. Namun demikian Anda tidak perlu khawatir, email Anda tidak akan dipublikasikan. Harap gunakan bahasa atau kata-kata yang santun. Terima kasih atas partisipasi Anda.





© Copyright 2018. Bappeda Provinsi Jawa Timur. Kembali ke atas | Kontak Kami | RSS Feed
Created & Design by IT Support Bappeda Jatim